1. Pentingnya mengenal diri
“Man
‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu”
Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka sungguh dia akan mengenal Tuhannya.
~Atsar~
Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka sungguh dia akan mengenal Tuhannya.
~Atsar~
Atsar
: Berita dari sahabat Rasul
Menurut
Imam Al-Ghazzali ini adalah sebuah hadits, namun kedudukan hadistnya tidak
tahu, apakah shahih atau dhaif dan ini sangat masyhur dikalangan Tasawuf.
Kita
mengenal diri kita dalam rangka mengenal Allah. Mengenal bukan secara lahiriah
saja, misalnya lahir di indonesia, lahir dari ayah-ibu siapa, dari suku mana,
tinggi badan berapa, tinggal dimana, dll. tetapi lebih kepada mengenal pribadi.
Mengenal diri = Mengenal Allah dalilnya ada dalam Q.S Adz-Dzariyat (51) : 20-21
“Dan
dibumi terdapat tanda-tanda (Kebesaran Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga)
pada dirimu sendiri, Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”
2.
Pertanyaan dasar
1.
Darimana asal-usulnya
Merupakan suatu keinginan dari manusia
untuk mengetahui asal-usulnya darimana. Bahkan seorang anak yatim piatu, akan
bertanya bapaknya siapa? ibunya siapa? Kalaupun orangtuanya sudah meninggal
dimana makamnya? kalau masih hidup dimana tinggalnya? bagaimana caranya supaya bisa bertemu?
2.
Kemana tujuan hidupnya
Orang-orang Atheis memandang alam ini
tanpa tujuan (Useless) karena mereka
mengingkari adanya Pencipta. Maka bagi mereka yang paling penting bagaimana
menikmati hidup ini, bagaimana bersenang-senang, menghabiskan waktu untuk
hal-hal yang mereka sukai. Tapi sebenarnya mereka hidup dalam tekanan bathin
yang terus menerus, makanya banyak yang bunuh diri, karena mereka tidak
memahami tujuan hidup.
3.
Apakah hakikat Manusia itu.
kita ini siapa, diri kita ini siapa?
4.
Bagimana kebahagiaan itu dapat dicapai.
Tujuan semua manusia adalah bahagia.
Bahkan ke medan perang pun tujuannya bahagia, karena berharap ada kebahagiaan
sesudah itu.
3.
Pengantar dari Imam Al-Ghazzali
v
Pekerjaan hewan hanyalah makan, minum
dan berkelahi, karena itu jika anda hewan, sibukkanlah diri anda dengan
pekerjaan-pekerjaan ini.
v
Setan selalu sibuk mengobarkan kejahatan,
jika anda masuk kelompok mereka, kerjakan pekerjaan mereka
v
Malaikat selalu melakukan keinginan
Tuhan, jika anda mempunyai sifat-sifat mereka maka berjuanglah untuk mencapai
sifat-sifat asal anda, agar bisa anda kenali dan kemudian
mematuhi serta merdeka dari perbudakan nafsu dan amarah (Kimia Kebahagiaan)
4.
Darimana asal usul manusia
Dalam sekolah-sekolah kita selalu diajarkan tentang teori evolusi manusia yaitu Theori yang mengatakan manusia berasal dari kera yang bungkuk menjadi hewan yang berjalan tegak.
Ini
berlangsung suatu evolusi yang secara lambat selama jutaan tahun yang lalu.
Entah darimana mereka mendapatkan ilustrasi seperti gambar diatas ini. Jika
dari fosil, apakah iya 7 juta tahun yang lalu itu masih ada dan lengkap?
Prof
Al-Attas percaya sejauh-jauhnya jarak antara
manusia pertama yaitu Nabi Adam dengan manusia sekarang sekitar 7-10 ribu tahun yang lalu berdasarkan
estimasi tertentu.
Jadi
kalau diatas 10 ribu tahun itu tidak masuk akal, apalagi jutaan tahun yang
lalu. Maka yang menjadi pertanyaan adalah :
1. Apakah
betul ada fosil yang usianya jutaan tahun yang lalu?
2. Apakah
betul fosil itu adalah manusia?
Kalau
pun ada fosilnya, bagaimana membuktikan bahwa itu manusia? Jika dikatakan DNA
nya mirip, banyak ilmuwan sekarang membuktikan DNA manusia mirip dengan DNA
hewan, tapi tidak membuat kita sama dengan mereka.
