Jumat, 15 April 2016
Minggu, 10 April 2016
Pesan Cinta Untuk Hujanku
Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakaatuh...
Hai hujan? Gimana kabar imanmu hari ini? Semoga Allah
selalu membimbingmu.
Hujan...kau tau? Aku baru saja memasuki dunia baru yang
menurutku lebih berat untuk ku hadapi daripada dunia kampus dulu. Sekarang,
didunia nyata aku benar-benar dihadapkan pada suatu kenyataan yang menguji
idealismeku. Ternyata didunia pendidikan pun belum tentu ditempatkan ditempat
yang kondusif, sungguh aku ingin merubah keadaan ini, tapi sepertinya tidak
bisa.
Hujan...aku berdoa untukmu, dimanapun engkau berada saat
ini, semoga Allah selalu memberikanmu keimanan, ketakwaan, kecerdasan hati
& fikiran, dikaruniakan hidayah & inayah-Nya.
Hujan...aku
berpesan padamu, disaat nanti kita bertemu, diwaktu yang tepat menurut-Nya, kau
harus memahami hal paling mendasar ini :
Engkau benar2
sudah memahami konsekuensimu sebagai Imamku; bertanggungjawab sebagai penuntun
jalanku untuk semakin taat pada-Nya, kau harus memahami dasar-dasar agama kita,
karena aku ingin bangunan rumah tangga kita memakai bahan dasar keimanan dan
ketakwaan pada-Nya, apapun aktivitas kita, itu cita-citaku.
Untuk
itu, suatu hari nanti jika kau sudah memiliki kewajiban untuk menafkahiku,
berikanlah aku nafkah yang halal saja, jauhi yang haram, bahkan yang masih
syubhat. Jangan....jangan tergoda dengan dunia yang fana ini hujan, aku masih
sanggup untuk menahan lapar dan dahaga, tapi aku tidak akan sanggup untuk
menahan api neraka dikarenakan rezeqi haram yang kau nafkahkan.
Itulah
hal mendasar yang harus kau fahami sebelum kau datang untuk meminangku.
Hujan...aku telah banyak mendengar kisah dua orang yang
Allah pertemukan dalam ikatan suci dengan dan atas dasar karena-Nya, lalu
membangun rumah tangganya dengan komitmen terhadap agama-Nya, berasal dari
kalangan manapun, dan mereka hidup bahagia, rumah tangga yang penuh barakah...hal
yang paling aku impikan dalam rumah tangga kita kelak.
Hujan...jangan kau risaukan bagaimana nanti untuk bisa
membahagiakanku dengan materi, selama ini aku sudah terbiasa hidup dengan penuh
perjuangan, dan akan berjuang bersama-sama dengamu jika nanti kau datang.
Hujan...keinginanku sederhana, ku memohon pada
Allah...semoga orang yang akan ku panggil hujan itu adalah orang yang; memahami
agamanya dengan baik dan mengamalkannya, memahami bahwa visi rumah tangganya adalah
‘Quu anfusakum wa ahliykum naaroo’ sehingga dia berhati-hati terhadap rezeqi
yang ia nafkahkan untuk keluarganya, memahami bahwa segala yang dilakukannya
didunia ini akan dipertanggungjawabkan sehingga tidak terjebak pada perbuatan
yang dilarang-Nya.
Demikian pesan cinta ini aku sampaikan, semoga Allah
selalu mengaruniakan hidayah padamu.
Indramayu, 9 April 2016
Yang menantimu;
Evi Apriyani
Kamis, 07 April 2016
Tentang Integritas dan Keberkahan
Hari
selasa (5/4) yang lalu aku berbincang dengan guruku di SMA disela2 kesibukan
kami jadi panitia UN, beliau adalah guru PKN-ku sewaktu dulu aku masih SMA, dan
sekarang pun beliau masih mengajar di SMA almamaterku itu. Kita terlibat dalam
perbincangan mengenai “Barakah” atau “Berkah”, awalnya aku curhat tentang
keluargaku, yakni kakak-kakakku yang berbeda keinginan satu sama lain terhadap
rencana kedepan, kakak perempuan menginginkanku untuk tetap tinggal sama Ibu,
jadi kalo pun aku kerja; kerjaanku itu harus mudah diakses dari rumah, ga jauh
dari rumah, kakakku menginginkan aku “take care” Ibu, satu-satunya orang tua
yang masih ada, walaupun aku kerja ngehonor yang gajinya ga begitu besar, itu
ga masalah, yang penting aku ga jauh dari Ibu. Kakakku yang laki-laki berbeda
pandangan, yakni; menginginkan aku bekerja di bank atau perusahaan yang gajinya
lumayan, toh itu semua juga untuk kebaikan Ibu, katanya.
