Senin, 22 Desember 2014

KONSEP MANUSIA*


1.        Pentingnya mengenal diri
“Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu”
Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka sungguh dia akan mengenal Tuhannya.
~Atsar~
Atsar : Berita dari sahabat Rasul
Menurut Imam Al-Ghazzali ini adalah sebuah hadits, namun kedudukan hadistnya tidak tahu, apakah shahih atau dhaif dan ini sangat masyhur dikalangan Tasawuf.
Kita mengenal diri kita dalam rangka mengenal Allah. Mengenal bukan secara lahiriah saja, misalnya lahir di indonesia, lahir dari ayah-ibu siapa, dari suku mana, tinggi badan berapa, tinggal dimana, dll. tetapi lebih kepada mengenal pribadi. Mengenal diri = Mengenal Allah dalilnya ada dalam Q.S Adz-Dzariyat (51) : 20-21
“Dan dibumi terdapat tanda-tanda (Kebesaran Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri, Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”
2.        Pertanyaan dasar
1.        Darimana asal-usulnya
Merupakan suatu keinginan dari manusia untuk mengetahui asal-usulnya darimana. Bahkan seorang anak yatim piatu, akan bertanya bapaknya siapa? ibunya siapa? Kalaupun orangtuanya sudah meninggal dimana makamnya? kalau masih hidup dimana tinggalnya?  bagaimana caranya supaya bisa bertemu?
2.        Kemana tujuan hidupnya
Orang-orang Atheis memandang alam ini tanpa tujuan (Useless) karena mereka mengingkari adanya Pencipta. Maka bagi mereka yang paling penting bagaimana menikmati hidup ini, bagaimana bersenang-senang, menghabiskan waktu untuk hal-hal yang mereka sukai. Tapi sebenarnya mereka hidup dalam tekanan bathin yang terus menerus, makanya banyak yang bunuh diri, karena mereka tidak memahami tujuan hidup.
3.        Apakah hakikat Manusia itu.
kita ini siapa, diri kita ini siapa?
4.        Bagimana kebahagiaan itu dapat dicapai.
Tujuan semua manusia adalah bahagia. Bahkan ke medan perang pun tujuannya bahagia, karena berharap ada kebahagiaan sesudah itu.
3.        Pengantar dari Imam Al-Ghazzali
v Pekerjaan hewan hanyalah makan, minum dan berkelahi, karena itu jika anda hewan, sibukkanlah diri anda dengan pekerjaan-pekerjaan ini.
v Setan selalu sibuk mengobarkan kejahatan, jika anda masuk kelompok mereka, kerjakan pekerjaan mereka
v Malaikat selalu melakukan keinginan Tuhan, jika anda mempunyai sifat-sifat mereka maka berjuanglah untuk mencapai sifat-sifat  asal  anda, agar bisa anda kenali dan kemudian mematuhi serta merdeka dari perbudakan nafsu dan amarah (Kimia Kebahagiaan)
4.        Darimana asal usul manusia

Dalam sekolah-sekolah kita selalu diajarkan tentang teori evolusi manusia yaitu Theori yang mengatakan manusia berasal dari kera yang bungkuk menjadi hewan yang berjalan tegak.

Ini berlangsung suatu evolusi yang secara lambat selama jutaan tahun yang lalu. Entah darimana mereka mendapatkan ilustrasi seperti gambar diatas ini. Jika dari fosil, apakah iya 7 juta tahun yang lalu itu masih ada dan lengkap?
Prof Al-Attas percaya  sejauh-jauhnya jarak antara manusia pertama yaitu Nabi Adam dengan manusia sekarang  sekitar 7-10 ribu tahun yang lalu berdasarkan estimasi tertentu.
Jadi kalau diatas 10 ribu tahun itu tidak masuk akal, apalagi jutaan tahun yang lalu. Maka yang menjadi pertanyaan adalah :
1.    Apakah betul ada fosil yang usianya jutaan tahun yang lalu?
2.    Apakah betul fosil itu adalah manusia?
Kalau pun ada fosilnya, bagaimana membuktikan bahwa itu manusia? Jika dikatakan DNA nya mirip, banyak ilmuwan sekarang membuktikan DNA manusia mirip dengan DNA hewan, tapi tidak membuat kita sama dengan mereka.
