Rabu, 31 Desember 2014

Akhir Tahun yang Bahagia

0 komentar

Sebenernya tadi aku sempet nge-cek postingan di blog ini, sudah sejauh mana aku menulis, baik itu curhatan, berbagi ilmu, berbagi pengalaman, dll
 
Tulisanku memang belum begitu banyak, isinya juga ga begitu berkualitas, ya maklumlah...penulis amatiran hihi :’3

Tapi aku akan terus mencoba untuk belajar, karena hidup adalah pembelajaran, kadang kita jadi pengajar, kadang juga jadi pelajar....

Tak terasa waktu bergulir begitu cepatnya...hingga tiba dipenghujung tahun. Sebenernya aku bukan tipe orang yang suka ngerayain tahun baru masehi sih, jadi aku ga biasa menyambut2 gitu, flat aja~

Cuman karena ini penting buat Muhasabah / Refleksi guna kebaikanku dimasa mendatang, jadi aku perlu buat tulisan ini.

Aku ini~ ditahun 2014, kadang masih banyak hal yang perlu di revisi, yang perlu diperbaiki, baik itu sifat buruk yang merugikan orang lain, maupun merugikan diri sendiri.

Teman-temanku...maafkan aku ya kalo banyak salah selama ini, mungkin aku belum bisa menjadi teman yang baik buat kalian, maaf... kadang aku masih (sedikit?) egois : (

Alhamdulillah...ditahun ini Allah begitu banyak ngasih kejutan-kejutan yang sangat manis, juga hidayah yang sangat berharga, dikasih kesempatan untuk memperbaiki diri dengan dibersamai orang-orang yang shaleh-shalehah...

Banyak kejadian tak terduga ditahun ini, momen yang aku ingat adalah...sisterku mulai berhijab, alhamdulillah...

Seseorang yang sudah kuanggap adik (Aniqo Aini), Allah kasih hidayah padanya untuk berlepas diri dari pacaran, dan sekarang berhijab dengan syar’i, bahkan khimarnya lebih lebar dariku :‘)

Aku bersyukur diberi kesempatan untuk mengikuti IW4, yang begitu banyak menyentak kesadaranku, dan banyak ilmu yang kudapat darinya, dan semakin mendekatkanku pada Islam, pada Allah.

Bertemu orang-orang baru yang shaleh-shalehah yang semakin memperkuat azzamku untuk memegang janji kukuh di alam ruh :’)
Kabar gembiranya adalah....besok...

Tepatnya tanggal 1 Januari 2015, orang yang sudah kuanggap kakak, InsyaAllah...akan menggenapkan setengah dien-nya, ah....betapa indahnya sudah dipertemukan dengan (calon) belahan hati...hehe

Luar biasanya pengalaman kakak ku ini, dalam waktu yang singkat proses ta’arufnya dengan seorang ikhwan yang kini akan menjadi calon suaminya, banyak hal berharga yang aku belajar darinya.

Aku dengar dari kakak, ikhwan itu ga lihat wajah atau fisik kakak, setelah bertukar proposal, dia langsung yakin dan mantap untuk mengkhitbahnya, mereka baru bertemu 2 kali menjelang pernikahan mereka (1 kali bertemu ga sengaja dan ga ngeh dua-duanya), katanya jika dia melihat wajah atau fisik kakakku itu bakalan merubah niatnya, yang tadinya ingin menikah karena Allah...tapi bergeser menjadi niat yang lain (karena melihat kecantikan kakak misalnya).

Barakallahulakumma wabaraaka ‘alaikumma wajama’a baina kumma fii khoir kakak ku Meliya Hanun :’)

Ahhh~indahnya proses ta’aruf itu...

Semoga...kelak aku juga bisa mendapatkan ikhwan seperti itu :’)

“Akan tiba masanya suatu hari nanti, seseorang yang hanya melihat iman dihatimu, bukan rupamu, hartamu, keturunanmu dan dialah cinta sejati yang akan membawamu ke jannah-Nya......”

Semoga~semoga dan semoga....

Ditahun depan (besok :D) aku bisa menjadi orang yang lebih baik, semakin dekat dengan Allah dan membersamai & dibersamai orang-orang shaleh-shalehah yang akan semakin mendekatkanku pada-Nya...
Aamiin..

