Bismillaah, walhamdulillaah, washshalaatu wassalaamu 'alaa rasulillaah.
Orang
mengatakan cinta membuat dunia berputar. Perkataan ini ada benarnya,
karena tanpa cinta maka tidak ada kehidupan. Tanpa cinta antara
laki-laki dan perempuan misalnya, maka akan musnahlah ras manusia di
bumi. Tanpa cinta orang tua anak-anak tak akan tumbuh dewasa. Tanpa
kecintaan kepada harta maka tidak akan ada kegiatan perdagangan dan
perindustrian. Tanpa cinta kepada pemimpin tak ada pemimpin yang
didengar perkataannya dan tak ada ulama yang dihiraukan pengajarannya.
Tanpa cinta kepada ilmu tidak akan ada ilmu yang berkembang sehingga
tidak ada peradaban. Tanpa cinta kepada manusia tidak ada tolong
menolong di antara manusia. Tanpa cinta orang kaya tidak akan peduli
kepada orang miskin.
Tapi, cinta juga tidak selalu bermanfaat
jika diletakkan pada tempat yang salah. Ada cinta yang menyebabkan
permusuhan dan peperangan. Ada cinta yang menyebabkan kelalaian. Ada
cinta yang memerosokkan kepada kemaksiatan. Ada juga cinta yang
menyebabkan kezaliman. Oleh karena itu cinta tidak selalu baik, kecuali
jika ia tidak ditempatkan pada tempat yang benar sebagaimana yang telah
diajarkan Allah SWT dan Rasulnya saw.
Zaman sekarang banyak
orang sedikit-sedikit bicara cinta, apalagi soal pria dan wanita. Para
penyanyi menyuarakan cinta, politisi bicara cinta, para pemimpin bicara
cinta, para orang tua bicara cinta, serta kaum muda bicara cinta. Tapi
masalahnya, banyak diantara kita yang bisa mengenali mana cinta yang
benar dan mana yang salah. Kebanyakan kita menyamakan semua bentuk
cinta, seakan-akan semuanya baik, padahal sebagiannya merusak. Teramat
merusak malah, meskipun hakikat cinta adalah baik. Ibarat makanan yang
sehat jika dikonsumsi secara tidak benar, berlebihan misalnya, maka
bukan kesehatan yang diperoleh tetapi penyakit. Demikian pula cinta,
jika kita tidak tahu bagaimana “memperlakukan” cinta maka dia akan
menjerumuskan kita kepada kehancuran.
Cinta dapat kita artikan
sebagai kecenderungan kepada sesuatu yang melahirkan rasa senang. Rasa
ini merupakan suatu anugerah Tuhan kepada diri kita. Oleh karena itu ia
merupakan sebuah fitrah, suatu kualitas dalaman (inner) yang ada di
dalam diri setiap manusia. Cinta juga merupakan salah satu sifat Allah,
itulah sebabnya Allah menamai diri-Nya al-Rahman dan al-Rahim. Dengan
cinta-Nya kita ada dan dengan cinta-Nya kita dipelihara dalam kehidupan
dunia. (semoga ada kesempatan membahas ini secara khusus, insya Allah)
Sekurangnya
ada dua penyebab seseorang mencintai seseorang atau sesuatu. Pertama
adalah karena jasa seseorang atau sesuatu itu kepadanya. Kita memiliki
kecenderungan alamiah untuk mencintai orang tua kita karena mereka
berjasa kepada kita. Meskipun ada kalanya ada perilaku atau pandangan
mereka yang tidak bersesuaian dengan kita, namun karena kita menyadari
jasa mereka maka kita tetap mencintai mereka. Demikian juga kita
mencintai kampung halaman atau tanah air karena “jasanya” kepada kita.
Kita hidup dan berkembang di kampung atau di tanah air sehingga ketika
kita jauh darinya kita selalu terkenang untuk kembali kepadanya. Seorang
buta memilki seekor anjing yang yang selalu menuntunnya kemanapun ia
berjalan memiliki cinta yang mendalam terhadap anjing tersebut meskipun
anjing adalah seekor hewan yang rendah. Seorang muslim mencintai
Rasulullah saw. karena mengingat jasanya yang besar sehingga manusia
tercerahkan dan mengetahui rahasia-rahasia kehidupan yang dapat
menyampaikan mereka kepada kebahagiaan.