Sebenarnya
asumsi mereka adalah bentuk tubuh yang mirip maka disimpulkan : makhluk yang
sama. Contohnya seorang manusia mempunyai hewan kesayangan yaitu Simpanshe, meninggal dihari yang sama dikubur
bersebelahan. Kemudian satu juta tahun kemudian ada arkeolog dimasa depan
menggali, maka disimpulkan mungkin mereka adalah kakak-adik, atau ayah-anak.
Maka
sebenarnya teori evolusi adalah politik Sains. Di Amerika tidak boleh
mengajarkan Science Creation, itu
melanggar undang-undang, tapi yang diajarkan adalah Evolution. Karena menurut mereka kalau kita mengajarkan ada Tuhan,
maka itu adalah mengajar Agama. Kalau mengajar agama dalam sains itu adalah
suatu hal tercela, karena ranahnya berbeda. Mencampuradukkan antara agama dan
sains adalah berbahaya bagi mereka.
Maka
sebenarnya Evolusi ini adalah politik untuk mengajarkan supaya orang jangan
mencampuradukkan agama dengan sains. Secara argumentasi logis kita bisa mengatakan
bahwa Evolusi itu tidak punya pondasi yang kuat. Lucunya ini malah menjadi
ideologi.
Kita
lupa bahwa manusia itu makhluk Ruh, manusia bukan hanya terdiri dari jasmani tetapi
juga Rohani.
5.
Ayat tentang Penciptaan Manusia
1.
Dalil Penciptaan manusia Q.S. Al-Mu’minuun ayat 12-14
Ayat ini sering menjadi dalil oleh
penulis sains islam untuk menegaskan proses penciptaan manusia didalam rahim.
“Dan sungguh, Kami telah menciptakan
manusia dari saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami menjadikannya nuthfah
(yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian nuthfah itu Kami
jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan
segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu
tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami menjadikannya
makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik.”
Didalam Al-Qur’an sering menggunakan
kata Kami jadikan, ada perbedaan antara Menjadikan dan Menciptakan, Menciptakan
itu membuat sesuatu dari tidak ada menjadi ada, sedangkan Menjadikan itu dia
sudah ada, tetapi dirubah.
Makhluk yang lain disini dalam artian “pemberian
akal”, itu menunjukkan bahwa manusia berbeda dengan hewan. Secara fisik dia
punya sifat-sifat hewan tapi dengan pemberian akal itulah yang membuat dia
berbeda dengan hewan.
2.
Ikrar manusia dihadapan Allah Q.S. Al-A’raf ayat 172
Ini ikrar manusia ketika di alam ruh :
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu
mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu adam keturunan mereka dan
Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku
ini Tuhanmu?” mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.”
(Kami lakukan yang demikian itu) agar dihari Kiamat kamu tidak mengatakan,
“Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.”
Ini merupakan sesuatu yang unik, ternyata dialam ruh, manusia sudah
bisa berbicara. Allah SWT bertanya “Alastu birobbikum?”
dan manusia menjawab “Balaa syahidnaa”
berarti dia itu mengerti, memahami pertanyaan itu, dan bukan hanya mengerti
tetapi juga bisa menjawabnya.
Dan manusia mengerti sifat individu dan
multiple (banyak). Kata syahidnaa
“Kami bersaksi” kami disini berarti mengerti ada jamak, makna banyak dari yang
sedikit. Manusia mengerti tentang individu dan mengerti tentang banyak.
Maka argumentasi Prof. Al-Attas dalam
hal ini adalah manusia itu berbahasa dan berbicara sudah sejak di alam ruh.
Menurut teori sosial tentang bahasa, orang berbahasa itu asal mulanya dari
bunyi-bunyian, misalnya dari mendengar, ada suara, kemudian dia mengikuti suara
itu.
menurut Syekh Hamzah Yusuf diantara
teori sosial itu, misalnya ada batu bata, krakkk kemudian sering mendengar suara
seperti itu kemudian muncul suatu kosakata dari hal itu, krarkk kemudian
lama-lama menjadi rock rock, maka muncullah kata rock yang artinya batu, suara
anjing gug gug gug lama-lama jadi dog-dog dog, maka muncullah kata dog yang
artinya anjing. Dalam teori bahasa, manusia awalnya seperti hewan di gua jutaan
tahun yang lalu, ngomongnya ga jelas, artikulasinya ga jelas, a-u-a-u makanya
seperti hewan dan mereka tidak bisa menjelaskan apa-apa, dan dalam proses waktu yang lama kelamaan mereka
akhirnya bisa mengucapkan kata-kata kemudian secara perlahan bisa merangkai
kata-kata dan terbentuklah bahasa.