Sebenarnya asumsi mereka adalah bentuk tubuh yang mirip maka disimpulkan : makhluk yang sama. Contohnya seorang manusia mempunyai hewan kesayangan yaitu Simpanshe,  meninggal dihari yang sama dikubur bersebelahan. Kemudian satu juta tahun kemudian ada arkeolog dimasa depan menggali, maka disimpulkan mungkin mereka adalah kakak-adik, atau ayah-anak.
Maka sebenarnya teori evolusi adalah politik Sains. Di Amerika tidak boleh mengajarkan Science Creation, itu melanggar undang-undang, tapi yang diajarkan adalah Evolution. Karena menurut mereka kalau kita mengajarkan ada Tuhan, maka itu adalah mengajar Agama. Kalau mengajar agama dalam sains itu adalah suatu hal tercela, karena ranahnya berbeda. Mencampuradukkan antara agama dan sains adalah berbahaya bagi mereka.
Maka sebenarnya Evolusi ini adalah politik untuk mengajarkan supaya orang jangan mencampuradukkan agama dengan sains. Secara argumentasi logis kita bisa mengatakan bahwa Evolusi itu tidak punya pondasi yang kuat. Lucunya ini malah menjadi ideologi.
Kita lupa bahwa manusia itu makhluk Ruh, manusia bukan hanya terdiri dari jasmani tetapi juga Rohani.
5.        Ayat tentang Penciptaan Manusia
1.        Dalil Penciptaan manusia Q.S. Al-Mu’minuun ayat 12-14
Ayat ini sering menjadi dalil oleh penulis sains islam untuk menegaskan proses penciptaan manusia didalam rahim.

“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami menjadikannya nuthfah (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian nuthfah itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik.”

Didalam Al-Qur’an sering menggunakan kata Kami jadikan, ada perbedaan antara Menjadikan dan Menciptakan, Menciptakan itu membuat sesuatu dari tidak ada menjadi ada, sedangkan Menjadikan itu dia sudah ada, tetapi dirubah.
Makhluk yang lain disini dalam artian “pemberian akal”, itu menunjukkan bahwa manusia berbeda dengan hewan. Secara fisik dia punya sifat-sifat hewan tapi dengan pemberian akal itulah yang membuat dia berbeda dengan hewan.
2.        Ikrar manusia dihadapan Allah Q.S. Al-A’raf ayat 172
Ini ikrar manusia ketika di alam ruh :
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar dihari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.”

Ini merupakan sesuatu  yang unik, ternyata dialam ruh, manusia sudah bisa berbicara. Allah SWT bertanya Alastu birobbikum? dan manusia menjawab Balaa syahidnaa berarti dia itu mengerti, memahami pertanyaan itu, dan bukan hanya mengerti tetapi juga bisa menjawabnya.
Dan manusia mengerti sifat individu dan multiple (banyak). Kata syahidnaa “Kami bersaksi” kami disini berarti mengerti ada jamak, makna banyak dari yang sedikit. Manusia mengerti tentang individu dan mengerti tentang banyak.
Maka argumentasi Prof. Al-Attas dalam hal ini adalah manusia itu berbahasa dan berbicara sudah sejak di alam ruh. Menurut teori sosial tentang bahasa, orang berbahasa itu asal mulanya dari bunyi-bunyian, misalnya dari mendengar, ada suara, kemudian dia mengikuti suara itu.
menurut Syekh Hamzah Yusuf diantara teori sosial itu, misalnya ada batu bata, krakkk kemudian sering mendengar suara seperti itu kemudian muncul suatu kosakata dari hal itu, krarkk kemudian lama-lama menjadi rock rock, maka muncullah kata rock yang artinya batu, suara anjing gug gug gug lama-lama jadi dog-dog dog, maka muncullah kata dog yang artinya anjing. Dalam teori bahasa, manusia awalnya seperti hewan di gua jutaan tahun yang lalu, ngomongnya ga jelas, artikulasinya ga jelas, a-u-a-u makanya seperti hewan dan mereka tidak bisa menjelaskan apa-apa, dan dalam  proses waktu yang lama kelamaan mereka akhirnya bisa mengucapkan kata-kata kemudian secara perlahan bisa merangkai kata-kata dan terbentuklah bahasa.