Selasa, 30 Desember 2014

Pujangga-Pujangga (Cinta Tak Seindah Syair Pujangga II)

0 komentar
oleh Dr Wendi Zarman

Pujangga-pujangga
Beraninya kau lantunkan syair cinta
Sedang kau tiada arif maknanya
Kau tuntun manusia keluar dari jalan Tuhannya
Bagai panutanmu menyesatkan Bani Adam dan Hawa
Melanggar titah Rabnya, menuruti hawa nafsunya

Pujangga-pujangga
Syair cintamu tiada hidup bernyawa
Walau nampak gairah nan menyala
Berlabuhnya hanya sampai raga
Namun tak sampai ke dalam hakikat jiwa
Malah menutup hati dari terangnya CAHAYA

Malangnya orang dalam tempurung jahilia
Menyangka bahagia padahal semua dusta
Karena tiada sampai ilmu dan bijaksana
Terpana dengan cantik rupa dan harta
Yang diterpa gemerlap taburan puja-puja
Disangka susu ternyata lebih buruk dari tuba

Wahai manusia, wahai kaum muda
Elok kau kaji cara Nabi ungkapkan cinta
Pada Tuhan dan pada manusia hamba-Nya
Agar kau tak tak terperosok dalam kubangan cinta
Yang digali para pujangga pemuja dosa
Semoga kau selamat di dunia, sampai pula di surga


(Tanggapan untuk "Cinta tak Seindah Syair Pujangga" oleh Mohammad Ishaq)

Senin, 29 Desember 2014

PERIHAL CINTA

0 komentar
Oleh Ustad Wendi Zarman
Bismillaah, walhamdulillaah, washshalaatu wassalaamu 'alaa rasulillaah.

Orang mengatakan cinta membuat dunia berputar. Perkataan ini ada benarnya, karena tanpa cinta maka tidak ada kehidupan. Tanpa cinta antara laki-laki dan perempuan misalnya, maka akan musnahlah ras manusia di bumi. Tanpa cinta orang tua anak-anak tak akan tumbuh dewasa. Tanpa kecintaan kepada harta maka tidak akan ada kegiatan perdagangan dan perindustrian. Tanpa cinta kepada pemimpin tak ada pemimpin yang didengar perkataannya dan tak ada ulama yang dihiraukan pengajarannya. Tanpa cinta kepada ilmu tidak akan ada ilmu yang berkembang sehingga tidak ada peradaban. Tanpa cinta kepada manusia tidak ada tolong menolong di antara manusia. Tanpa cinta orang kaya tidak akan peduli kepada orang miskin.

Tapi, cinta juga tidak selalu bermanfaat jika diletakkan pada tempat yang salah. Ada cinta yang menyebabkan permusuhan dan peperangan. Ada cinta yang menyebabkan kelalaian. Ada cinta yang memerosokkan kepada kemaksiatan. Ada juga cinta yang menyebabkan kezaliman. Oleh karena itu cinta tidak selalu baik, kecuali jika ia tidak ditempatkan pada tempat yang benar sebagaimana yang telah diajarkan Allah SWT dan Rasulnya saw.

Zaman sekarang banyak orang sedikit-sedikit bicara cinta, apalagi soal pria dan wanita. Para penyanyi menyuarakan cinta, politisi bicara cinta, para pemimpin bicara cinta, para orang tua bicara cinta, serta kaum muda bicara cinta. Tapi masalahnya, banyak diantara kita yang bisa mengenali mana cinta yang benar dan mana yang salah. Kebanyakan kita menyamakan semua bentuk cinta, seakan-akan semuanya baik, padahal sebagiannya merusak. Teramat merusak malah, meskipun hakikat cinta adalah baik. Ibarat makanan yang sehat jika dikonsumsi secara tidak benar, berlebihan misalnya, maka bukan kesehatan yang diperoleh tetapi penyakit. Demikian pula cinta, jika kita tidak tahu bagaimana “memperlakukan” cinta maka dia akan menjerumuskan kita kepada kehancuran.