Kalau melihat Al-Qur’an sebenarnya
manusia itu sudah berbahasa dan berbicara
sejak dialam ruh, makanya manusia namanya Hayawan Natik. Bahkan Nabi
Adam sendiri disuruh oleh Allah untuk menyebutkan nama benda-benda, sehingga
kata pertama yang dipahami manusia adalah nama. Kemampuan berbahasa itu
dtanamkan oleh Allah, kata-kata sudah ada didalam diri kita, berbahasa itu
bukan sesuatu yang dari proses mencari tetapi sudah ditanamkan didalam diri
manusia, jadi manusia sudah punya potensi tinggal dikeluarkan.
Pikiran orang bisa dilihat dari cara
bicaranya, kalau bicaranya terstruktur berarti pikirannya juga terstruktur.
6.
Kesimpulan asal-usul manusia
1.
Manusia pada mulanya adalah ruh dan mengenal Tuhan sejak
masih dalam ruh.
Dasarnya adalah Q.S Al-A’raf ayat 172
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu
mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu adam keturunan mereka dan
Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku
ini Tuhanmu?” mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.”
(Kami lakukan yang demikian itu) agar dihari Kiamat kamu tidak mengatakan,
“Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.”
2.
Fitrah manusia yang hakiki adalah Islam yaitu telah mengenal
Allah sebagai
Rabbnya.
Dalilnya masih sama yaitu Q.S Al-A’raf
ayat 172. Makanya didalam islam, setiap anak yang lahir itu semuanya lahir
dalam keadaan fitrah, fitrah yang dimaksud disini adalah dia mengenal Tuhan,
dia sudah diperkenalkan dengan Allah Subhanahu Wata’ala, namun setelah diberi
jasad, dia diturunkan kedunia kemudian dia lupa, makanya kenapa manusia disebut
Insan, berasal dari kata Nasiyah artinya lupa, kata Ibnu Abbas manusia itu
disebut Al-Insaan karena dia telah berikrar/berjanji kepada Allah tetapi lupa.
3.
Dunia itu sesuatu yang dekat dengan kesadaran jasmani kita (sifat hewani).
Perumpamaan Ustadz Wendi, suatu
televisi dengan layar besar didekatkan dimuka kita, dalam TV itu ada film yang
sangat menarik, kemudian ada multimedia yang sangat canggih, seperti di bioskop
yang sekelilingnya gelap, dan perhatian kita hanya pada satu titik itu saja,
begitulah kira-kira kita melihat dunia, kita seakan-akan melihat bahwa realitas
yang ada semua hanyalah realitas fisik saja, apa yang kita lihat, apa yang kita
dengar, apa yang kita raba, apa yang kita cium. Itu terjadi ketika jiwa hewani
kita yang dominan, jiwa hewani adalah jiwa yang dekat dengan
keinginan-keinginan jasmaniah, keinginan-keinginan untuk hidup senang, makan
enak, pokoknya nyaman secara fisik, hal itu membuat kita terhijab, kita tidak
menyadari ada dunia diluar itu, padahal dunia itu lebih nyata, lebih riil untuk
kita perhitungkan daripada dunia material yang sekarang.
Makanya banyak agama-agama yang untuk
orang mencapai pada pemahaman dunia ini dengan pemahaman yang sebenar-benarnya
itu dengan cara meninggalkan kehidupan dunia (Kependetaan) di kuil-kuil, di
vihara-vihara, kemudian mengurangi makan, makan yang sederhana, pakaian yang
sangat sederhana, menjauhi semua kenikmatan harta, tahta atau wanita,
ditinggalkan semuanya itu,
7.