Kalau melihat Al-Qur’an sebenarnya manusia itu sudah berbahasa dan berbicara  sejak dialam ruh, makanya manusia namanya Hayawan Natik. Bahkan Nabi Adam sendiri disuruh oleh Allah untuk menyebutkan nama benda-benda, sehingga kata pertama yang dipahami manusia adalah nama. Kemampuan berbahasa itu dtanamkan oleh Allah, kata-kata sudah ada didalam diri kita, berbahasa itu bukan sesuatu yang dari proses mencari tetapi sudah ditanamkan didalam diri manusia, jadi manusia sudah punya potensi tinggal dikeluarkan.
Pikiran orang bisa dilihat dari cara bicaranya, kalau bicaranya terstruktur berarti pikirannya juga terstruktur.
6.        Kesimpulan asal-usul manusia
1.  Manusia pada mulanya adalah ruh dan mengenal Tuhan sejak masih dalam ruh.
Dasarnya adalah Q.S Al-A’raf ayat 172
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar dihari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.”

2.  Fitrah manusia yang hakiki adalah Islam yaitu telah mengenal Allah sebagai Rabbnya.
Dalilnya masih sama yaitu Q.S Al-A’raf ayat 172. Makanya didalam islam, setiap anak yang lahir itu semuanya lahir dalam keadaan fitrah, fitrah yang dimaksud disini adalah dia mengenal Tuhan, dia sudah diperkenalkan dengan Allah Subhanahu Wata’ala, namun setelah diberi jasad, dia diturunkan kedunia kemudian dia lupa, makanya kenapa manusia disebut Insan, berasal dari kata Nasiyah artinya lupa, kata Ibnu Abbas manusia itu disebut Al-Insaan karena dia telah berikrar/berjanji kepada Allah tetapi lupa.
3.  Dunia itu sesuatu yang dekat dengan kesadaran  jasmani kita (sifat hewani).
Perumpamaan Ustadz Wendi, suatu televisi dengan layar besar didekatkan dimuka kita, dalam TV itu ada film yang sangat menarik, kemudian ada multimedia yang sangat canggih, seperti di bioskop yang sekelilingnya gelap, dan perhatian kita hanya pada satu titik itu saja, begitulah kira-kira kita melihat dunia, kita seakan-akan melihat bahwa realitas yang ada semua hanyalah realitas fisik saja, apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, apa yang kita raba, apa yang kita cium. Itu terjadi ketika jiwa hewani kita yang dominan, jiwa hewani adalah jiwa yang dekat dengan keinginan-keinginan jasmaniah, keinginan-keinginan untuk hidup senang, makan enak, pokoknya nyaman secara fisik, hal itu membuat kita terhijab, kita tidak menyadari ada dunia diluar itu, padahal dunia itu lebih nyata, lebih riil untuk kita perhitungkan daripada dunia material yang sekarang.
Makanya banyak agama-agama yang untuk orang mencapai pada pemahaman dunia ini dengan pemahaman yang sebenar-benarnya itu dengan cara meninggalkan kehidupan dunia (Kependetaan) di kuil-kuil, di vihara-vihara, kemudian mengurangi makan, makan yang sederhana, pakaian yang sangat sederhana, menjauhi semua kenikmatan harta, tahta atau wanita, ditinggalkan semuanya itu, 
7.        Kehidupan dunia
1.    Dalam islam kita tidak disuruh meninggalkan dunia, tapi selalu diingatkan bahwa dunia itu menipu, main-main, tipu daya, senda gurau, agar kita tidak terjebak pada kehidupan dunia
2.    Dunia hanya sebagai sarana mengenal Allah, dunia pun punya kebaikan, bahwa alam yang kita tinggali sekarang itu menyajikan kebesaran Allah Subhanahu Wata’ala, itu menjadi sarana kita untuk mengenal Allah, jadi kalau orang bisa mengaktifkan qalbunya, dia akan melihat semua alam ini merupakan tanda-tanda kebesaran Allah, tanda-tanda keagungan Allah Subhanahu Wata’ala, itu kalau jiwa akalinya/qalbunya itu lebih dominan daripada jiwa hewaninya. Oleh karena itu dzikir adalah perbuatan yang dianjurkan terus-menerus utnuk mengingatkan kembali asal usul manusia dan tujuan hidupnya, jadi salah satu fungsi dzikir itu mengingatkan manusia pada asal-usulnya, manusia asal usulnya dari Allah Subhanahu Wata’ala dan akan kembali lagi kepada Allah, dan mengingatkan tujuan hidupnya itu untuk mengabdi kepada Allah, bukan kepada hal lain tapi utk mengenal dan mengabdi kepada Allah.
