Selasa, 05 Januari 2016

7 Pilar Kehidupan

Assalamu’alaikum warahmatullah sahabat? Gimana kabarnya?

Semoga senantiasa dalam lindungan Allah dan selalu dinaungi oleh rahmat-Nya, aamiin

Sebagai postingan pembuka diawal tahun 2016 ini, aku pengen cerita tentang....

Itu judulnya kok gitu sih? Apa maksudnya? Tenang..tenang...itu cuma judul buku kok, salah satu buku yang lagi aku baca sekarang, yang merupakan salah satu target buku yang ingin aku habisi (huh? Sereeem) ditahun ini.

Yap...as you read in the title (bodo amat bener apa kagak english gue :p) judul bukunya “7 Pilar Kehidupan” salah satu buku favorite ku. Sebenernya ga ujug-ujug aja aku bisa punya buku ini, jadi ceritanyaaaa (wah bakalan panjang nih) kan aku pernah ikut SPI, apa itu SPI? SPI itu kepanjangannya Sekolah Pemikiran Islam, yang dipersembahkan oleh anak2 ITEJEH (apa pulak itu?) ITJ itu sejenis spesies langka yang hidup ratusan tahun yang lalu...eh engga deng, bukan itu! Hahaha

ITJ ini sebuah komunitas yang lahir dari Hestek di twitter, kepanjangannya #IndonesiaTanpaJIL yang entah awalnya ditwit sama siapa..bla..bla.. (udah2 stop ga usah melebar kemana2 hei...!)

Ihihihi sorry :p

Oke fokus lagi, intinya pas aku kuliah SPI Moh. Natsir Bandung angkatan pertama (beuh lengkap banget), ngebahas tentang Konsep Manusia dalam Islam, pematerinya itu Kang Hafidz Ary (bisa follow twitternya @hafidz_ary), beliau bahasnya dari buku ini, kece badai....makanya aku penisirin soalnya kang Hafidz itu ngebahasnya juga keren, jadi aja aku pengen baca bukunya langsung, dan emang keren!!!

Sebenernya ini tergolong buku filsafat, kalimatnya agak memusingkan gitu, udah mah terjemahan dari bahasa arab (kayaknya ini mah), jadi aja double pusingnya, hehe tapi Alhamdulillah sejauh ini aku bisa nangkep maksud bukunya apa...iya dong harus!


Ga kerasa ini intronya suangat puanjang suekali...hahaha

Sebelumnya aku mau nanya dulu, tujuan kita hidup didunia ini ngapain sih?

Iyap! 100! Bener banget! (heh! Belum juga dijawab! Wakwakwak)

Ya aku sih husnudzhan aja ama jawaban kalian, pasti bener deh....

Jawabannya ada di Al-Qur’an! Surah apa? Yap! Q.S Adz-Dzaariyaat ayat 56!

BERIBADAH!

Apa itu ibadah?

Kalo kata Syeikh Ratib An-nabulsi dibuku ini, Ibadah adalah ketaatan murni yang bercampur dengan kecintaan hati, fondasinya adalah pengetahuan keyakinan yang mengantar kepada kebahagiaan abadi (Hlm. 89).

Jadi udah tau kan tujuan kita hidup didunia ini untuk apa? Iya kan? Iya dong?
Okesip.

Buku ini tuh terkait erat dengan aspek pengetahuan didalam ibadah, tapi bahasnya dari sudut baru.

Dalam Al-Qur’an kita tau, bahwa manusia ini adalah makhluk yang istimewa, kenapa istimewa? Karena manusia itu diberikan amanah yang berat, yang bahkan Bumi, Langit bahkan Gunung-gunung saja tidak mampu untuk memikulnya. (kamu tau kan ayat yang dimaksud? Kalo ga tau, coba tanya ke Syeikh Google! :p)

Karena dikasih amanah yang berat itu, sudah sepantasnya Allah menciptakan langit dan bumi beserta isinya sebagai fasilitas untuk menunaikan tugasnya.

