Senin, 15 September 2014

Jangan Keliru Memantaskan Diri

0 komentar
Salah satu ujian iman tertinggi adalah ketika diri tak menyadari.. posisi tertinggi hati, tak lagi Allah yang menghuni.Terkelabui oleh cinta yang katanya sejati, padahal hakikat kehadirannya hanya untuk menguji.
Bersibuk memantaskan diri karena jodoh, bukan lagi karena Allah.
Terbakar semangat menikah, tanpa menyadari niat berbelok, tak lagi untuk ibadah. Mulai gelisah menapaki pencarian, mengabaikan penguatan ketaatan dalam kesendirian.
Padahal ketahuilah.. episode ‘sendiri’ itu Allah berikan sebagai sebuah kesempatan untuk mengeksplorasi kehidupan. Episode ‘sendiri’ juga merupakan kesempatan untuk memupuk ketaatan, sebagai bekal persiapan pulang. Ia bukanlah sebuah kutukan, sehingga dianggap pantas sebagai cibiran. Bukan.
Tenang saja.. kalem.. santai.. semua sudah diatur. Diatur dengan sebaik-baiknya, dengan setepat-tepatnya.
Tak perlu gelisah, khawatir jadi salah arah. Tak perlu buru-buru, khawatir jalan tempuhnya keliru.
Jangan terbawa arus, meski di luar sana banyak sekali ‘kompor’ yang nyaris membuat hangus. Santai saja. Lagipula mereka di luar sana belum tentu ikut bertanggungjawab apabila diri salah niat. Kuatkan hati, sambil berbenah diri.
Tapi hati-hati. Jangan bersibuk memantaskan diri karena jodoh, bukan lagi karena Allah.
Sebab jika tujuannya demikian, sesungguhnya kita telah membatasi karunia Allah tanpa sadar. Jika Allah ridho, karunia yang diberikan-Nya bisa jauh lebih luas dari itu. Berbenahlah dengan ikhlas, demi menggapai kemuliaan dan kehidupan terbaik, dunia serta akhirat.
Ingatlah, kita akan diuji oleh sesuatu yang benar-benar kita cintai. Bisa jadi sebab Allah cemburu, hamba yang pada mulanya begitu mencintai-Nya, sedang lupa dan lalai tanpa sadar.
Maka doaku, doamu, dan doa siapapun yang setuju..
Berharap diri tak keliru menyandarkan harapan, pada yang tak seharusnya.
Berharap hati tak dilabuhkan, pada tempat yang tak semestinya.
Berharap Allah menggenggam segala rasa, yang tak perlu tercurah.. bila belum saatnya.
Andai pun kelak dipertemukan, berharap kecintaan kepadanya, tak lebih tinggi dari kecintaan kepada-Nya. Sebab jika Allah tidak ridho, tentu tak sulit bagi-Nya mengambil kembali, apapun yang kita rasa sudah dimiliki. Maka, undang keridhoan-Nya, dengan tetap menempatkan Illahi Rabbi.. di posisi tertinggi hati.
Jangan keliru atas hakikat memantaskan diri.
- Febrianti Almeera


Mereka...yang menginspirasiku :')

0 komentar
Sedang mempelajari karakter org2 disekitar yang dekat denganku.
Ternyata setiap orang punya kelebihan masing2 yg tentu saja bisa kucontek, mereka mempunyai ahlaq yg baik, ahli shaum, ahli sedekah, pembelajar sejati, dan dan berbagai karakter baik lainnya yg membuatku kagum.
Ukhti A, dia tuh rajin shaum, shaum sunnah apapun dia kerjain, yg buat aku takjub, kalo aku kan lagi shaum tuh keliatan banget 5L nya (Lemes, lemah, letih, lesu, lunglai -_-), udah gitu suka ngantuk, kalo dia tu yah...kalo lagi shaum ga kaya org shaum, badan nya seger buger, keren banget dah, ga ngantukan lagi, hwaaa....heyyy ukhti ini manusia atau alien?
Kalo alien, titip salam dong buat Do min joon :') kapan gitu main film lagi??#ehhh :D
Ukhti B, umurnya diatasku, suka kupanggil teteh, beliau tuh rajin pisan mbaca, heuuu keren banget lah semangat mbaca nya, satu buku bisa abis 1 jam aja dilahap...tentunya dengan tingkat ketebalan sedang.
Koleksi bukunya pun buanyaaak, kulihat diraknya bukunya tebel2 bro..ckck
Beliau pernah bercerita, kalo bawa uang ke pameran buku jangan bawa uang banyak2, ntar diabisin buat beli buku semua, juga punya prinsip gini "biarin makan pake apa juga asalkan beli buku", hwaaa... teteh 
Selain itu beliau juga pembelajar sejati, sering kudengarkan kisah2nya yg sarat hikmah.
Ukhti C, kupanggil teteh juga, beliau ini ahli sedekah, punya makanan apapun pasti dibagiin sama temennya, panjang tangan banget. Baik banget nget
Ukhti D, kupanggil teteh (lagi), beliau ini punya hati yg cantik, hatinya lebih cantik daripada fisiknya, luar biasa baik, sabar dan ahli sedekah.
Ukhti E, Allah sering banget negur aku lewat ukhti ini, lewat dia aku banyak belajar, sahabat yang baik, sangat sangat memahami aku, love you because Allah ukhti 
Alhamdulillah...Allah menghadirkan bidadari2 dunia ini disampingku, Rabb...aku mencintai mereka karena-Mu 