8.        Fungsi Agama Islam
Sehingga fungsi agama islam yaitu untuk membimbing kita, walaupun manusia sampai ke dunia ini lupa, tapi melalui agama islam kita dibimbing, ada Rasul-rasul dan kitab-kitab yang membimbing, sehingga manusia tidak tersesat kalau berpegang pada hal itu. Jadi dalam konteks ini fungsi agama adalah untuk mengetahui asal-usul kita, tujuan hidup kita apa, sehingga menjadi tenang.
Orang barat itu dia tidak tahu tujuan hidupnya apa, paling tinggi tujuan hidupnya adalah dunia ini, makanya dia akan melakukan apapun untuk menikmati dunia ini, kerja keras siang dan malam, nanti akhir tahun dia berlibur, jadi tujuannya untuk berlibur, kerja keras lagi selama setahun, kemudian berlibur, jalan-jalan, menikmati hidup.
Guru bahasa Inggris Ustadz Wendi umurnya 29 tahun, dia bilang : “Umur saya sudah 29 tahun, saya belum kemana-mana nih, saya belum ke Brazil, saya belum ke ini, saya belum ke itu...” jadi yang dibenaknya itu adalah kenikmatan hidup apa yang belum dia capai, itu karena dia tidak punya tujuan, tujuannya terbatas pada kehidupan dunia saja.
Allah tidak membiarkan manusia lupa kepada asal-usulnya. Maka Allah turunkan Nabi dan Rasul serta Kitab Suci untuk membimbing manusia.
9.        Ta’rif Manusia
Apakah manusia itu? Manusia itu hayawan natiq :
1.    Ta’rif Manusia : Hayawan Natiq (Hewan yang (punya kuasa) berbicara (nutq))
2.    Berbicara disini bukan hanya mengeluarkan suara tapi suaranya bermakna dan punya pola-pola tertentu. Dan berbicara itu juga bermakna dia mampu menjelaskan, mampu berkomunikasi, mampu memahami dan membuat suatu konseptualisasi.
Ketika kita bicara orang bisa faham, dan bukan hanya memahami saja tetapi bisa menjawab, meresponnya dengan jawaban, hewan juga bisa merespon apa yang kita katakan tapi sangat terbatas, dia tidak bisa menjawab, kalau anjing dia hanya menggonggong saja, suara ngonggongannya sama untuk gonggongan senang, ada musuh, dan lainnya. Ini menjelaskan bahwa di alam ruh manusia sudah mengerti bahkan sudah mampu memberi jawaban, jadi bahasa itu adalah sesuatu yang sudah given, sejak manusia dialam ruh, makanya ulama islam lebih memilih hayawan natiq, hewan yang berbicara, bukan hewan yang berakal, atau hewan rasional, karena kalau rasional itu sesuatu yang tidak mudah dipahami orang karena sifatnya abstrak, berbicara itu kelihatan, berbicara itu lebih mudah difahami.
3.    Dari natiq muncul istilah mantiq (logic), suatu pembicaraan yang sistematis menggunakan penalaran.
4.    Manusia bisa jatuh lebih rendah dari hewan (Al-A’raf ayat 179)
Al-Qur’an mengatakan, orang yang punya hati tapi dia tidak dipakai untuk mengerti, punya mata tidak dipakai untuk melihat, punya telinga tapi tidak bisa mendengar, dalam pengertian dia tidak mengerti pesan-pesan Allah kepada dirinya, Allah mengatakan orang itu tidak layak sebagai manusia, dia adalah hewan.