Nah...jadi, buku ini tuh ngebahas seputar 7 pilar dalam kehidupan (kalo bahasa aku mah fasilitas) yang Allah kasih buat manusia, iya ada tujuh, yang pertama yaitu Alam semesta. Alam semesta adalah semua galaksi, planet, komet, gugusan bintang, langit, bumi berikut apa yang ada didalamnya; Gunung, sungai, ikan, burung, berbagai jenis tanaman tak terbilang, berbagai jenis binatang tak terhitung. Allah menciptakan alam semesta ini dengan dua fungsi penciptaan, yakni Fungsi Pemanfaatan dan Fungsi Pengenalan.

Fungsi pemanfaatan ini berkaitan dengan bagaimana kita memanfaatkan alam semesta untuk kemaslahatan hidup kita, Allah dengan segala kuasa-Nya menundukkan langit dan bumi untuk manusia. Contoh realnya kita tiap hari mengonsumsi udara secara gratis! Bayangin aja kalo setiap udara yang kita hirup itu berbayar, bisa abis kita, ga mengonsumsi apapun selain udara kita bisa tekor banget, ga punya apa2...jangankan rumah, makanan pun ga bisa, uang kita juga ga akan cukup buat beli udara yang kita konsumsi tiap detik menit jam. Betapa Allah maha pemurah ya! Itu baru udara, pikirin aja nikmat yang lain. Ga akan kehitung nikmat dari Allah itu. Yakin!

Sedangkan fungsi pengenalan, berkaitan dengan bagaimana Alam semesta ini menjadi jembatan kita mengenal Allah, melalui ciptaan-Nya kita mengenal Sang Pencipta. Bukan hanya manfaat yang bisa kita nikmati, tapi fungsi ini satu tingkat lebih tinggi dari itu! Contohnya, ada orang yang kaya raya sehingga bisa mengkonsumi madu setiap hari, orang tersebut bisa mengambil manfaat duniawi yang terbatas dari madu. Kemudian ada orang lain yang mana pemasukannya yang terbatas tidak memungkinkannya mengonsumsi masu sama sekali. Melainkan ia membaca sebuah makalah atau mendengar pembahasan tentang manfaat tentang masu, lalu kulitnya merinding dan air matanya berjatuhan karena takut kepada Allah. Orang tersebut telah mewujudkan tujuan tertinggi dalam penciptaan madu, ia telah merealisasikan manfaat ukhrawi yang bersifat abadi.

Fungsi pemanfaatan akan berakhir dengan datangnya kematian, namun fungsi Pengenalan tidak berakhir, ia memberi efek positif kepada manusia sepanjang masa (Hlm. 13) Pesan Syeikh An-Nabulsi : “Upayakan untuk tidak kehilangan momentum pemikiran terhadap fenomena apapun dari alam semesta sebelum mengeksplorasi manfaat yang menjadi tujuan penciptaannya. Setiap makhluk di muka bumi ini diciptakan untuk Anda dan dengan dua manfaat : manfaat duniawi yang terbatas dan manfaat ukhrawi yang abadi.

Dunia barat saat ini berhasil melakukan inovasi spektakuler dalam memanfaatkan alam semesta. Mereka sudah memanfaatkan fungsi pemanfaatan alam semesta ini dengan sangat baik, namun mengapa mereka semua tidak beriman? Mengapa hati mereka tidak tunduk untuk mengingat Allah? Mengapa mereka tidak bisa mengenal Allah padahal mereka berada dihadapan ayat-ayat Allah yang menakjuban?

Jawabannya sederhana sekali, jika seseorang memiliki tujuan selain Allah, betapapun anda letakkan dihadapannya ribuan ayat-ayat Allah ia tidak bisa melihat sesuatu apapun darinya. Orang-orang seperti ini hidup berbaur dengan kenyataan-kenyataan menakjubkan, tetapi kenyataan itu tidak mengantarkan mereka kepada Allah.

