Hari
selasa (5/4) yang lalu aku berbincang dengan guruku di SMA disela2 kesibukan
kami jadi panitia UN, beliau adalah guru PKN-ku sewaktu dulu aku masih SMA, dan
sekarang pun beliau masih mengajar di SMA almamaterku itu. Kita terlibat dalam
perbincangan mengenai “Barakah” atau “Berkah”, awalnya aku curhat tentang
keluargaku, yakni kakak-kakakku yang berbeda keinginan satu sama lain terhadap
rencana kedepan, kakak perempuan menginginkanku untuk tetap tinggal sama Ibu,
jadi kalo pun aku kerja; kerjaanku itu harus mudah diakses dari rumah, ga jauh
dari rumah, kakakku menginginkan aku “take care” Ibu, satu-satunya orang tua
yang masih ada, walaupun aku kerja ngehonor yang gajinya ga begitu besar, itu
ga masalah, yang penting aku ga jauh dari Ibu. Kakakku yang laki-laki berbeda
pandangan, yakni; menginginkan aku bekerja di bank atau perusahaan yang gajinya
lumayan, toh itu semua juga untuk kebaikan Ibu, katanya.
Aku
mengerti tentang perbedaan kedua sudut pandang ini, bagaimanapun perempuan itu
sudut pandangnya home, ini bisa
difahami. Kalo laki2 pemikirannya jauh kedepan, kakak laki2ku ini menginginkan
aku ada tabungan kedepan, karena aku masih punya dua adik dan juga Ibu.
Sedangkan
aku; punya pandangan lain yang mungkin akan terdengar egois. Aku ingin sekali
ikut program SM3T. Karena bagaimanapun aku ingin mencari pengalaman, aku pengen
ngajar di tempat 3T. Dan tentu saja ini akan menjauhkanku dengan Ibu, kakak
laki2ku terdengar tidak setuju ketika ku utarakan niatku itu; karena tidak
jelas nantinya, katanya.
Kata
Ibu, “Semuanya baik, shalat Istikharah aja, minta
yang terbaik dari Allah vi, tapi sambil kamu ikhtiarkan semuanya, semoga yang datang
paling awal itulah yang terbaik, insya Allah dimanapun kamu nantinya, jika
Allah yang udah ngasih petunjuk, ya tentu itu yang terbaik”. Intinya
kalo aku tangkep sih ya, “Libatkan Allah, ikhtiar,
dan pasti Allah ngasih yang terbaik” gitu.
“Yang penting sih berkah” kata Ibu. Lalu aku tanya “Apa indikator bahwa pekerjaan kita itu berkah bu?”,
“Kalo pekerjaan kita itu lebih bisa mendekatkan
kita dengan Allah...misalnya evi kerja di Bank, eh...malah bikin evi disibukkan
dengan urusan dunia, tidak ada waktu untuk ibadah misalnya, jauh dari Allah,
itu ciri kalo pekerjaan evi ga berkah, walaupun secara materi mungkin gajinya
besar. Tapi misalnya evi jadi guru, terus bikin evi tambah bagus ibadahnya, deket
sama Allah...meskipun gajinya sedikit, tapi itulah yang berkah, yang semakin
mendekatkan kita sama Allah, ini misal saja ya bukan berarti kerja di bank itu
jelek atau jadi guru itu selalu bagus, itu tergantung”, “Oh...jadi indikator kalo pekerjaan kita itu berkah/tidak,
ada pada ‘pekerjaan kita itu lebih bisa mendekatkan kita pada Allah atau tidak’
ya bu?”, “Iya...” kata beliau.
Dan
sekarang aku dihadapkan pada pekerjaan (sementara) yang menurutku; mengganggu
integritasku. Aku ingin keluar saja, cari pekerjaan yang lebih baik. Hidup yang
hanya sementara, tidak selamanya, tidak abadi ini; tidak akan aku sia-siakan
dengan bekerja yang menurutku tidak berkah, bahkan jauh dari barakah. Sungguh aku
tidak mau hidup menjadi seorang hipokrit, aku tidak mau itu, bagaimanapun
ketika aku tahu itu salah, tapi masih saja dikerjakan, itu sangat mengangguku,
hati tidak tenang, dan aku yakin hasil yang didapatkanpun tidak akan membawa
keberkahan untuk jasad ini jika dikonsumsi, ya Allah...tolong cukupkan aku
dengan rezeqi-Mu yang halal saja, sehingga tidak butuh rezeqi yang syubhat atau
bahkan haram.
Aku
sangat yakin dengan janji-Mu, “Ketika hamba-Mu
meninggalkan sesuatu karena Engkau; karena tahu bahwa Engkau melarang perbuatan
itu, maka Engkau akan menggantikannya dengan yang lebih baik” lebih
barakah.
Buat apa sedikit tapi tidak berkah? Mending yang banyak tapi
berkah : )

0 komentar:
Posting Komentar