Kehidupan dunia
1. Dalam
islam kita tidak disuruh meninggalkan dunia, tapi selalu diingatkan bahwa dunia
itu menipu, main-main, tipu daya, senda gurau, agar kita tidak terjebak pada
kehidupan dunia
2. Dunia
hanya sebagai sarana mengenal Allah, dunia pun punya kebaikan, bahwa alam yang
kita tinggali sekarang itu menyajikan kebesaran Allah Subhanahu Wata’ala, itu
menjadi sarana kita untuk mengenal Allah, jadi kalau orang bisa mengaktifkan
qalbunya, dia akan melihat semua alam ini merupakan tanda-tanda kebesaran Allah,
tanda-tanda keagungan Allah Subhanahu Wata’ala, itu kalau jiwa akalinya/qalbunya
itu lebih dominan daripada jiwa hewaninya. Oleh karena itu dzikir adalah
perbuatan yang dianjurkan terus-menerus utnuk mengingatkan kembali asal usul
manusia dan tujuan hidupnya, jadi salah satu fungsi dzikir itu mengingatkan
manusia pada asal-usulnya, manusia asal usulnya dari Allah Subhanahu Wata’ala
dan akan kembali lagi kepada Allah, dan mengingatkan tujuan hidupnya itu untuk
mengabdi kepada Allah, bukan kepada hal lain tapi utk mengenal dan mengabdi
kepada Allah.
8.
Fungsi Agama Islam
Sehingga fungsi agama islam yaitu untuk
membimbing kita, walaupun manusia sampai ke dunia ini lupa, tapi melalui agama
islam kita dibimbing, ada Rasul-rasul dan kitab-kitab yang membimbing, sehingga
manusia tidak tersesat kalau berpegang pada hal itu. Jadi dalam konteks ini
fungsi agama adalah untuk mengetahui asal-usul kita, tujuan hidup kita apa,
sehingga menjadi tenang.
Orang barat itu dia tidak tahu tujuan
hidupnya apa, paling tinggi tujuan hidupnya adalah dunia ini, makanya dia akan
melakukan apapun untuk menikmati dunia ini, kerja keras siang dan malam, nanti
akhir tahun dia berlibur, jadi tujuannya untuk berlibur, kerja keras lagi
selama setahun, kemudian berlibur, jalan-jalan, menikmati hidup.
Guru bahasa Inggris Ustadz Wendi
umurnya 29 tahun, dia bilang : “Umur saya sudah 29 tahun, saya belum
kemana-mana nih, saya belum ke Brazil, saya belum ke ini, saya belum ke itu...”
jadi yang dibenaknya itu adalah kenikmatan hidup apa yang belum dia capai, itu
karena dia tidak punya tujuan, tujuannya terbatas pada kehidupan dunia saja.
Allah tidak membiarkan manusia lupa
kepada asal-usulnya. Maka Allah turunkan Nabi dan Rasul serta Kitab Suci untuk
membimbing manusia.
9.
Ta’rif Manusia
Apakah manusia itu? Manusia itu hayawan
natiq :
1. Ta’rif
Manusia : Hayawan Natiq (Hewan yang (punya kuasa) berbicara (nutq))
2. Berbicara
disini bukan hanya mengeluarkan suara tapi suaranya bermakna dan punya pola-pola
tertentu. Dan berbicara itu juga bermakna dia mampu menjelaskan, mampu
berkomunikasi, mampu memahami dan membuat suatu konseptualisasi.
Ketika kita bicara orang bisa faham,
dan bukan hanya memahami saja tetapi bisa menjawab, meresponnya dengan jawaban,
hewan juga bisa merespon apa yang kita katakan tapi sangat terbatas, dia tidak
bisa menjawab, kalau anjing dia hanya menggonggong saja, suara ngonggongannya
sama untuk gonggongan senang, ada musuh, dan lainnya. Ini menjelaskan bahwa di
alam ruh manusia sudah mengerti bahkan sudah mampu memberi jawaban, jadi bahasa
itu adalah sesuatu yang sudah given, sejak manusia dialam ruh, makanya ulama
islam lebih memilih hayawan natiq, hewan yang berbicara, bukan hewan yang
berakal, atau hewan rasional, karena kalau rasional itu sesuatu yang tidak
mudah dipahami orang karena sifatnya abstrak, berbicara itu kelihatan, berbicara
itu lebih mudah difahami.
3. Dari
natiq muncul istilah mantiq (logic), suatu pembicaraan yang sistematis menggunakan
penalaran.
4. Manusia
bisa jatuh lebih rendah dari hewan (Al-A’raf ayat 179)
Al-Qur’an mengatakan, orang yang punya
hati tapi dia tidak dipakai untuk mengerti, punya mata tidak dipakai untuk
melihat, punya telinga tapi tidak bisa mendengar, dalam pengertian dia tidak
mengerti pesan-pesan Allah kepada dirinya, Allah mengatakan orang itu tidak
layak sebagai manusia, dia adalah hewan.