Alasan kedua adalah
karena kualitas-kualitas unggul yang dimiliki oleh sesuatu atau
seseorang itu. Orang lebih mencintai emas daripada batu karena
keunggulan nilainya dalam pandangan manusia. Seorang pria mencintai
wanita seringkali dimulai dari keindahan fisik pada diri wanita
tersebut. Sebaliknya seorang wanita mencintai laki-laki dapat bermula
dari keberanian laki-laki tersebut. Umat Islam mencintai Imam Syafi’i
atau Imam Malik atau Imam al-Ghazali karena karya-karyanya yang hebat,
meskipun banyak yang tidak atau belum membaca karyanya satu pun juga.
Banyak orang yang mencintai seorang Napoleon karena kehebatan
kepemimpinanya dalam militer. Seorang penyanyi yang aksi panggungnya
selalu memukau, Michael Jackson, ketika meninggal mendapat liputan luas
dari berbagai media massa karena banyaknya fans, para pencintanya, yang
menunggu-nunggu setiap pemberitaan mengenai dirinya. Penggemar sepak
bola, apalagi orang Perancis, mencintai Zinedine Zidane, pemain
sepakbola kenamaan Perancis yang membawa tim sepakbola Perancis juara
dunia dan juara Eropa karena kepiawaiannya mengolah bola.
Mengenai
kualitas-kualitas unggul ini, dalam kaitannya dengan manusia, bisa kita
bagi dalam dua bagian, yang pertama kualitas unggul yang bersifat
lahiriah dan ruhaniah. Hal ini merupakan sesuatu harus ada karena
hakikat manusia memang ada dua yaitu terdiri dari unsur badani (fisik)
dan ruhani. Kecintaan kita kepada manusia lain bisa jadi karena salah
satu dari keunggulan tersebut, bisa juga karena kedua-duanya. Orang
muslim yang hidup saat ini tidak pernah menjumpai Umar bin Khattab atau
Ali bin Abi Thalib, dan mereka tidak tahu bagaimana rupa mereka,
sehingga mereka mencintai mereka bukan karena keunggulan badani tapi
karena ketinggian derajat ruhani mereka.
Boleh jadi seorang
laki-laki bersedia menikahi seorang perempuan yang tidak terlalu cantik
tapi ia memiliki keshalihan yang sangat tinggi. Dan tidak kurang
banyaknya seorang laki-laki bersedia menikahi seorang semata-mata karena
wanita itu teramat cantik, meskipun berperangai buruk. Paling bagus
tentunya jika kedua-duanya dimiliki, tapi tidak selalu mudah
memperolehnya. Jika diharapkan pada dua pilihan itu, maka turutilah
anjuran Nabi saw. bahwa wanita paling baik itu adalah karena agamanya
(kualitas ruhani).
Penting disadari bahwa kualitas ruhani pada
hakikatnya lebih tinggi derajatnya dari kualitas badani. Demikian juga
biasanya kualitas ruhani lebih kekal. Selain itu kualitas badani dari
waktu ke waktu semakin berkurang sedangkan kualitas ruhani dapat
berkembang tanpa batas, meskipun boleh jadi juga kualitas ini berkurang.
Seorang artis wanita biasanya dihargai karena kualitas-kualitas badani
yang dimilikinya. Begitu ia mulai menua ia mulai kekurangan tawaran
bermain film, penggemarnya mulai surut, dan perlahan ia mulai dilupakan.
Tapi tidak demikian dengan seorang ulama. Pada mulanya ia tidak
dikenal, kemudian ia mulai memberikan pengajaran di banyak tempat.
Pengajarannya menyentuh dan akhlaknya terpuji, maka sedikit demi sedikit
banyak orang yang mencintainya. Ceramahnya ditunggu-tunggu dan
kehadirannya di satu tempat mengundang banyak orang meskipun mereka
harus berdesak-desakkan. Bertambah panjang usianya, bertambah banyak
pula pengikutnya. Setelah ia meninggal orang mengenang
kebaikan-kebaikannya dan ajarannya diwariskan dari generasi ke generasi.
