Kamis, 07 April 2016

Tentang Integritas dan Keberkahan



Hari selasa (5/4) yang lalu aku berbincang dengan guruku di SMA disela2 kesibukan kami jadi panitia UN, beliau adalah guru PKN-ku sewaktu dulu aku masih SMA, dan sekarang pun beliau masih mengajar di SMA almamaterku itu. Kita terlibat dalam perbincangan mengenai “Barakah” atau “Berkah”, awalnya aku curhat tentang keluargaku, yakni kakak-kakakku yang berbeda keinginan satu sama lain terhadap rencana kedepan, kakak perempuan menginginkanku untuk tetap tinggal sama Ibu, jadi kalo pun aku kerja; kerjaanku itu harus mudah diakses dari rumah, ga jauh dari rumah, kakakku menginginkan aku “take care” Ibu, satu-satunya orang tua yang masih ada, walaupun aku kerja ngehonor yang gajinya ga begitu besar, itu ga masalah, yang penting aku ga jauh dari Ibu. Kakakku yang laki-laki berbeda pandangan, yakni; menginginkan aku bekerja di bank atau perusahaan yang gajinya lumayan, toh itu semua juga untuk kebaikan Ibu, katanya.

Aku mengerti tentang perbedaan kedua sudut pandang ini, bagaimanapun perempuan itu sudut pandangnya home, ini bisa difahami. Kalo laki2 pemikirannya jauh kedepan, kakak laki2ku ini menginginkan aku ada tabungan kedepan, karena aku masih punya dua adik dan juga Ibu.

Sedangkan aku; punya pandangan lain yang mungkin akan terdengar egois. Aku ingin sekali ikut program SM3T. Karena bagaimanapun aku ingin mencari pengalaman, aku pengen ngajar di tempat 3T. Dan tentu saja ini akan menjauhkanku dengan Ibu, kakak laki2ku terdengar tidak setuju ketika ku utarakan niatku itu; karena tidak jelas nantinya, katanya.

Kata Ibu, “Semuanya baik, shalat Istikharah aja, minta yang terbaik dari Allah vi, tapi sambil kamu ikhtiarkan semuanya, semoga yang datang paling awal itulah yang terbaik, insya Allah dimanapun kamu nantinya, jika Allah yang udah ngasih petunjuk, ya tentu itu yang terbaik”. Intinya kalo aku tangkep sih ya, “Libatkan Allah, ikhtiar, dan pasti Allah ngasih yang terbaik” gitu.

Yang penting sih berkah” kata Ibu. Lalu aku tanya “Apa indikator bahwa pekerjaan kita itu berkah bu?”, “Kalo pekerjaan kita itu lebih bisa mendekatkan kita dengan Allah...misalnya evi kerja di Bank, eh...malah bikin evi disibukkan dengan urusan dunia, tidak ada waktu untuk ibadah misalnya, jauh dari Allah, itu ciri kalo pekerjaan evi ga berkah, walaupun secara materi mungkin gajinya besar. Tapi misalnya evi jadi guru, terus bikin evi tambah bagus ibadahnya, deket sama Allah...meskipun gajinya sedikit, tapi itulah yang berkah, yang semakin mendekatkan kita sama Allah, ini misal saja ya bukan berarti kerja di bank itu jelek atau jadi guru itu selalu bagus, itu tergantung”, “Oh...jadi indikator kalo pekerjaan kita itu berkah/tidak, ada pada ‘pekerjaan kita itu lebih bisa mendekatkan kita pada Allah atau tidak’ ya bu?”, “Iya...” kata beliau.

Dan sekarang aku dihadapkan pada pekerjaan (sementara) yang menurutku; mengganggu integritasku. Aku ingin keluar saja, cari pekerjaan yang lebih baik. Hidup yang hanya sementara, tidak selamanya, tidak abadi ini; tidak akan aku sia-siakan dengan bekerja yang menurutku tidak berkah, bahkan jauh dari barakah. Sungguh aku tidak mau hidup menjadi seorang hipokrit, aku tidak mau itu, bagaimanapun ketika aku tahu itu salah, tapi masih saja dikerjakan, itu sangat mengangguku, hati tidak tenang, dan aku yakin hasil yang didapatkanpun tidak akan membawa keberkahan untuk jasad ini jika dikonsumsi, ya Allah...tolong cukupkan aku dengan rezeqi-Mu yang halal saja, sehingga tidak butuh rezeqi yang syubhat atau bahkan haram.

Aku sangat yakin dengan janji-Mu, “Ketika hamba-Mu meninggalkan sesuatu karena Engkau; karena tahu bahwa Engkau melarang perbuatan itu, maka Engkau akan menggantikannya dengan yang lebih baik” lebih barakah.

Buat apa sedikit tapi tidak berkah? Mending yang banyak tapi berkah : )

0 komentar:

 

Meninggalkan Jejak Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template