Ada orang yang melakukan perkawinan sejenis (homoseksual), kalau dalam pemikiran orang barat ini adalah hak asasi manusia, pertanyaannya siapa yang kita maksud dengan manusia? apa kita layak menyebut orang yang seperti itu manusia? Yang dia tidak mengerti bahwa hal itu adalah hal yang terkutuk dalam pandangan agama, jangankan pandangan agama, dalam pandangan manusia saja kalau manusia itu berfikir sedikit, sudah jelas itu suatu kesesatan yang nyata, apa layak orang yang seperti itu disebut manusia? orang yang mengatakan bahwa ini adalah hak asasi manusia, apa bisa kita katakan orang yang punya keinginan seperti itu (homoseksual) sebagai manusia? Kalau dalam ayat ini ya tidak layak disebut manusia, jadi tidak ada yang namanya hak asasi manusia untuk hal yang seperti itu, padahal kita tahu bahwa yang namanya hak, itu adalah sesuatu yang harus berkaitan dengan kebenaran, mana mungkin hak itu bukan sesuatu yang benar.
10.     Tamsil Manusia
Hakikat manusia itu dia mempunyai jasmani dan rohani, dengan penekanan pada rohaninya. Imam Al-Gazzali mengumpamakan hubungan Jasmani dan Rohani itu seperti Kuda dan Penunggangnya.
Penunggang dan Kuda
Ruh dan Jasad
Kuda dan Penunggangnya saling melengkapi
Ruh dan Jasad saling melengkapi
Penunggang mengendalikan Kuda
Ruh mengarahkan jasad (ruh lebih mulia dari jasad)
Kuda dan Penunggangnya harus dirawat, diberi makan dan diobati
Ruh dan Jasad harus dirawat, diberi makan dan diobati bila sakit.

Dimana si penunggang ini rohaninya dan kuda jasmaninya, kita sebenarnya menunggangi jasmani ini dan ketika manusia meninggal rohaninya itu dicabut dari tunggangannya itu, berpisahnya rohani dari jasmani, jadi kematian bukanlah kehancuran, yang hancur hanya jasmaninya saja, rohaninya kembali kepada Allah Subhanahu Wata’ala.
Jasmani dan rohani saling melengkapi, tetapi rohani yang paling utama, karena dia adalah penunggangnya, dia pula yang menggerakkan.
Ada satu pertanyaan kepada Ibnu Sina, “Darimana kita tahu ada rohani?” “Ruh kita Tidak bisa kita lihat, saya mengatakan saya, itu siapa yang dimaksud dengan saya? saya itu apakah tubuh ini? bukan itu yang dimaksud dengan saya, saya itu adalah suatu ruh yang mengendalikan tubuh ini, yang letaknya entah dimana, tapi dia ada yang ketika kita mengatakan saya, maka saya itu bukan saya jasmani, tapi saya rohani. “ Itulah argumentasi Ibnu Sina.
Ruh dan Jasad harus dirawat, diberi makan dan diobati bila sakit. Sekarang ini seringkali penekanan kita pada jasmaniyah saja, itu dia masalahnya. Sebagaimana yang terjadi dibarat, aspek yang paling kita pentingkan yaitu aspek jasmani, seperti sekolah kepribadian, kalau kata kepribadian itu adalah bagaimana cara berjalan, bagaimana cara berpakaian, bagaimana memilih warna yang match antara atas dengan bawah dengan sepatunya dengan tasnya, bagaimana cara berbicara, itu sebenarnya jasad semua.
Ketika berbicara pendidikan pun sama, kita menekankan aspek-aspek bukan rohani, tapi aspek-aspek jasmaniyah atau apa yang mendukung pada pencapaian jasmaniyah itu. Seperti sekolah untuk mendapat pekerjaan. Kenapa supaya mendapat pekerjaan? Ya supaya hidupnya enak, itu adalah keperluan jasmaniyah juga.
Ustadz Wendi menulis dalam bukunya, suatu ketika ustadz ditanya oleh anaknya, “Yah, kebutuhan manusia itu apa saja?” kemudian Ustadz Wendi menyebutkan bahwa kebutuhan primer manusia itu pangan, kemudian sekundernya sandang, dan tersiernya papan. Setelah itu Ustadz Wendi tersadar, beliau  bertanya, dan pertanyaannya dimana agama? Kita menganggap agama itu ga penting, tidak menganggap agama itu sebagai kebutuhan, Itulah kalau paham materialistis sudah mendominasi kita, dipelajaran sekolah kita diajari seperti itu.