Ada orang yang melakukan perkawinan
sejenis (homoseksual), kalau dalam pemikiran orang barat ini adalah hak asasi
manusia, pertanyaannya siapa yang kita maksud dengan manusia? apa kita layak menyebut
orang yang seperti itu manusia? Yang dia tidak mengerti bahwa hal itu adalah
hal yang terkutuk dalam pandangan agama, jangankan pandangan agama, dalam pandangan
manusia saja kalau manusia itu berfikir sedikit, sudah jelas itu suatu
kesesatan yang nyata, apa layak orang yang seperti itu disebut manusia? orang
yang mengatakan bahwa ini adalah hak asasi manusia, apa bisa kita katakan orang
yang punya keinginan seperti itu (homoseksual) sebagai manusia? Kalau dalam
ayat ini ya tidak layak disebut manusia, jadi tidak ada yang namanya hak asasi
manusia untuk hal yang seperti itu, padahal kita tahu bahwa yang namanya hak,
itu adalah sesuatu yang harus berkaitan dengan kebenaran, mana mungkin hak itu
bukan sesuatu yang benar.
10.
Tamsil Manusia
Hakikat manusia itu dia mempunyai
jasmani dan rohani, dengan penekanan pada rohaninya. Imam Al-Gazzali
mengumpamakan hubungan Jasmani dan Rohani itu seperti Kuda dan Penunggangnya.
Penunggang dan Kuda
|
Ruh dan Jasad
|
Kuda dan Penunggangnya saling
melengkapi
|
Ruh dan Jasad saling melengkapi
|
Penunggang mengendalikan Kuda
|
Ruh mengarahkan jasad (ruh lebih
mulia dari jasad)
|
Kuda dan Penunggangnya harus dirawat,
diberi makan dan diobati
|
Ruh dan Jasad harus dirawat, diberi
makan dan diobati bila sakit.
|
Dimana
si penunggang ini rohaninya dan kuda jasmaninya, kita sebenarnya menunggangi
jasmani ini dan ketika manusia meninggal rohaninya itu dicabut dari
tunggangannya itu, berpisahnya rohani dari jasmani, jadi kematian bukanlah
kehancuran, yang hancur hanya jasmaninya saja, rohaninya kembali kepada Allah Subhanahu
Wata’ala.
Jasmani dan rohani saling melengkapi,
tetapi rohani yang paling utama, karena dia adalah penunggangnya, dia pula yang
menggerakkan.
Ada satu pertanyaan kepada Ibnu Sina, “Darimana
kita tahu ada rohani?” “Ruh kita Tidak bisa kita lihat, saya mengatakan saya,
itu siapa yang dimaksud dengan saya? saya itu apakah tubuh ini? bukan itu yang
dimaksud dengan saya, saya itu adalah suatu ruh yang mengendalikan tubuh ini,
yang letaknya entah dimana, tapi dia ada yang ketika kita mengatakan saya, maka
saya itu bukan saya jasmani, tapi saya rohani. “ Itulah argumentasi Ibnu Sina.
Ruh dan Jasad harus dirawat, diberi
makan dan diobati bila sakit. Sekarang ini seringkali penekanan kita pada
jasmaniyah saja, itu dia masalahnya. Sebagaimana yang terjadi dibarat, aspek
yang paling kita pentingkan yaitu aspek jasmani, seperti sekolah kepribadian,
kalau kata kepribadian itu adalah bagaimana cara berjalan, bagaimana cara
berpakaian, bagaimana memilih warna yang match antara atas dengan bawah dengan
sepatunya dengan tasnya, bagaimana cara berbicara, itu sebenarnya jasad semua.
Ketika berbicara pendidikan pun sama, kita
menekankan aspek-aspek bukan rohani, tapi aspek-aspek jasmaniyah atau apa yang
mendukung pada pencapaian jasmaniyah itu. Seperti sekolah untuk mendapat
pekerjaan. Kenapa supaya mendapat pekerjaan? Ya supaya hidupnya enak, itu
adalah keperluan jasmaniyah juga.
Ustadz Wendi menulis dalam bukunya,
suatu ketika ustadz ditanya oleh anaknya, “Yah, kebutuhan manusia itu apa
saja?” kemudian Ustadz Wendi menyebutkan bahwa kebutuhan primer manusia itu
pangan, kemudian sekundernya sandang, dan tersiernya papan. Setelah itu Ustadz
Wendi tersadar, beliau bertanya, dan pertanyaannya
dimana agama? Kita menganggap agama itu ga penting, tidak menganggap agama itu
sebagai kebutuhan, Itulah kalau paham materialistis sudah mendominasi kita,
dipelajaran sekolah kita diajari seperti itu.