Detail-detail penjelasan yang lebih mengagumkan bisa dibaca di bukunya :p

Kedua, yaitu Akal. Allah menciptakan akal supaya kita bisa mengenal-Nya, dengan mengenal Allah, kita akan menaati segala perintah-Nya. Tapi kebanyakan manusia memfungsikan akalnya hanya untuk mencari harta, jabatan dan prestise, ini seperti memegang cek yang senilai 1 miliar dolar kemudian digunakan kaya kertas biasa buat corat-coret hitungan lalu meremasnya begitu aja. Kemudian kita baru sadar kalo isi cek tersebut bisa mencukupi kebutuhan hingga akhir hayat juga bisa mencukupi seluruh kebutuhan semua anggota keluarga. Itu analogi ketika akal tidak dipergunakan seusai dengan tujuan penciptaannya.

Akal adalah tali kendali. Akal menahan manusia dari memakan harta haram, menahan dari berbuat zina, menahan agar tidak mengeluarkan kata-kata kotor. Seharusnya akal bisa menghentikan seseorang merusak dirinya sendiri, contohnya kita lagi ada diperjalanan mau ke puncak, terus pas dijalan ada peringatan bertuliskan “Jalan ditutup karena longsor” tentu saja kita akan membatalkan perjalanan dan balik arah. Namun ketika yang membaca tersebut adalah hewan, dia hanya akan berhenti ketika benar-benar didepan timbunan longsornya, karena manusia berinteraksi dengan penjelasan dan hewan berinteraksi dengan realitas.

Kapan seorang perokok menghentikan kebiasaan merokoknya? Ketika kanker paru-paru menyerang. Manusia seperti ini seperti hewan tadi, dia berinteraksi dengan realitas, bukan dengan penjelasan padahal dia mendengar bahaya merokok dan seharusnya bisa berhenti ketika dalam keadaan sehat walafiat.

Berkenaan antara akal dan Naql (Nash), jika terjadi pertentangan diantara keduanya, maka tinggalkanlah akal. Sebab tidak semua perintah dan larangan Allah bisa kita cerna dengan akal, bahkan terkadang tidak bisa kita fahami dengan akal, namun yang perlu kita lakukan adalah bukan meninggalkan perintah tersebut karena tidak masuk di-akal kita, tetapi justru kita harus menaati perintah Allah walaupun kita tidak pernah tau apa maksud Allah memerintahkan itu. Itulah yang disebut ta’abbud (sikap beribadah). Contoh yang kaya gini ada dalam kisah Nabi Ibrahim, Siti Hajar dan Nabi Ismail.

Kalo kita cuma menaati apa yang diterima akal dan dipahaminya, sejatinya ketaatan itu untuk akal dan pemahamannya, bukan untuk Allah.

 “orang yang tidak menerima perintah kecuali setelah memahami dan melihat hikmahnya bahwa perintah itu bermanfaat bagi dirinya, orang tersebut tidak disebut hamba Allah, melainkan hamba dirinya sendiri, hamba keselamatan dirinya, hamba kepentingan dirinya.” (Hlm. 62)

Kenapa terkadang Allah merahasiakan hikmah suatu perintah atau larangan? Hanya untuk menguji ketaatan kita. Karena kata Syeikh Ratib An-Nabulsi, “Semakin jelas hikmah dibalik perkara ta’abuddi, semakin minim pahala peribadahan. Semakin hikmah itu tersamarkan, maka semakin besar pahala peribadahan.” (Hlm.67)

Ini sebagian penjelasan-penjelasan yang dikutip dari buku tersebut, cerdas dan bernas memang, suka sekali dengan analogi2 yang dikemukakan Syeikh Ratib An-Nabulsi dalam  buku ini, pokoknya kalian harus baca juga ya....

Loh kok cuman dua? Iya...soalnya baru baca sampe akal, lima pilar lainnya yaitu Fitrah, Syriat, Syahwat, Kebebasan Memilih dan Waktu.

Insya Allah next time aku sharingkan lagi ya ke lima pilar lainnya, see ya!




Bandung, 2 Januari 2016
Ditengah (sok) sibuknya mengolah data skripsi :p





Evi Apriyani

0 komentar:

 

Meninggalkan Jejak Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template