Maka dalam islamisasi ilmu. kita mengoreksi ini, bahwa yang namanya kebutuhan itu bukan kebutuhan yang sifatnya fisikal, kita sering membahas itu kalau kajian dimasjid saja. Ketika dimasjid baru membahas tentang penyakit hati, tentang perlunya memperbaiki akhlak, tapi ke sekolah yang dipelajarinya apa?
Sama seperti kita berbicara tentang sejarah manusia, dalam buku Sejarah SMA yang dikarang Ustadz Tiar Anwar Bachtiar, idenya kalau kita bicara sejarah manusia, bukan berbicara makhluk gua, yang sebenarnya belum tentu manusia, bahkan kita yakin itu bukan manusia, kalu kita bicara sejarah manusia, sejarah itukan artinya apa? Sejarah itu kan bahasa arab dari syajarah (pohon), pohon yang punya akar, dia melihat akarnya darimana, kalau bicara manusia paling awal, maka kita bicara itu adalah dialam ruh tadi, maksudnya ketika manusia diciptakan oleh Allah, kemudian berikarar dihadapan Allah “Alastu birobbikum”, “Balaa syahidnaa”, jadi kalau kita bikin buku sejarah harusnya asal-usul manusia itu ya dari situ, tapi yang terjadi sekarang ga begitu, anak-anak diajarin bahwa dulu kita itu kera, terus jadi manusia gua, kemudian berkembang-berkembang-berkembang, kemudian bisa bertani, bisa mengendalikan hewan, dalam ilmu sosial, peradaban itu muncul ketika manusia melakukan domestikasi hewan, maksudnya menernak hewan, kuda menjadi peliharaan, ditunggangi, kemudian sapi atau kerbau jadi pembajak sawah, dari situ munculnya peradaban. Lalu agama dimana letaknya? Beribadah kepada Allah dimana letaknya? Dalam sejarah peradaban manusia tidak muncul disitu. Padahal Nabi Adam sejak diturunkan oleh Allah sudah mengenal beribadah kepada Allah, manusia pertama dimuka bumi itu sudah beribadah kepada Allah, bahkan Ka’bah adalah rumah ibadah pertama dimuka bumi. Artinya manusia sudah beribadah sejak awalnya, sejak Nabi Adam pertama kali diciptakan, konsep seperti ini yang perlu kita eksplorasi dalam pendidikan, karena banyak sekali hal-hal yang tanpa sadar, agama dan sains atau agama dan ilmu sosial itu tidak ada ketemunya, ini ranah yang berbeda, perpektif kebenarannya pun berbeda, ini benar menurut ilmu sosial, ini benar menurut ilmu agama, jadi yang benar yang mana? Karena kebenarannya ga menyatu, terjadi dikotomi, makanya ide islamisasi itu untuk hal yang seperti itu,
11.     Ruh manusia (al-Ruh)
Alq, Nafs, Qalb ini sebenarnya merujuk pada hal yang sama, hanya saja dalam konteks apa kita bicara :
1.      Intelek (Aql) : Ruh dikaitkan dengan pemahaman (organ kognitif rasional)
Kalau kita berbicara ruh, itu berarti pemahaman terhadap aspek-aspek rasional, kita menyebutnya dengan akal.
2.      Jiwa (Nafs) : Ruh dikaitkan dengan pengaturan jasad.
3.      Hati (Qalb) : Ruh dikaitkan dengan Pengalaman intuisi (spiritual).

Dan kita menyebut ruh jika kaitannya dengan alam dunia (diluar alam material sekarang), diumpamakan seperti Ustadz Wendi dirumah terhadap istrinya beliau adalah suami, terhadap anaknya beliau adalah ayah, terhadap mahasiswanya beliau adalah guru, terhadap gurunya beliau adalah murid, terhadap presiden beliau adalah rakyat, jadi kita berbicara dalam konteks apa, ini hanya beberapa istilah saja.
12.     Tujuan Penciptaan Manusia
1.    Menunaikan amanah Allah sebagai Khalifah (wakil) Allah dibumi, bukan diusir dari syurga (Q.S. Al-Baqarah ayat 30)
Khalifah adalah wakil, atau pengganti. Khalifah itu bukan dalam artian pemimpin, tetapi pengganti Allah. Allah memberi manusia amanah utk mengurus dunia ini menggantikan Allah.