Maka dalam islamisasi ilmu. kita
mengoreksi ini, bahwa yang namanya kebutuhan itu bukan kebutuhan yang sifatnya
fisikal, kita sering membahas itu kalau kajian dimasjid saja. Ketika dimasjid
baru membahas tentang penyakit hati, tentang perlunya memperbaiki akhlak, tapi
ke sekolah yang dipelajarinya apa?
Sama seperti kita berbicara tentang
sejarah manusia, dalam buku Sejarah SMA yang dikarang Ustadz Tiar Anwar
Bachtiar, idenya kalau kita bicara sejarah manusia, bukan berbicara makhluk
gua, yang sebenarnya belum tentu manusia, bahkan kita yakin itu bukan manusia,
kalu kita bicara sejarah manusia, sejarah itukan artinya apa? Sejarah itu kan
bahasa arab dari syajarah (pohon), pohon yang punya akar, dia melihat akarnya
darimana, kalau bicara manusia paling awal, maka kita bicara itu adalah dialam ruh
tadi, maksudnya ketika manusia diciptakan oleh Allah, kemudian berikarar
dihadapan Allah “Alastu birobbikum”, “Balaa syahidnaa”,
jadi kalau kita bikin buku sejarah harusnya asal-usul manusia itu ya dari situ,
tapi yang terjadi sekarang ga begitu, anak-anak diajarin bahwa dulu kita itu
kera, terus jadi manusia gua, kemudian berkembang-berkembang-berkembang,
kemudian bisa bertani, bisa mengendalikan hewan, dalam ilmu sosial, peradaban
itu muncul ketika manusia melakukan domestikasi hewan, maksudnya menernak
hewan, kuda menjadi peliharaan, ditunggangi, kemudian sapi atau kerbau jadi
pembajak sawah, dari situ munculnya peradaban. Lalu agama dimana letaknya? Beribadah
kepada Allah dimana letaknya? Dalam sejarah peradaban manusia tidak muncul
disitu. Padahal Nabi Adam sejak diturunkan oleh Allah sudah mengenal beribadah
kepada Allah, manusia pertama dimuka bumi itu sudah beribadah kepada Allah,
bahkan Ka’bah adalah rumah ibadah pertama dimuka bumi. Artinya manusia sudah
beribadah sejak awalnya, sejak Nabi Adam pertama kali diciptakan, konsep
seperti ini yang perlu kita eksplorasi dalam pendidikan, karena banyak sekali
hal-hal yang tanpa sadar, agama dan sains atau agama dan ilmu sosial itu tidak
ada ketemunya, ini ranah yang berbeda, perpektif kebenarannya pun berbeda, ini
benar menurut ilmu sosial, ini benar menurut ilmu agama, jadi yang benar yang
mana? Karena kebenarannya ga menyatu, terjadi dikotomi, makanya ide islamisasi
itu untuk hal yang seperti itu,
11.
Ruh manusia (al-Ruh)
Alq,
Nafs, Qalb ini sebenarnya merujuk pada hal yang sama, hanya saja dalam konteks
apa kita bicara :
1. Intelek
(Aql) : Ruh dikaitkan dengan
pemahaman (organ kognitif rasional)
Kalau kita berbicara ruh, itu berarti
pemahaman terhadap aspek-aspek rasional, kita menyebutnya dengan akal.
2. Jiwa
(Nafs) : Ruh dikaitkan dengan
pengaturan jasad.
3. Hati
(Qalb) : Ruh dikaitkan dengan
Pengalaman intuisi (spiritual).
Dan kita menyebut ruh jika kaitannya
dengan alam dunia (diluar alam material sekarang), diumpamakan seperti Ustadz
Wendi dirumah terhadap istrinya beliau adalah suami, terhadap anaknya beliau
adalah ayah, terhadap mahasiswanya beliau adalah guru, terhadap gurunya beliau
adalah murid, terhadap presiden beliau adalah rakyat, jadi kita berbicara dalam
konteks apa, ini hanya beberapa istilah saja.
12.
Tujuan Penciptaan Manusia
1. Menunaikan
amanah Allah sebagai Khalifah (wakil) Allah dibumi, bukan diusir dari syurga (Q.S.
