Assalamu’alaikum
warahmatullah sahabat? Gimana kabarnya?
Semoga senantiasa
dalam lindungan Allah dan selalu dinaungi oleh rahmat-Nya, aamiin
Sebagai postingan
pembuka diawal tahun 2016 ini, aku pengen cerita tentang....
Itu judulnya kok gitu
sih? Apa maksudnya? Tenang..tenang...itu cuma judul buku kok, salah satu buku
yang lagi aku baca sekarang, yang merupakan salah satu target buku yang ingin
aku habisi (huh? Sereeem) ditahun ini.
Yap...as you read in the title (bodo amat
bener apa kagak english gue :p) judul bukunya “7 Pilar Kehidupan” salah satu
buku favorite ku. Sebenernya ga ujug-ujug aja aku bisa punya buku ini, jadi
ceritanyaaaa (wah bakalan panjang nih) kan aku pernah ikut SPI, apa itu SPI?
SPI itu kepanjangannya Sekolah Pemikiran Islam, yang dipersembahkan oleh anak2
ITEJEH (apa pulak itu?) ITJ itu sejenis spesies langka yang hidup ratusan tahun
yang lalu...eh engga deng, bukan itu! Hahaha
ITJ ini sebuah komunitas
yang lahir dari Hestek di twitter, kepanjangannya #IndonesiaTanpaJIL yang entah
awalnya ditwit sama siapa..bla..bla.. (udah2 stop ga usah melebar kemana2 hei...!)
Ihihihi sorry :p
Oke fokus lagi, intinya
pas aku kuliah SPI Moh. Natsir Bandung angkatan pertama (beuh lengkap banget), ngebahas
tentang Konsep Manusia dalam Islam, pematerinya itu Kang Hafidz Ary (bisa
follow twitternya @hafidz_ary), beliau bahasnya dari buku ini, kece
badai....makanya aku penisirin soalnya kang Hafidz itu ngebahasnya juga keren,
jadi aja aku pengen baca bukunya langsung, dan emang keren!!!
Sebenernya ini
tergolong buku filsafat, kalimatnya agak memusingkan gitu, udah mah terjemahan
dari bahasa arab (kayaknya ini mah), jadi aja double pusingnya, hehe tapi
Alhamdulillah sejauh ini aku bisa nangkep maksud bukunya apa...iya dong harus!
Ga kerasa ini
intronya suangat puanjang suekali...hahaha
Sebelumnya aku mau
nanya dulu, tujuan kita hidup didunia ini ngapain sih?
Iyap! 100! Bener
banget! (heh! Belum juga dijawab! Wakwakwak)
Ya aku sih husnudzhan
aja ama jawaban kalian, pasti bener deh....
Jawabannya ada di
Al-Qur’an! Surah apa? Yap! Q.S Adz-Dzaariyaat ayat 56!
BERIBADAH!
Apa itu ibadah?
Kalo kata Syeikh
Ratib An-nabulsi dibuku ini, Ibadah adalah ketaatan murni yang
bercampur dengan kecintaan hati, fondasinya adalah pengetahuan keyakinan yang
mengantar kepada kebahagiaan abadi (Hlm. 89).
Jadi udah tau kan
tujuan kita hidup didunia ini untuk apa? Iya kan? Iya dong?
Okesip.
Buku ini tuh terkait
erat dengan aspek pengetahuan didalam ibadah, tapi bahasnya dari sudut baru.
Dalam Al-Qur’an kita
tau, bahwa manusia ini adalah makhluk yang istimewa, kenapa istimewa? Karena
manusia itu diberikan amanah yang berat, yang bahkan Bumi, Langit bahkan
Gunung-gunung saja tidak mampu untuk memikulnya. (kamu tau kan ayat yang
dimaksud? Kalo ga tau, coba tanya ke Syeikh
Google! :p)
Karena dikasih amanah
yang berat itu, sudah sepantasnya Allah menciptakan langit dan bumi beserta
isinya sebagai fasilitas untuk menunaikan tugasnya.