Cinta dapat kita artikan sebagai kecenderungan kepada sesuatu yang melahirkan rasa senang. Rasa ini merupakan suatu anugerah Tuhan kepada diri kita. Oleh karena itu ia merupakan sebuah fitrah, suatu kualitas dalaman (inner) yang ada di dalam diri setiap manusia. Cinta juga merupakan salah satu sifat Allah, itulah sebabnya Allah menamai diri-Nya al-Rahman dan al-Rahim. Dengan cinta-Nya kita ada dan dengan cinta-Nya kita dipelihara dalam kehidupan dunia. (semoga ada kesempatan membahas ini secara khusus, insya Allah)

Sekurangnya ada dua penyebab seseorang mencintai seseorang atau sesuatu. Pertama adalah karena jasa seseorang atau sesuatu itu kepadanya. Kita memiliki kecenderungan alamiah untuk mencintai orang tua kita karena mereka berjasa kepada kita. Meskipun ada kalanya ada perilaku atau pandangan mereka yang tidak bersesuaian dengan kita, namun karena kita menyadari jasa mereka maka kita tetap mencintai mereka. Demikian juga kita mencintai kampung halaman atau tanah air karena “jasanya” kepada kita. Kita hidup dan berkembang di kampung atau di tanah air sehingga ketika kita jauh darinya kita selalu terkenang untuk kembali kepadanya. Seorang buta memilki seekor anjing yang yang selalu menuntunnya kemanapun ia berjalan memiliki cinta yang mendalam terhadap anjing tersebut meskipun anjing adalah seekor hewan yang rendah. Seorang muslim mencintai Rasulullah saw. karena mengingat jasanya yang besar sehingga manusia tercerahkan dan mengetahui rahasia-rahasia kehidupan yang dapat menyampaikan mereka kepada kebahagiaan.

Alasan kedua adalah karena kualitas-kualitas unggul yang dimiliki oleh sesuatu atau seseorang itu. Orang lebih mencintai emas daripada batu karena keunggulan nilainya dalam pandangan manusia. Seorang pria mencintai wanita seringkali dimulai dari keindahan fisik pada diri wanita tersebut. Sebaliknya seorang wanita mencintai laki-laki dapat bermula dari keberanian laki-laki tersebut. Umat Islam mencintai Imam Syafi’i atau Imam Malik atau Imam al-Ghazali karena karya-karyanya yang hebat, meskipun banyak yang tidak atau belum membaca karyanya satu pun juga. Banyak orang yang mencintai seorang Napoleon karena kehebatan kepemimpinanya dalam militer. Seorang penyanyi yang aksi panggungnya selalu memukau, Michael Jackson, ketika meninggal mendapat liputan luas dari berbagai media massa karena banyaknya fans, para pencintanya, yang menunggu-nunggu setiap pemberitaan mengenai dirinya. Penggemar sepak bola, apalagi orang Perancis, mencintai Zinedine Zidane, pemain sepakbola kenamaan Perancis yang membawa tim sepakbola Perancis juara dunia dan juara Eropa karena kepiawaiannya mengolah bola.

Mengenai kualitas-kualitas unggul ini, dalam kaitannya dengan manusia, bisa kita bagi dalam dua bagian, yang pertama kualitas unggul yang bersifat lahiriah dan ruhaniah. Hal ini merupakan sesuatu harus ada karena hakikat manusia memang ada dua yaitu terdiri dari unsur badani (fisik) dan ruhani. Kecintaan kita kepada manusia lain bisa jadi karena salah satu dari keunggulan tersebut, bisa juga karena kedua-duanya. Orang muslim yang hidup saat ini tidak pernah menjumpai Umar bin Khattab atau Ali bin Abi Thalib, dan mereka tidak tahu bagaimana rupa mereka, sehingga mereka mencintai mereka bukan karena keunggulan badani tapi karena ketinggian derajat ruhani mereka.

Boleh jadi seorang laki-laki bersedia menikahi seorang perempuan yang tidak terlalu cantik tapi ia memiliki keshalihan yang sangat tinggi. Dan tidak kurang banyaknya seorang laki-laki bersedia menikahi seorang semata-mata karena wanita itu teramat cantik, meskipun berperangai buruk. Paling bagus tentunya jika kedua-duanya dimiliki, tapi tidak selalu mudah memperolehnya. Jika diharapkan pada dua pilihan itu, maka turutilah anjuran Nabi saw. bahwa wanita paling baik itu adalah karena agamanya (kualitas ruhani).

Penting disadari bahwa kualitas ruhani pada hakikatnya lebih tinggi derajatnya dari kualitas badani. Demikian juga biasanya kualitas ruhani lebih kekal. Selain itu kualitas badani dari waktu ke waktu semakin berkurang sedangkan kualitas ruhani dapat berkembang tanpa batas, meskipun boleh jadi juga kualitas ini berkurang. Seorang artis wanita biasanya dihargai karena kualitas-kualitas badani yang dimilikinya. Begitu ia mulai menua ia mulai kekurangan tawaran bermain film, penggemarnya mulai surut, dan perlahan ia mulai dilupakan.