2.    Beribadah kepada Allah (Q.S. Adz-Dzariyaaat ayat 56)
Ini konsep yang penting, walaupun kalau kita bicara tujuan hidup manusia adalah beribadah kepada Allah seakan-akan berat, apa betul hidup kita utk ibadah? Padahal setiap shalat kita selalu berdoa “innashalaati wanusuki wamahyaya wamamati lillahirobbil’aalamiin”  Sesungguhnya shalatku, hidupku, matiku, semuanya hanya utk Allah.
Tetapi konsep ini kita terima dulu, dalam perjalanan waktu, perlahan-lahan kalau kita betul-betul bersungguh-sungguh untuk mengamalkannya insyaAllah kita akan sampai pada pemahaman itu.
3.    Akhir hidupnya akan kembali kepada Allah
13.     Kemuliaan manusia
1.             Manusia mulia karena punya ilmu
Karena dia adalah makhluk yang bisa mendapatkan ilmu untuk memperoleh kebenaran.
2.             Manusia menerima amanah
Dimana seluruh makhluk lain menolak amanah itu, tetapi manusia malah menerimanya.
3.             Bentuk paling sempurna, dalam artian karena diberi akal
4.             Malaikat sujud kepada Nabi adam
Malaikat yang tidak pernah berbuat ingkar kepada Allah disuruh sujud kepada Nabi Adam (kepada manusia) untuk menghormati, jadi walaupun manusia banyak salah, tetapi ternyata malaikat kedudukannya lebih rendah daripada manusia, tetapi walaupun manusia punya kemuliaan tetapi ia bisa jatuh lebih rendah daripada hewan, kalau dia tidak menggunakan karunia Allah Subhanahu Wata’ala itu untuk menyampaikannya pada pemahaman tentang ayat-ayat Allah.
14.     Kebebasan dan keadilan diri
1.    Manusia memiliki dua jiwa yaitu Akali dan Hewani
Imam Al-Ghazali mengatakan manusia itu terdiri dari jiwa akali dan Hewani, dan yang berjanji kepada Allah adalah jiwa akalinya, yang mengatakan “Balaa syahidnaa” adalah jiwa akali, dan jiwa inilah yang mengenal kebenaran. Dan jiwa hewani ini adalah jiwa yang dekat dengan kecenderungan jasmani kita, yang suka melampaui batas, bodoh, tetapi bukan berarti jiwa hewani ini tidak penting, sebab jiwa hewani juga diperlukan, kalau kita tidak punya keinginan makan, tentu rusaklah jasad (badan) kita, kalau tidak ada keinginan pada lawan jenis, spesies manusia akan hilang (tidak ada keturunan), jiwa hewani ini tercela kalau dia menguasai jiwa akali, kalau dia berada dalam penguasaan jiwa akali, itu tidak masalah, bahkan itulah keadilan, jadi dua jiwa ini selalu dalam keadaan bersaing (jiwa hewani dan akali).
Dalam Al-qur’an Q.S Asy-Syams ayat 8 disebutkan Faal hamaha fujuurohaa wa taqwaahaa, maka Dia mengilhamkan padanya (jalan) kejahatan dan ketakwaan. jadi kedua jiwa ini selalu bersaing, pemenangnya akan menentukan watak jasmani seseorang, jiwa apa yang menguasai jiwa kita, akan muncul dalam aktivitas kita.
2.    Jiwa akali/rasional (nafs al-natiqah) jiwa yang tinggi
3.    Jika jiwa akali menguasai jiwa hewani, maka terciptalah keadilan (artinya sesuatu berada pada tempatnya)
Tempat yang benar adalah jiwa akali yang menguasai jiwa hewani, dia harus berada diatas, jadi kalau presiden yang berkuasa tetapi yang menguasai rakyat itu artinya tidak sesuai dengan tempatnya.
Dan jika jiwa hewani yang menguasai jiwa akali, maka terciptalah kezaliman.
Adil itu lawannya adalah zalim, adil itu adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya, zalim itu adalah mengubah sesuatu dari tempat yg seharusnya.