Nah...jadi, buku ini tuh
ngebahas seputar 7 pilar dalam kehidupan (kalo bahasa aku mah fasilitas) yang
Allah kasih buat manusia, iya ada tujuh, yang pertama yaitu Alam
semesta. Alam semesta adalah semua galaksi, planet, komet, gugusan bintang,
langit, bumi berikut apa yang ada didalamnya; Gunung, sungai, ikan, burung, berbagai
jenis tanaman tak terbilang, berbagai jenis binatang tak terhitung. Allah
menciptakan alam semesta ini dengan dua fungsi penciptaan, yakni Fungsi Pemanfaatan
dan Fungsi Pengenalan.
Fungsi pemanfaatan
ini berkaitan dengan bagaimana kita memanfaatkan alam semesta untuk
kemaslahatan hidup kita, Allah dengan segala kuasa-Nya menundukkan langit dan
bumi untuk manusia. Contoh realnya kita tiap hari mengonsumsi udara secara
gratis! Bayangin aja kalo setiap udara yang kita hirup itu berbayar, bisa abis kita,
ga mengonsumsi apapun selain udara kita bisa tekor banget, ga punya
apa2...jangankan rumah, makanan pun ga bisa, uang kita juga ga akan cukup buat
beli udara yang kita konsumsi tiap detik menit jam. Betapa Allah maha pemurah
ya! Itu baru udara, pikirin aja nikmat yang lain. Ga akan kehitung nikmat dari
Allah itu. Yakin!
Sedangkan fungsi
pengenalan, berkaitan dengan bagaimana Alam semesta ini menjadi jembatan kita
mengenal Allah, melalui ciptaan-Nya kita mengenal Sang Pencipta. Bukan hanya
manfaat yang bisa kita nikmati, tapi fungsi ini satu tingkat lebih tinggi dari
itu! Contohnya, ada orang yang kaya raya sehingga bisa mengkonsumi madu setiap
hari, orang tersebut bisa mengambil manfaat duniawi yang terbatas dari madu.
Kemudian ada orang lain yang mana pemasukannya yang terbatas tidak
memungkinkannya mengonsumsi masu sama sekali. Melainkan ia membaca sebuah
makalah atau mendengar pembahasan tentang manfaat tentang masu, lalu kulitnya
merinding dan air matanya berjatuhan karena takut kepada Allah. Orang tersebut
telah mewujudkan tujuan tertinggi dalam penciptaan madu, ia telah
merealisasikan manfaat ukhrawi yang bersifat abadi.
Fungsi pemanfaatan
akan berakhir dengan datangnya kematian, namun fungsi Pengenalan tidak
berakhir, ia memberi efek positif kepada manusia sepanjang masa (Hlm. 13) Pesan
Syeikh An-Nabulsi : “Upayakan untuk tidak kehilangan momentum pemikiran
terhadap fenomena apapun dari alam semesta sebelum mengeksplorasi manfaat yang
menjadi tujuan penciptaannya. Setiap makhluk di muka bumi ini diciptakan untuk
Anda dan dengan dua manfaat : manfaat duniawi yang terbatas dan manfaat ukhrawi
yang abadi.
Dunia barat saat ini
berhasil melakukan inovasi spektakuler dalam memanfaatkan alam semesta. Mereka
sudah memanfaatkan fungsi pemanfaatan alam semesta ini dengan sangat baik, namun
mengapa mereka semua tidak beriman? Mengapa hati mereka tidak tunduk untuk
mengingat Allah? Mengapa mereka tidak bisa mengenal Allah padahal mereka berada
dihadapan ayat-ayat Allah yang menakjuban?
Jawabannya sederhana
sekali, jika seseorang memiliki tujuan selain Allah, betapapun anda letakkan
dihadapannya ribuan ayat-ayat Allah ia tidak bisa melihat sesuatu apapun
darinya. Orang-orang seperti ini hidup berbaur dengan kenyataan-kenyataan
menakjubkan, tetapi kenyataan itu tidak mengantarkan mereka kepada Allah.
