Bismillahirrahmaanirrahiim...
Alhamdulillah...ini
adalah postingan pertama di bulan ramadhan tahun ini, sekarang sudah hari ke 19
ya, berasa cepet banget atau lama banget? XD
Alhamdulillah...ramadhan
tahun ini aku full di rumah, berangkat ke HK insya allah abis lebaran, tanggal
13 juli (info yang kurang penting, okeskip..... :p)
Kali
ini aku mau posting apa?
Sebenernya
ini curhatan masa lalu yang baru kepikiran buat ditulis sekarang, ehehe
FYI,
waktu SMA, aku suka banget sama pelajaran ekonomi, why?
Karena
dulu pas SMA aku pernah mengikuti beberapa olimpiade ekonomi, kesukaanku pada
ekonomi sampai mengantarkanku jadi peserta Olimpiade Sains Ekonomi (OSN) bidang
Ekonomi Tingkat Nasional di Medan tahun 2010 lalu. You know kan OSN itu ajang bergengsi yang diikuti oleh hampir
seluruh sekolah negeri atau pun luar negeri (swasta maksudnye :p) dari berbagai
tingkat pendidikan, mulai dari SD, SMP, sampe SMA.
Jadi
salah satu peserta OSN (meskipun ga juara) adalah suatu nikmat yang tak bisa
didustakan, suatu pengalaman yang luar biasa unforgetable.
Oke
itu sedikit gambaran masa lalu aku, yang menyebabkan kenapa aku memilih jurusan
pendidikan ekonomi di UPI. Kenapa ekonomi? Sudah terjawab ya, kenapa di UPI?
Nah kalo ini alasannya ada dua;
Pertama,
kan aku punya kakak tingkat dua tahun di atas aku yang juga kuliah di UPI
jurusan pendidikan ekonomi, guru aku tuh selalu aja ngebicarain beliau, jadi
aku terinspirasi supaya bisa jadi seperti beliau, karena beliau pun berhasil
masuk OSN tingkat provinsi waktu itu, aku emang banyak terinspirasi sama teteh
ini.
Kedua,
waktu aku pembinaan buat persiapan OSN di UPI, aku berhayal...seandainya aku
bisa kuliah di UPI, aku pasti akan sangat bersyukur, waktu itu diantar oleh
guruku, pas shalat di masjid Al-Furqon, beliau menyarankan, “shalat dan berdoa di
masjid ini minta sama Allah supaya bisa kuliah disini”, aku mengikuti saran beliau,
dan alhamdulillah...do’a itu terkabul : )
Kenapa
pendidikan? Karena di UPI ga ada ekonomi murni, and well... aku bercita-cita ingin menjadi seorang guru, pendidik.
Melalui
suatu ikhtiar dan doa (yang sangat panjang kalo diceritakan), akhirnya aku di
terima kuliah di UPI, di jurusan impianku sejak kelas 2 SMA; pendidikan ekonomi
: )
Setelah
menjalani kuliah beberapa semester, aku sempat mengalami kejenuhan dan
kegalauan yang ga karu-karuan (mix
language you know :p).
Selain
kuliah, aku juga ngaji; mentoring, liqo, halaqah, kajian dan semacamnya dari
harakah manapun aku telan (kecuali yg sudah teridentifikasi sesat aku ga
berani), namanya juga gegar budaya, di tempat tinggalku dulu ga ada kajian2
kaya gitu, gimana aku ga haus ilmu coba?
Beberapa
semester aku sempat ngaji disalah satu harakah, yang sedikit banyak merubah
pandanganku tentu saja. Aku belajar di kelas tentang riba dan sebagainya dan
seterusnya....(ya gimana sih ekonomi konvensional? Tau lah ya...), sedangkan di
ngaji diajarin ga boleh pake riba, disisi lain bank syariah juga belum semuanya
murni syariah...dan sebagainya dan seterusnya....
Sempat
terjadi pertentangan bathin, kok yang aku pelajari ini ribawi semua ya? Ekonomi
kapitalis ya? Islam kan ga bolehin riba, gimana dong?
Bingung..galau..sampe
pernah menuliskan kegalauan di status dan dikomen sama temen yang peduli dan
terus nyemangatin.
Tapi
setelah sedikit mengenal ekonomi syariah (ga banyak sih, dikit aja),
kegalauanku ga terlalu mendominasi, karena apa yang aku pelajari di
konvensional, bisa jadi pembanding kalo suatu saat aku lanjut studi ke jenjang
yang lebih tinggi ngambil ekonomi syariah, semoga ya Allah semoga (Aamiin)
Pas
masa2 pembuatan proposal skripsi, aku bertekad dan punya idealisme “skripsiku
harus berbau syariah”. dan alhamdulillah...Allah memudahkan semuanya, aku bisa
lulus kumlaut di jurusan ini dalam waktu 9 semester (kelebihan :p) dengan
skripsi yang berbau-bau syariah XD
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kemaren
banget, aku iseng baca disertasi orang tentang partai politik islam, aku nemuin
kalimat dikata pengantarnya yang “eh kok ini mah kegalauan aku banget lah jaman
dulu, ahaha”
“Ekonomi itu
untuk dipahami, bukan diimani”
Kata
penulis disertasi tersebut, kita tidak harus selalu setuju dengan berbagai
teori yang dipelajari, namun bagaimana ‘menaklukan’ dan menggunakannya
(Munandar, 2011)
iya
aku setuju, untuk tahu kebaikan ekonomi syariah, harus tahu juga berbagai
keburukan dan ketidakadilan yang disebabkan oleh ekonomi konvensional atau
sistem ekonomi kapitalis ini, apa saja yang dilarang oleh islam dalam transaksi
ekonomi konvensional dan sebagainya. Harus tahu, kan?
Jadi
ga sia-sia banget sih ya belajar ekonomi konvensional, meskipun
sekarang-sekarang aku sadar bahwa ilmu yang hukumnya fardhu’ain itu ilmu agama,
yang mana aku malah ketinggalan jauh.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Bulan
ramadhan tahun ini, banyak sekali ilmu dan hikmah yang Allah berikan yang tak
ternilai harganya, di bulan ramadhan yang setiap detiknya sangat berharga ini
aku masih saja belum maksimal mengisi hari-harinya dengan ibadah, ah ya Rabb..
ampuni hamba, semoga bisa bertemu dengan ramadhan tahun depan, dan Engkau beri
lebih banyak rahmat dan karunia yang berharga. Aamiin
Indramayu,
19 Ramadhan 1437 Hijriyah
Evi
Apriyani