Al-Baqarah ayat 30)
Khalifah adalah wakil, atau pengganti.
Khalifah itu bukan dalam artian pemimpin, tetapi pengganti Allah. Allah memberi
manusia amanah utk mengurus dunia ini menggantikan Allah.
2. Beribadah
kepada Allah (Q.S. Adz-Dzariyaaat ayat 56)
Ini konsep yang penting, walaupun kalau
kita bicara tujuan hidup manusia adalah beribadah kepada Allah seakan-akan
berat, apa betul hidup kita utk ibadah? Padahal setiap shalat kita selalu
berdoa “innashalaati wanusuki wamahyaya wamamati lillahirobbil’aalamiin”
Sesungguhnya shalatku, hidupku, matiku, semuanya
hanya utk Allah.
Tetapi konsep ini kita terima dulu, dalam
perjalanan waktu, perlahan-lahan kalau kita betul-betul bersungguh-sungguh untuk
mengamalkannya insyaAllah kita akan sampai pada pemahaman itu.
3. Akhir
hidupnya akan kembali kepada Allah
13.
Kemuliaan manusia
1.
Manusia mulia karena punya ilmu
Karena dia adalah makhluk yang bisa
mendapatkan ilmu untuk memperoleh kebenaran.
2.
Manusia menerima amanah
Dimana seluruh makhluk lain menolak
amanah itu, tetapi manusia malah menerimanya.
3.
Bentuk paling sempurna, dalam artian
karena diberi akal
4.
Malaikat sujud kepada Nabi adam
Malaikat yang tidak pernah berbuat
ingkar kepada Allah disuruh sujud kepada Nabi Adam (kepada manusia) untuk menghormati,
jadi walaupun manusia banyak salah, tetapi ternyata malaikat kedudukannya lebih
rendah daripada manusia, tetapi walaupun manusia punya kemuliaan tetapi ia bisa
jatuh lebih rendah daripada hewan, kalau dia tidak menggunakan karunia Allah Subhanahu
Wata’ala itu untuk menyampaikannya pada pemahaman tentang ayat-ayat Allah.
14.
Kebebasan dan keadilan diri
1. Manusia
memiliki dua jiwa yaitu Akali dan Hewani
Imam Al-Ghazali mengatakan manusia itu
terdiri dari jiwa akali dan Hewani, dan yang berjanji kepada Allah adalah jiwa
akalinya, yang mengatakan “Balaa syahidnaa” adalah jiwa akali, dan jiwa inilah
yang mengenal kebenaran. Dan jiwa hewani ini adalah jiwa yang dekat dengan
kecenderungan jasmani kita, yang suka melampaui batas, bodoh, tetapi bukan berarti
jiwa hewani ini tidak penting, sebab jiwa hewani juga diperlukan, kalau kita
tidak punya keinginan makan, tentu rusaklah jasad (badan) kita, kalau tidak ada
keinginan pada lawan jenis, spesies manusia akan hilang (tidak ada keturunan),
jiwa hewani ini tercela kalau dia menguasai jiwa akali, kalau dia berada dalam
penguasaan jiwa akali, itu tidak masalah, bahkan itulah keadilan, jadi dua jiwa
ini selalu dalam keadaan bersaing (jiwa hewani dan akali).
Dalam Al-qur’an Q.S Asy-Syams ayat 8 disebutkan
“Faal
hamaha fujuurohaa wa taqwaahaa”, maka Dia mengilhamkan padanya (jalan)
kejahatan dan ketakwaan. jadi kedua jiwa ini selalu bersaing, pemenangnya akan
menentukan watak jasmani seseorang, jiwa apa yang menguasai jiwa kita, akan
muncul dalam aktivitas kita.
2. Jiwa
akali/rasional (nafs al-natiqah) jiwa
yang tinggi
3. Jika
jiwa akali menguasai jiwa hewani, maka terciptalah keadilan (artinya sesuatu
berada pada tempatnya)
Tempat yang benar adalah jiwa akali
yang menguasai jiwa hewani, dia harus berada diatas, jadi kalau presiden yang
berkuasa tetapi yang menguasai rakyat itu artinya tidak sesuai dengan
tempatnya.
Dan jika jiwa hewani yang menguasai
jiwa akali, maka terciptalah kezaliman.