Detail-detail
penjelasan yang lebih mengagumkan bisa dibaca di bukunya :p
Kedua,
yaitu Akal. Allah menciptakan akal supaya kita bisa mengenal-Nya, dengan
mengenal Allah, kita akan menaati segala perintah-Nya. Tapi kebanyakan manusia
memfungsikan akalnya hanya untuk mencari harta, jabatan dan prestise, ini
seperti memegang cek yang senilai 1 miliar dolar kemudian digunakan kaya kertas
biasa buat corat-coret hitungan lalu meremasnya begitu aja. Kemudian kita baru
sadar kalo isi cek tersebut bisa mencukupi kebutuhan hingga akhir hayat juga
bisa mencukupi seluruh kebutuhan semua anggota keluarga. Itu analogi ketika
akal tidak dipergunakan seusai dengan tujuan penciptaannya.
Akal adalah tali
kendali. Akal menahan manusia dari memakan harta haram, menahan dari berbuat
zina, menahan agar tidak mengeluarkan kata-kata kotor. Seharusnya akal bisa
menghentikan seseorang merusak dirinya sendiri, contohnya kita lagi ada
diperjalanan mau ke puncak, terus pas dijalan ada peringatan bertuliskan “Jalan
ditutup karena longsor” tentu saja kita akan membatalkan perjalanan dan balik
arah. Namun ketika yang membaca tersebut adalah hewan, dia hanya akan berhenti
ketika benar-benar didepan timbunan longsornya, karena manusia berinteraksi dengan
penjelasan dan hewan berinteraksi dengan realitas.
Kapan seorang perokok
menghentikan kebiasaan merokoknya? Ketika kanker paru-paru menyerang. Manusia
seperti ini seperti hewan tadi, dia berinteraksi dengan realitas, bukan dengan
penjelasan padahal dia mendengar bahaya merokok dan seharusnya bisa berhenti
ketika dalam keadaan sehat walafiat.
Berkenaan antara akal
dan Naql (Nash), jika terjadi
pertentangan diantara keduanya, maka tinggalkanlah akal. Sebab tidak semua perintah dan larangan Allah bisa kita cerna dengan
akal, bahkan terkadang tidak bisa kita fahami dengan akal, namun yang perlu
kita lakukan adalah bukan meninggalkan perintah tersebut karena tidak masuk
di-akal kita, tetapi justru kita harus menaati perintah Allah walaupun kita
tidak pernah tau apa maksud Allah memerintahkan itu. Itulah yang disebut ta’abbud (sikap beribadah). Contoh yang
kaya gini ada dalam kisah Nabi Ibrahim, Siti Hajar dan Nabi Ismail.
Kalo kita cuma
menaati apa yang diterima akal dan dipahaminya, sejatinya ketaatan itu untuk
akal dan pemahamannya, bukan untuk Allah.
“orang yang tidak menerima perintah kecuali
setelah memahami dan melihat hikmahnya bahwa perintah itu bermanfaat bagi
dirinya, orang tersebut tidak disebut hamba Allah, melainkan hamba dirinya
sendiri, hamba keselamatan dirinya, hamba kepentingan dirinya.” (Hlm. 62)
Kenapa terkadang
Allah merahasiakan hikmah suatu perintah atau larangan? Hanya untuk menguji
ketaatan kita. Karena kata Syeikh Ratib An-Nabulsi, “Semakin jelas hikmah
dibalik perkara ta’abuddi, semakin minim pahala peribadahan. Semakin hikmah itu
tersamarkan, maka semakin besar pahala peribadahan.” (Hlm.67)
Ini sebagian
penjelasan-penjelasan yang dikutip dari buku tersebut, cerdas dan bernas
memang, suka sekali dengan analogi2 yang dikemukakan Syeikh Ratib An-Nabulsi
dalam buku ini, pokoknya kalian harus baca juga ya....
Loh kok cuman dua?
Iya...soalnya baru baca sampe akal, lima pilar lainnya yaitu Fitrah, Syriat,
Syahwat, Kebebasan Memilih dan Waktu.
Insya Allah next time
aku sharingkan lagi ya ke lima pilar lainnya, see ya!
Bandung,
2 Januari 2016
Ditengah
(sok) sibuknya mengolah data skripsi :p
Evi Apriyani

0 komentar:
Posting Komentar