First time be Shop Keeper :D

0 komentar
Bedanya ibu2 indonesia ama ibu2 malaysia kalo lagi belanja itu...
Ibu2 malaysia : Neng, mau gamis yg ini ukuran L ada? (Udah dicariin, dibuka bungkus plastiknya, dicobain, suka) Dibaca 3x
Akhirnya jadi beli 3 stel dengan warna dan model berbeda.

Ibu2 indonesia: Neng gamis yg ini ada ukuran M nya ga? (Udah dicariin, dibuka bungkus plastiknya, dicobain, ga di lipet seperti semula). Neng kok modelnya beda ya ama yg ukuran S? Ibu resep yg ini modelnya (nunjuk ukuran S). Eh neng ada warna lain ga? Ibu ga suka nih warnanya tua, suka yg cerah (udah dicariin, dibuka bungkus plastiknya, dicobain, ga dilipet lagi). Sampe berkali2 kayak gitu. Katanya ga ada yg sesuai selera ukuran, model dan warnanya. Akhirnya ga jadi beli.
Jadi inget konsep permintaan dalam ilmu ekonomi, kalo berdasarkan daya belinya, ibu2 indonesia hanya sampai pada permintaan potensial, daya beli sih punya, uang sih ada, buktinya berani ketoko. Cuman belum melakukan transaksi yakni masih mempertimbangkan transaksinya krn baju nya ga sesuai selera (atau karena ngeliat bandrolnya? Hehe Allahu a'lam).
Jadi we ga jadi beli, tapi tau ga sih bu, itu tuh mendzolimi si enengnya, harus ngelipetin gamis banyak pisan (da aku mah apa atuh ._. )

Sedangkan ibu2 malaysia termasuk permintaan efektif, karena daya beli punya, dan sudah melakukan pembelian.
Ternyataaaa....konsep ekonomi dilapangan itu... permintaan potensial bener2 ngerepotin penjual!
Ckckck


Rabu, 03 September 2014

Impian Besar Setiap Muslimah

0 komentar

"Impian Besar" setiap perempuan pasti ingin melahirkan anak-anak yang hebat, hebat baik dari segi duniawi maupun akhiratnya, ada yg ingin kelak anak-anaknya itu para penghafal Al-qur'an, menjadi ilmuwan, menjadi saintis, menjadi ulama besar layaknya imam syafii, atau seperti Sang panglima penakluk konstatinopel Muhammad Al-Fatih.

atau kalau itu semua terlalu muluk, bolehlah...paling tidak menjadi anak yang membanggakan (akademik maupun non-akademiknya), anak yang sholeh yang berbakti kepada kedua orang tuanya.

Semua itu bisa menjadi kenyataan, asalkan kita mempunyai partner hidup (suami) yang sejalan, se-visi-misi dengan impian besar kita.

Dan semua itu takkan terjadi jika kita cuma jadi orang yang biasa-biasa saja, tidak memperbaiki diri, tidak menjadi pribadi yang sholehah, tidak mendidik diri kita dengan didikan luar biasa sebagai pencetak peradaban.
Bukankah Allah telah berjanji dalam Al-Qur'an surah An-Nuur ayat 23 :
"....sedangkan wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yg baik, dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik (pula). ..."

Begitulah saudariku, tentu aku dan kamu juga ingin jadi pencetak peradaban gemilang kan?
Ditangan kitalah semua itu bisa terwujud.

Aku kutipkan sebuah kata mutiara favoritku sebagai motivasi
"Aku mendidik diriku sendiri, karena aku ingin mendidikmu, jauh sebelum engkau dilahirkan (Risca Rusyanawaty)"

:

Semoga......semoga melalui tangan-tangan kitalah peradaban islam kembali gemilang, menjadi ibu pendidik peradaban.



 

Meninggalkan Jejak Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template