Kalau kita memikirkan alam ini, Allah Subhanahu Wata’ala menciptakan alam ini semuanya itu dengan keadilan artinya pada tempat-tempat yang sesuai. Jadi kalau misalnya kursi digunakan untuk berdiri, berarti itu tidak pada tempatnya, tapi kalau kita menggunakannya untuk duduk berarti pada tempatnya, artinya kita menegakkan keadilan pada kursi itu, jadi kalau fungsinya dirubah maka yang terjadi adalah kezaliman, karena dia diciptakan bukan untuk berdiri tapi untuk duduk.
Jadi keadilan itu muncul jika sesuatu digunakan sesuai dengan tujuan penciptaannya. Manusia itu tujuan penciptaannya untuk beribadah kepada Allah, kalau dia ingkar berarti dia Zalim pada dirinya, karena tidak sesuai dengan tujuan penciptaannya.
Do’a Nabi Adam AS, ketika melanggar perintah Allah Subhanahu Wata’ala untuk tidak mendekati pohon khuldi, “Robbana Dzalamnaa ... Wahai Tuhan kami, kami telah berbuat dzalim... Anfusana...pada diri kami...”
Dan ini juga memberi suatu gambaran kepada kita, bahwa keadilan itu harus diterapkan pada diri kita sendiri, jadi makna keadilan itu bukan terbatas pada hubungan kita kepada orang lain, bukan kita kepada tetangga kita, bukan rakyat dan pemerintah, atau pedagang dengan pembeli, bukan antara dua pihak saja, tapi antara kita dengan diri kita sendiri.
Jadi keadilan tertinggi adalah Tauhid, dan kedzaliman tertinggi adalah syirik, karena tidak menempatkan Allah pada haknya.
Sebenarnya semua bentuk kedzaliman kepada manusia, kedzaliman kepada Allah juga pada akhirnya, karena ketika kita tidak menggunakan semua yang Allah berikan kepada kita sesuai dengan ketentuan-Nya itu adalah kedzaliman, termasuk terhadap diri kita sendiri.
4.    Manusia bebas adalah manusia yang dapat mewujudkan keadilan dalam dirinya
Paham kebebasan dalam diri kita adalah ketika sesuai dengan tujuan penciptaannya, sedangkan keterbelengguan adalah yang tidak sesuai dengan tujuan penciptaannya, dimana jiwa hewani menguasai jiwa akali.
Orang berbicara kebebasan sekarang adalah kebebasan yang sesungguhnya ia adalah keterbelengguan (jiwa hewani menguasai jiwa akali), “saya mau ini maka tercapai/dipenuhi itulah kebebasan”, padahal bagi muslim itu adalah keterbelengguan, karena dia dikuasai oleh sesuatu yang tidak layak menguasainya, seharusnya yeng menguasai dia adalah jiwa akali, maka kebebasan bagi kita adalah bukanlah kebebasan dalam pengertian bahwa apa yang kita inginkan tercapai, atau tidak dibelenggu.
Kosa kata kebebasan dalam islam itu menurut Prof Al-Attas yang paling patut adalah ikhtiar, selama ini kita memahami ikhtiar itu adalah usaha, sebenarnya maknanya dari kata “khair” artinya memilih yang paling baik, itulah kebebasan.
Kebebasan dalam pengertian kita adalah ikhtiar, memilih yang paling baik. Kalau kita mengatakan memilih yang paling baik, maka ada ilmu disana, kalau memilih tanpa ilmu, itu bukan ikhtiar, bukan kebebasan, justru keterbelengguan.
Pada akhirnya tugas utama manusia atau amanah manusia sebagai khalifah dibumi adalah mewujudkan keadilan, dan tempat pertama terwujudnya keadilan itu adalah dirinya sendiri, kemudian alam sekitarnya.
Menegakkan keadilan pada diri kita, jadi kalau kita tidak bisa berbuat adil pada diri kita, pada akhirnya kita tidak bisa berbuat adil kepada yang lain.

*Disampaikan oleh Oleh Dr. Wendi Zarman, Resume oleh Evi Apriyani dalam Perkuliahan “Islamic Worldview” pertemuan ke 5 @UNIKOM R4507

0 komentar:

 

Meninggalkan Jejak Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template