B-A-H-A-G-I-A
Satu
kata yang secara sadar atau tidak, banyak manusia tersihir olehnya. Banyak yang
menjadikannya tujuan dalam hidup, padahal..............padahal nih ya, bahagia itu cuma
salah satu perasaan atau emosi dalam hidup kita. Selain perasaan bahagia itu
sendiri, kita juga ngerasain sedih, kecewa, marah, takut dan sebagainya. Jadi
bahagia itu cuma satu diantara sekian perasaan lainnya dalam hidup.
Kalo
dulu waktu kuliah, dosenku pernah jelasin tentang bahagia, beliau bilang “Perasaan
bahagia itu sementara, saat kita lulus SD, kita bahagia. Terus kita masuk SMP,
biasa aja. Lulus SMP, kita bahagia. Terus kita masuk SMA, biasa aja. Lulus SMA,
kita bahagia. Terus kita kuliah, biasa aja. Lulus kuliah, kita bahagia. Abis itu
biasa aja, ya begitulah... siklus bahagia itu sementara, ga lama”
Terus
kalo tujuan hidup kita bukan bahagia, lalu apa yang harus kita kejar?
Kalo
kita muslim, harusnya kita ngejar barakah, yap... keberkahan.
Suka banget filosofi sampul di buku lapis-lapis keberkahan-nya Ustadz Salim A.
Fillah, dari situ pula aku nemuin satu konsep yang bagiku baru (maksudnya;
baru ku mengerti maksudnya) tentang barakah ini.
![]() |
| Sumber : https://ghazibookstore.files.wordpress.com/2014/12/bvcs2nvcmaa4lnr.jpg |
Ustadz
Salim bilang bahwa kata 'bahagia' itu ga cukup untuk mewakili segenap kebaikan.
Berbeda dengan barakah,
“Hidup
kita umpama buah beraneka aroma, bentuk, warna serta rasa; yang diiris-iris dan
ditumpuk berlapis-lapis. Tiap irisan itu, punya wangi maupun anyirnya, lembut
atau kasarnya, manis serta pahitnya, masam juga asinnya. Tapi kepastian
dari-Nya dalam segala yang terindra itu ialah; ada gizi yang bermanfaat bagi
ruh, akal dan jasad kita”
Dalem
banget maknanya. Yang pasti kalo mau tau konsep barakah ini baca aja bukunya
deh, hehe
Indramayu, 16 Juli 2018