Adil itu lawannya adalah zalim, adil
itu adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya, zalim itu adalah mengubah sesuatu
dari tempat yg seharusnya.
Kalau kita memikirkan alam ini, Allah Subhanahu
Wata’ala menciptakan alam ini semuanya itu dengan keadilan artinya pada
tempat-tempat yang sesuai. Jadi kalau misalnya kursi digunakan untuk berdiri, berarti
itu tidak pada tempatnya, tapi kalau kita menggunakannya untuk duduk berarti
pada tempatnya, artinya kita menegakkan keadilan pada kursi itu, jadi kalau
fungsinya dirubah maka yang terjadi adalah kezaliman, karena dia diciptakan bukan
untuk berdiri tapi untuk duduk.
Jadi keadilan itu muncul jika sesuatu
digunakan sesuai dengan tujuan penciptaannya. Manusia itu tujuan penciptaannya
untuk beribadah kepada Allah, kalau dia ingkar berarti dia Zalim pada dirinya,
karena tidak sesuai dengan tujuan penciptaannya.
Do’a Nabi Adam AS, ketika melanggar
perintah Allah Subhanahu Wata’ala untuk tidak mendekati pohon khuldi, “Robbana
Dzalamnaa ... Wahai Tuhan kami, kami telah berbuat dzalim... Anfusana...pada
diri kami...”
Dan ini juga memberi suatu gambaran
kepada kita, bahwa keadilan itu harus diterapkan pada diri kita sendiri, jadi
makna keadilan itu bukan terbatas pada hubungan kita kepada orang lain, bukan
kita kepada tetangga kita, bukan rakyat dan pemerintah, atau pedagang dengan pembeli,
bukan antara dua pihak saja, tapi antara kita dengan diri kita sendiri.
Jadi keadilan tertinggi adalah Tauhid,
dan kedzaliman tertinggi adalah syirik, karena tidak menempatkan Allah pada
haknya.
Sebenarnya semua bentuk kedzaliman kepada
manusia, kedzaliman kepada Allah juga pada akhirnya, karena ketika kita tidak
menggunakan semua yang Allah berikan kepada kita sesuai dengan ketentuan-Nya
itu adalah kedzaliman, termasuk terhadap diri kita sendiri.
4. Manusia
bebas adalah manusia yang dapat mewujudkan keadilan dalam dirinya
Paham kebebasan dalam diri kita adalah ketika
sesuai dengan tujuan penciptaannya, sedangkan keterbelengguan adalah yang tidak
sesuai dengan tujuan penciptaannya, dimana jiwa hewani menguasai jiwa akali.
Orang berbicara kebebasan sekarang adalah
kebebasan yang sesungguhnya ia adalah keterbelengguan (jiwa hewani menguasai
jiwa akali), “saya mau ini maka tercapai/dipenuhi itulah kebebasan”, padahal
bagi muslim itu adalah keterbelengguan, karena dia dikuasai oleh sesuatu yang
tidak layak menguasainya, seharusnya yeng menguasai dia adalah jiwa akali, maka
kebebasan bagi kita adalah bukanlah kebebasan dalam pengertian bahwa apa yang
kita inginkan tercapai, atau tidak dibelenggu.
Kosa kata kebebasan dalam islam itu
menurut Prof Al-Attas yang paling patut adalah ikhtiar, selama ini kita
memahami ikhtiar itu adalah usaha, sebenarnya maknanya dari kata “khair”
artinya memilih yang paling baik, itulah kebebasan.
Kebebasan dalam pengertian kita adalah
ikhtiar, memilih yang paling baik. Kalau kita mengatakan memilih yang paling
baik, maka ada ilmu disana, kalau memilih tanpa ilmu, itu bukan ikhtiar, bukan
kebebasan, justru keterbelengguan.
Pada akhirnya tugas utama manusia atau
amanah manusia sebagai khalifah dibumi adalah mewujudkan keadilan, dan tempat
pertama terwujudnya keadilan itu adalah dirinya sendiri, kemudian alam
sekitarnya.
Menegakkan keadilan pada diri kita,
jadi kalau kita tidak bisa berbuat adil pada diri kita, pada akhirnya kita
tidak bisa berbuat adil kepada yang lain.
*Disampaikan
oleh Oleh Dr.
Wendi Zarman, Resume oleh Evi Apriyani dalam
Perkuliahan “Islamic Worldview” pertemuan ke 5 @UNIKOM R4507

0 komentar:
Posting Komentar