Bulan oktober lalu, aku beserta kedua temanku (Dini & Billi)
diminta untuk mengisi pelatihan olimpiade ekonomi, untuk sementara di dua
sekolah negeri di Indramayu, SMAN 1 Sindang dan SMAN 1 Losarang. Kebetulan aku
mendapat mandat untuk mengisi di SMAN 1 Sindang dan kedua temanku di SMAN 1
losarang.
Siapa yang tak mengenal SMAN 1 Sindang (SASI)? Ahhh sepertinya
tidak ada jika kalian pernah tinggal dikota ini. Bagaimana tidak? Sekolah ini adalah sekolah favorite yang menjadi barometer pendidikan di Indramayu (Mantan RSBI), jadi pasti famous ditelinga.
Tapi memang prestasi olimpiade (khususnya ekonomi) masih kalah dengan
sekolah almamater kami (SMA NU Widasari), gegara pernah dua kali mewakili OSN
ekonomi tingkat Nasional, sekolah kami sedikit dikenal dan untuk saat ini belum
terkalahkan (di Indramayu khususnya), bahkan tahun 2014 lalu tiga perwakilan
dari Indramayu utk OSP ekonomi dibabat habis dari sekolah almamater kami.
Dan sebab alasan itulah Mr. X ini menawarkan pekerjaan ini
kepada kami, karena kami pernah ikut tempur dalam arena OSN beberapa tahun yg
lalu.
Seumur-umur aku baru pertama kali masuk ke sekolah ini (SASI),
secara dhohir (fisik) sekolah ini tak kalah dibandingkan sekolah2 negeri di
Bandung yg pernah aku kunjungi, juga tak kalah keren dengan SMAN 11 Bandung
tempatku mengajar PPL dulu; bagus, modern, ber-AC, dan segala fasilitas
lainnya. Tetapi yg aku kagumi, anak2nya santun dan menghormati guru, hal
yg agak berbeda dengan siswa di beberapa sekolah negeri di Bandung (yg pernah
aku kunjungi tentunya).
Satu kelas ekonomi ini ada sekitar 13 orang, terdiri dari 12 siswa
perempuan dan 1 siswa laki2. Mereka sangat antusias mendengarkan, mencatat dan
mengerjakan soal, walaupun 6 jam full mereka belajar sambil terkantuk tetapi
mereka tetap semangat, daya tangkap mereka bagus dan ya...seperti kata
seseorang dalam statusnya kurang lebih seperti ini "Tak perlu metode
khusus dalam mengajar orang yang sudah punya motivasi belajar" cara yg
paling konvensional sekalipun (ceramah) akan tetap menarik bagi mereka,
walaupun tetap harus ada selingan biar ga bosen.
Karena terkendala waktu, kami belum sempat membahas habis 50
soal OSK Ekonomi, kami sudah harus balik ke Bandung, membawa pengalaman baru
bagiku.
Apa kalian tau? Sekolah2 ini berani membayar sekian juta untuk
mendapatkan pelatihan olimpiade ini.
Sebenernya bukan cuma pelajaran ekonomi, beberapa mata pelajaran
yg diolimpiadekan seperti matematika, fisika, kimia, biologi, komputer, dan
geografi juga masuk dalam pelatihan ini.
Kayaknya cuman di Indonesia semua hal bisa jadi proyek. Dulu
hukum say mengatakan "Supply creates its own demand" sekarang udah
kebalik, "Demand creates its own Supply" karena banyak sekolah yang
ingin berprestasi di olimpiade, sedangkan mempersiapkan anak untuk bisa maju di
olimpiade tak bisa dihandle guru mata pelajaran, maka muncullah lembaga2
pelatihan olimpiade seperti ini, mereka tak segan membayar jutaan rupiah hanya
untuk mendapatkan pelatihan ini.
Tak berbeda dengan lembaga privat atau bimbel yang muncul bak
jamur di musim hujan, itu semua datang dari permintaan dari siswa2 yang ingin
lolos SBMPTN atau masuk sekolah2 favoritenya.
Bandung, 3 November 2015