Tapi tidak demikian dengan seorang ulama. Pada mulanya ia tidak dikenal, kemudian ia mulai memberikan pengajaran di banyak tempat. Pengajarannya menyentuh dan akhlaknya terpuji, maka sedikit demi sedikit banyak orang yang mencintainya. Ceramahnya ditunggu-tunggu dan kehadirannya di satu tempat mengundang banyak orang meskipun mereka harus berdesak-desakkan. Bertambah panjang usianya, bertambah banyak pula pengikutnya. Setelah ia meninggal orang mengenang kebaikan-kebaikannya dan ajarannya diwariskan dari generasi ke generasi. Seorang Syeikh Ahmad Yasin, pejuang pembebasan Palestina yang gugur terkena rudal Israel, adalah seorang tua yang lumpuh lagi buta, namun ia adalah orang paling dicintai di Palestina pada masa itu. Sampai saat ini Syeikh Ahmad Yasin masih menjadi inspirasi bagi bangsa Palestina dalam perjuangannya melawan penjajahan Israel, meskipun ia tidak lagi ada di tengah-tengah mereka.

Pengaruh Kualitas Ruhani dalam Pernikahan

Seorang wanita cantik memancarkan kematangan keindahan fisiknya saat usianya berada di kisaran 20 hingga 30 tahun, paling lama mungkin sampai usia 40 tahun. Setelah itu ia menjadi tidak lagi menarik. Seorang suami kemungkinan besar akan berbohong jika ia mengatakan bahwa istrinya yang saat itu telah memasuki usia kelapa empat terlihat lebih cantik dari seorang artis muda dua puluh tahunan yang sedang naik daun.

Lalu apa yang menyebabkan sang suami mempertahankaan pernikahannya? Ada dua kemungkinan. Yang pertama adalah karena keimanan dan moral sang suami. Dia memahami bahwa pernikahan adalah sebuah amanah yang harus dipertanggungjawabkannya ke hadapan SWT kelak. Dia meyakini bahwa perceraian adalah suatu perbuatan yang tercela di mata orang kebanyakan sehingga perceraian itu akan menimbulkan aib bagi dirinnya. Tapi ini bukanlah cinta, tapi kesabaran, bahkan boleh jadi merupakan belenggu. Ikatan pernikahan seperti ini biasanya rapuh dan sangat dipengaruhi oleh tingkat kesabaran suami.

Kemungkinan kedua adalah kualitas ruhani sang istri yang tinggilah yang membuat sang suami tetap mencintai istrinya. Seorang suami yang baik akan memiliki ikatan pernikahan yang kuat dengan seorang istri shalihah meskipun kecantikan istrinya telah memudar dimakan usia. Kualitas fisiknya boleh memudar tapi ketinggian ruhaninya menutup semua kelemahan itu. Kasih sayangnya, ketaatannya, perhatiannya akan melahirkan kenyamanan dan ketenangan bagi suaminya. Hal ini bersesuaian dengan sabda Nabi saw., “Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita yang shalihah.” (HR. Muslim). Jika kualitas ruhani ini hilang dari seorang istri, maka itu adalah alamat bahwa pernikahan tersebut sedang berada di ujung tanduk. Kondisi yang sama juga berlaku sebaliknya.

Oleh karena itu di dalam sebuah pernikahan, upaya mempertahankan kualitas ruhaniahlah yang paling penting. Keunggulan kualitas fisik terbatas, pada saatnya kita harus menyerah dengan perjalanan waktu. Di sinilah letak kegagalan kebanyakan pernikahan, namun sayang kebanyakan orang kurang memahami hal ini. Para artis yang sering cerai kawin itu hendaknya menyadari hal ini. Jika mereka hanya sibuk menata penampilan luarnya sementara mengabaikan perbaikan ruhaninya maka kita tidak akan heran melihat sepasang sejoli yang dimabuk asmara dalam tiga bulan kemudian saling mengumbar keburukan pasangannya. Orang yang setiap saat dikenangnya itu kini telah menjadi orang yang paling ia benci. Seharusnya mereka menyibukkan diri dengan perbaikan ruhani, meski bukan berarti mengabaikan penampilan lahiriah, tapi penampilan lahiriah itu terlalu rendah derajatnya dibandingkan kualitas ruhani.