Aku
mengerti tentang perbedaan kedua sudut pandang ini, bagaimanapun perempuan itu
sudut pandangnya home, ini bisa
difahami. Kalo laki2 pemikirannya jauh kedepan, kakak laki2ku ini menginginkan
aku ada tabungan kedepan, karena aku masih punya dua adik dan juga Ibu.
Sedangkan
aku; punya pandangan lain yang mungkin akan terdengar egois. Aku ingin sekali
ikut program SM3T. Karena bagaimanapun aku ingin mencari pengalaman, aku pengen
ngajar di tempat 3T. Dan tentu saja ini akan menjauhkanku dengan Ibu, kakak
laki2ku terdengar tidak setuju ketika ku utarakan niatku itu; karena tidak
jelas nantinya, katanya.
Kata
Ibu, “Semuanya baik, shalat Istikharah aja, minta
yang terbaik dari Allah vi, tapi sambil kamu ikhtiarkan semuanya, semoga yang datang
paling awal itulah yang terbaik, insya Allah dimanapun kamu nantinya, jika
Allah yang udah ngasih petunjuk, ya tentu itu yang terbaik”. Intinya
kalo aku tangkep sih ya, “Libatkan Allah, ikhtiar,
dan pasti Allah ngasih yang terbaik” gitu.
“Yang penting sih berkah” kata Ibu. Lalu aku tanya “Apa indikator bahwa pekerjaan kita itu berkah bu?”,
“Kalo pekerjaan kita itu lebih bisa mendekatkan
kita dengan Allah...misalnya evi kerja di Bank, eh...malah bikin evi disibukkan
dengan urusan dunia, tidak ada waktu untuk ibadah misalnya, jauh dari Allah,
itu ciri kalo pekerjaan evi ga berkah, walaupun secara materi mungkin gajinya
besar. Tapi misalnya evi jadi guru, terus bikin evi tambah bagus ibadahnya, deket
sama Allah...meskipun gajinya sedikit, tapi itulah yang berkah, yang semakin
mendekatkan kita sama Allah, ini misal saja ya bukan berarti kerja di bank itu
jelek atau jadi guru itu selalu bagus, itu tergantung”, “Oh...jadi indikator kalo pekerjaan kita itu berkah/tidak,
ada pada ‘pekerjaan kita itu lebih bisa mendekatkan kita pada Allah atau tidak’
ya bu?”, “Iya...” kata beliau.
Dan
sekarang aku dihadapkan pada pekerjaan (sementara) yang menurutku; mengganggu
integritasku. Aku ingin keluar saja, cari pekerjaan yang lebih baik. Hidup yang
hanya sementara, tidak selamanya, tidak abadi ini; tidak akan aku sia-siakan
dengan bekerja yang menurutku tidak berkah, bahkan jauh dari barakah. Sungguh aku
tidak mau hidup menjadi seorang hipokrit, aku tidak mau itu, bagaimanapun
ketika aku tahu itu salah, tapi masih saja dikerjakan, itu sangat mengangguku,
hati tidak tenang, dan aku yakin hasil yang didapatkanpun tidak akan membawa
keberkahan untuk jasad ini jika dikonsumsi, ya Allah...tolong cukupkan aku
dengan rezeqi-Mu yang halal saja, sehingga tidak butuh rezeqi yang syubhat atau
bahkan haram.
Aku
sangat yakin dengan janji-Mu, “Ketika hamba-Mu
meninggalkan sesuatu karena Engkau; karena tahu bahwa Engkau melarang perbuatan
itu, maka Engkau akan menggantikannya dengan yang lebih baik” lebih
barakah.
Buat apa sedikit tapi tidak berkah? Mending yang banyak tapi
berkah : )
Langganan:
Komentar (Atom)