Seorang Syeikh Ahmad Yasin, pejuang pembebasan Palestina yang gugur
terkena rudal Israel, adalah seorang tua yang lumpuh lagi buta, namun ia
adalah orang paling dicintai di Palestina pada masa itu. Sampai saat
ini Syeikh Ahmad Yasin masih menjadi inspirasi bagi bangsa Palestina
dalam perjuangannya melawan penjajahan Israel, meskipun ia tidak lagi
ada di tengah-tengah mereka.
Pengaruh Kualitas Ruhani dalam PernikahanSeorang
wanita cantik memancarkan kematangan keindahan fisiknya saat usianya
berada di kisaran 20 hingga 30 tahun, paling lama mungkin sampai usia 40
tahun. Setelah itu ia menjadi tidak lagi menarik. Seorang suami
kemungkinan besar akan berbohong jika ia mengatakan bahwa istrinya yang
saat itu telah memasuki usia kelapa empat terlihat lebih cantik dari
seorang artis muda dua puluh tahunan yang sedang naik daun.
Lalu
apa yang menyebabkan sang suami mempertahankaan pernikahannya? Ada dua
kemungkinan. Yang pertama adalah karena keimanan dan moral sang suami.
Dia memahami bahwa pernikahan adalah sebuah amanah yang harus
dipertanggungjawabkannya ke hadapan SWT kelak. Dia meyakini bahwa
perceraian adalah suatu perbuatan yang tercela di mata orang kebanyakan
sehingga perceraian itu akan menimbulkan aib bagi dirinnya. Tapi ini
bukanlah cinta, tapi kesabaran, bahkan boleh jadi merupakan belenggu.
Ikatan pernikahan seperti ini biasanya rapuh dan sangat dipengaruhi oleh
tingkat kesabaran suami.
Kemungkinan kedua adalah kualitas
ruhani sang istri yang tinggilah yang membuat sang suami tetap mencintai
istrinya. Seorang suami yang baik akan memiliki ikatan pernikahan yang
kuat dengan seorang istri shalihah meskipun kecantikan istrinya telah
memudar dimakan usia. Kualitas fisiknya boleh memudar tapi ketinggian
ruhaninya menutup semua kelemahan itu. Kasih sayangnya, ketaatannya,
perhatiannya akan melahirkan kenyamanan dan ketenangan bagi suaminya.
Hal ini bersesuaian dengan sabda Nabi saw., “Dunia adalah perhiasan, dan
sebaik-baik perhiasan adalah wanita yang shalihah.” (HR. Muslim). Jika
kualitas ruhani ini hilang dari seorang istri, maka itu adalah alamat
bahwa pernikahan tersebut sedang berada di ujung tanduk. Kondisi yang
sama juga berlaku sebaliknya.
Oleh karena itu di dalam sebuah
pernikahan, upaya mempertahankan kualitas ruhaniahlah yang paling
penting. Keunggulan kualitas fisik terbatas, pada saatnya kita harus
menyerah dengan perjalanan waktu. Di sinilah letak kegagalan kebanyakan
pernikahan, namun sayang kebanyakan orang kurang memahami hal ini. Para
artis yang sering cerai kawin itu hendaknya menyadari hal ini. Jika
mereka hanya sibuk menata penampilan luarnya sementara mengabaikan
perbaikan ruhaninya maka kita tidak akan heran melihat sepasang sejoli
yang dimabuk asmara dalam tiga bulan kemudian saling mengumbar keburukan
pasangannya. Orang yang setiap saat dikenangnya itu kini telah menjadi
orang yang paling ia benci. Seharusnya mereka menyibukkan diri dengan
perbaikan ruhani, meski bukan berarti mengabaikan penampilan lahiriah,
tapi penampilan lahiriah itu terlalu rendah derajatnya dibandingkan
kualitas ruhani.
wallahu a'lam bishshawab