wallahu a'lam bishshawab

Kegalauan Intelektual

0 komentar

Duh asa berat yeuh judulna .. :’D
Ah..tenang aja tulisan aku mah insyaAllah mudah dimengerti walaupun judulnya ter..la..lu..lebay hehe
Jadi...ceritanya aku tuh lagi galau berat, aku berada diambang batas maksimal utilitas sama bidang kuliah aku sekarang...
Jujur.. dulu pas jaman-jamannya OSN SMA mah aku tuh semangat banget sama ilmu ini, cinta bangetlah pokoknya setengah hidup :D
Dulu aku begitu jahiliyah, yang ga tau apa2 tentang ajaran agama sendiri, malah lebih suka ilmu-ilmu yang ga nambah keimanan sama sekali.
Etapi setelah aku mengenal islam lebih dekat, aku ngerasa hidup aku tuh banyak ku sia-sia kan untuk belajar ilmu fardhu kifayah, sedangkan ilmu fardu’ain aku malah ga ngerti, bahkan cenderung abai dan lalai...Astagfirullah...
Awalnya sih gegara aku sering ikut kajian2 nya kang Roby Awaludin, tentang konsep ilmu dan wawasan keislaman lainnya. 
Dan untungnya dikukuhkan dengan kuliah Islamic Worldview yang bener2 ngerubah mindset aku banget, ditambah baca bukunya Ustadz Wendi Zarman (judulnya : “Inilah! Wasiat Nabi bagi para penuntut ilmu”) dan Alhamdulillah.. akhirnya mulai tersadarkan sekarang...
Aku kutip aja dari bukunya Ustadz Wendi yah..
v  Para ulama sepakat bahwa ilmu yang wajib dituntut terbagi menjadi dua kelompok, yaitu ilmu fardhu’ain dan fardhu kifayah.
v  Ilmu fardhu’ain adalah ilmu yang wajib dituntut oleh setiap Muslim mukallaf (sudah dibebani kewajiban agama).
v  Ilmu fardhu kifayah yaitu ilmu yang dituntut kepada masyarakat Muslim dalam rangka menegakkan urusan dunia.
v  Bagi setiap individu muslim, menuntut ilmu fardhu’ain lebih penting daripada fardhu kifayah karena menyangkut keselamatannya di dunia dan diakhirat.

Nah kan!

Sekarang aku udah semester 7 menuju semester 8, saat ini aku udah bener2 ga ada motivasi buat belajar ekonomi lagi, kalo diibaratin teori kepuasan konsumen, marginal utilitas aku sama ilmu ekonomi udah nol bahkan minus, semakin diajarin ilmu ekonomi malah tambah mual *Ups sorry terlalu kasar ya
Abis...gimana engga, ilmu yang diajarin dosen diperkuliahan tuh dominan berkiblat ke barat, emang sih... ada beberapa mata kuliah ekonomi islam (ekis), tapi tetep aja penguasaan dosen terhadap ilmu ekis ga sehebat ilmu ekonomi konvensional,  dalam ekonven aku dicekokin  faham-faham kapitalis-materialistis yang bisa merusak akidah aku sebagai Muslim *mungkin ini terlalu lebay tapi beneran loh!*
Kalo kita praktekin secara buta bisa aja mengancam akidah, lah bayangin aja, dalam ekonven yang namanya riba itu menjadi instrument yang tak bisa dipisahkan, ga akan terwujud ekonven tanpa riba, kalo ekonven itu diibaratkan rumah, bunga itu pondasinya, itu yang aku baca di buku “Satanic Finance”. Sedangkan dalam islam jelas sekali riba diharamkan, banyak ayat Al-Qur’an yang dengan Qathi melarang riba, diperkuat dengan Hadist shahih. Dikenyataan juga kita ga bisa lepas dari riba, jadinya aku bingung gatau harus mengambil tindakan seperti apa, dikonsep ekis begini, di ekonven begitu, dalam realitas kehidupan beda lagi...kan kacau kalo gitu O.o

Kalo kita maklum-maklumin aja, sampai kapanpun ga akan ada perubahan mendasar, dan bisa aja cekokan teori kapitalis-materialistis itu menjadi faham yang kita anut (baik sadar maupun ga) yang akan membentuk pola fikir kita yang kemudian diimplementasikan dalam kehidupan. Kan gaswat kalo gitu??

