Salah satu ujian iman tertinggi adalah
ketika diri tak menyadari.. posisi tertinggi hati, tak lagi Allah yang
menghuni.Terkelabui oleh cinta yang katanya sejati, padahal hakikat
kehadirannya hanya untuk menguji.
Bersibuk memantaskan diri karena jodoh,
bukan lagi karena Allah.
Terbakar semangat menikah, tanpa menyadari
niat berbelok, tak lagi untuk ibadah. Mulai gelisah menapaki pencarian,
mengabaikan penguatan ketaatan dalam kesendirian.
Padahal ketahuilah.. episode ‘sendiri’ itu
Allah berikan sebagai sebuah kesempatan untuk mengeksplorasi kehidupan. Episode
‘sendiri’ juga merupakan kesempatan untuk memupuk ketaatan, sebagai bekal
persiapan pulang. Ia bukanlah sebuah kutukan, sehingga dianggap pantas sebagai
cibiran. Bukan.
Tenang saja.. kalem.. santai.. semua sudah
diatur. Diatur dengan sebaik-baiknya, dengan setepat-tepatnya.
Tak perlu gelisah, khawatir jadi salah
arah. Tak perlu buru-buru, khawatir jalan tempuhnya keliru.
Jangan terbawa arus, meski di luar sana banyak
sekali ‘kompor’ yang nyaris membuat hangus. Santai saja. Lagipula mereka di
luar sana belum tentu ikut bertanggungjawab apabila diri salah niat. Kuatkan
hati, sambil berbenah diri.
Tapi hati-hati. Jangan bersibuk
memantaskan diri karena jodoh, bukan lagi karena Allah.
Sebab jika tujuannya demikian,
sesungguhnya kita telah membatasi karunia Allah tanpa sadar. Jika Allah ridho,
karunia yang diberikan-Nya bisa jauh lebih luas dari itu. Berbenahlah dengan
ikhlas, demi menggapai kemuliaan dan kehidupan terbaik, dunia serta akhirat.
Ingatlah, kita akan diuji oleh sesuatu
yang benar-benar kita cintai. Bisa jadi sebab Allah cemburu, hamba yang pada
mulanya begitu mencintai-Nya, sedang lupa dan lalai tanpa sadar.
Maka doaku, doamu, dan doa siapapun yang
setuju..
Berharap diri tak keliru menyandarkan
harapan, pada yang tak seharusnya.
Berharap hati tak dilabuhkan, pada tempat
yang tak semestinya.
Berharap Allah menggenggam segala rasa,
yang tak perlu tercurah.. bila belum saatnya.
Andai pun kelak dipertemukan, berharap
kecintaan kepadanya, tak lebih tinggi dari kecintaan kepada-Nya. Sebab jika
Allah tidak ridho, tentu tak sulit bagi-Nya mengambil kembali, apapun yang kita
rasa sudah dimiliki. Maka, undang keridhoan-Nya, dengan tetap menempatkan
Illahi Rabbi.. di posisi tertinggi hati.
Jangan keliru atas hakikat memantaskan
diri.
- Febrianti Almeera