Yah...begitulah deskripsi singkat kegalauan intelektual yang aku rasain sekarang.....

Heheu

Jadi gimana?

Ya ga gimana-gimana sih, kalo aku ga bisa ngerubah orang lain, lingkungan, masyarakat, apalagi negara, yaaa minimal aku ngerubah diri aku sendiri aja dulu, nyadarin sendiri, dan #moveon dari kegalauan ini, salah satu langkah strategisnya aku harus selesain dulu studi aku, kemudian aku berlepas diri darinya, dan memulai hidup baru dengan mengkaji ilmu-ilmu fardhu’ain, insya Allah...

Seiring sejalan aku juga harus tetep kaji ilmu islamnya walaupun belum selesai masa studi aku, masa nunggu wisuda terus #Moveon?
Kelamaaan...hehehe




Diketik pada malam kamis
Selesai pukul 22:03
3 Rabiul Awwal 1436 Hijriyah

Senin, 22 Desember 2014

HATI (QALB)

0 komentar


Hati dalam bahasa arab dinamai dengan “al-qalb” yang artinya bolak-balik karena sifatnya yang cepat berbalik (berubah-ubah). (Al-Munajjid : 2006)
 
Rasulullah bersabda dalam sebuah hadist : “Sesungguhnya hati dinamai al-qalb karena ia berbolak-balik. Sesungguhnya, hanyalah perumpamaan hati itu ibarat sehelai bulu ayam yang tergantung dibatang pohon, dimana angin akan mengombang-ambingnya kesana-kemari” (H.R. Ahmad)

Hai sahabat? Bagaimana kabar imanmu hari ini?
Semoga terus naik setiap detik, menit, jam, dan harinya.... Aamiin :)
Kali ini aku pengen ngebahas tentang “Hati”
Iya Hati
H
A
T
I
Apa itu hati?
Nah diatas udah aku kutip pengertian hati dari buku Kuatkah Iman Dihatimu Karya Muhammad Shaleh Al-Munajjid.
Sahabat, Hati itu dari bahasa arabnya aja artinya bolak-balik, mungkin kita udah sering ngerasain tiap harinya kalau hati kita itu emang sering bolak-balik.
Contohnya nih udah niat mau shaum sunnah, ehhh malah ga jadi gegara engga bangun malem, jadinya ga sahur, kalo ga sahur kan ga kuat shaumnya hehehe -_-v
atau tadinya mau niat ngafalin Al-Qur’an 10 ayat hari ini...ehhh malah ga disentuh tu mushaf seculipun buat ngafalin karena sibuk (atau sok sibuk???)
Contoh lain, kadang kita udah bikin lembaran mutaba’ah amalan yaumiyah, ehh banyak yg ga keisi, gegara azamnya belum kuat.
Kadang emang gitu sih aku juga ngerasa hati itu cepet banget bolak-baliknya.
Jadi, lagunya Ali Sastra yang judulnya Lembaran baru itu emang buener banget...
Langkahku untuk lebih baik tak semudah kejapan mata, kadang hati terbolak-balik.....
Begitu juga iman kita sob...kadang naik...kadang turun....kayak air laut aja ada pasang ada surutnya.



Sahabat Abu ad-Darda` Uwaimir al-Anshaari rahimahullah berkata,


الإِÙŠْÙ…ِانُ ÙŠَزْدَادُ Ùˆَ ÙŠَÙ†ْÙ‚ُصُ

Iman itu bertambah dan berkurang.


Karena iman itu kan tempatnya dihati, iya ga sih? Iya aja deh ya..hehe
Raihan pernah berdendang dalam lagunya “Iman Mutiara”
Iman adalah mutiara...
Didalam hati manusia...
Yang meyakini Allah..
Maha Esa Maha Kuasa...

Oleh karena sifat hati yang bolak-balik ini, Rasul ngajarin kita untuk senantiasa berdoa, yaitu doa :



Supaya hati kita ditetapkan pada agama-Nya, untuk senantiasa dalam ketaatan dan keistiqomahan dalam ibadah kepada-Nya, bahkan saat terpuruk atau saat-saat terendah kita sekalipun dengan Do’a ini mudah-mudahan tidak membuat kita berbelok dari jalan-Nya yang lurus..Aamiin
 

Meninggalkan Jejak Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template