Jumat, 24 Juni 2016

“Ekonomi itu untuk dipahami, bukan diimani”

Bismillahirrahmaanirrahiim...
Alhamdulillah...ini adalah postingan pertama di bulan ramadhan tahun ini, sekarang sudah hari ke 19 ya, berasa cepet banget atau lama banget? XD

Alhamdulillah...ramadhan tahun ini aku full di rumah, berangkat ke HK insya allah abis lebaran, tanggal 13 juli (info yang kurang penting, okeskip..... :p)

Kali ini aku mau posting apa?

Sebenernya ini curhatan masa lalu yang baru kepikiran buat ditulis sekarang, ehehe
FYI, waktu SMA, aku suka banget sama pelajaran ekonomi, why?

Karena dulu pas SMA aku pernah mengikuti beberapa olimpiade ekonomi, kesukaanku pada ekonomi sampai mengantarkanku jadi peserta Olimpiade Sains Ekonomi (OSN) bidang Ekonomi Tingkat Nasional di Medan tahun 2010 lalu. You know kan OSN itu ajang bergengsi yang diikuti oleh hampir seluruh sekolah negeri atau pun luar negeri (swasta maksudnye :p) dari berbagai tingkat pendidikan, mulai dari SD, SMP, sampe SMA.

Jadi salah satu peserta OSN (meskipun ga juara) adalah suatu nikmat yang tak bisa didustakan, suatu pengalaman yang luar biasa unforgetable.

Oke itu sedikit gambaran masa lalu aku, yang menyebabkan kenapa aku memilih jurusan pendidikan ekonomi di UPI. Kenapa ekonomi? Sudah terjawab ya, kenapa di UPI? Nah kalo ini alasannya ada dua;

Pertama, kan aku punya kakak tingkat dua tahun di atas aku yang juga kuliah di UPI jurusan pendidikan ekonomi, guru aku tuh selalu aja ngebicarain beliau, jadi aku terinspirasi supaya bisa jadi seperti beliau, karena beliau pun berhasil masuk OSN tingkat provinsi waktu itu, aku emang banyak terinspirasi sama teteh ini.

Kedua, waktu aku pembinaan buat persiapan OSN di UPI, aku berhayal...seandainya aku bisa kuliah di UPI, aku pasti akan sangat bersyukur, waktu itu diantar oleh guruku, pas shalat di masjid Al-Furqon, beliau menyarankan, “shalat dan berdoa di masjid ini minta sama Allah supaya bisa kuliah disini”, aku mengikuti saran beliau, dan alhamdulillah...do’a itu terkabul : )

Kenapa pendidikan? Karena di UPI ga ada ekonomi murni, and well... aku bercita-cita ingin menjadi seorang guru, pendidik.

Melalui suatu ikhtiar dan doa (yang sangat panjang kalo diceritakan), akhirnya aku di terima kuliah di UPI, di jurusan impianku sejak kelas 2 SMA; pendidikan ekonomi : )
Setelah menjalani kuliah beberapa semester, aku sempat mengalami kejenuhan dan kegalauan yang ga karu-karuan (mix language you know :p).

Selain kuliah, aku juga ngaji; mentoring, liqo, halaqah, kajian dan semacamnya dari harakah manapun aku telan (kecuali yg sudah teridentifikasi sesat aku ga berani), namanya juga gegar budaya, di tempat tinggalku dulu ga ada kajian2 kaya gitu, gimana aku ga haus ilmu coba?

Beberapa semester aku sempat ngaji disalah satu harakah, yang sedikit banyak merubah pandanganku tentu saja. Aku belajar di kelas tentang riba dan sebagainya dan seterusnya....(ya gimana sih ekonomi konvensional? Tau lah ya...), sedangkan di ngaji diajarin ga boleh pake riba, disisi lain bank syariah juga belum semuanya murni syariah...dan sebagainya dan seterusnya....

Sempat terjadi pertentangan bathin, kok yang aku pelajari ini ribawi semua ya? Ekonomi kapitalis ya? Islam kan ga bolehin riba, gimana dong?

Bingung..galau..sampe pernah menuliskan kegalauan di status dan dikomen sama temen yang peduli dan terus nyemangatin.

Tapi setelah sedikit mengenal ekonomi syariah (ga banyak sih, dikit aja), kegalauanku ga terlalu mendominasi, karena apa yang aku pelajari di konvensional, bisa jadi pembanding kalo suatu saat aku lanjut studi ke jenjang yang lebih tinggi ngambil ekonomi syariah, semoga ya Allah semoga (Aamiin)

Pas masa2 pembuatan proposal skripsi, aku bertekad dan punya idealisme “skripsiku harus berbau syariah”. dan alhamdulillah...Allah memudahkan semuanya, aku bisa lulus kumlaut di jurusan ini dalam waktu 9 semester (kelebihan :p) dengan skripsi yang berbau-bau syariah XD

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kemaren banget, aku iseng baca disertasi orang tentang partai politik islam, aku nemuin kalimat dikata pengantarnya yang “eh kok ini mah kegalauan aku banget lah jaman dulu, ahaha”

“Ekonomi itu untuk dipahami, bukan diimani”

Kata penulis disertasi tersebut, kita tidak harus selalu setuju dengan berbagai teori yang dipelajari, namun bagaimana ‘menaklukan’ dan menggunakannya (Munandar, 2011)

iya aku setuju, untuk tahu kebaikan ekonomi syariah, harus tahu juga berbagai keburukan dan ketidakadilan yang disebabkan oleh ekonomi konvensional atau sistem ekonomi kapitalis ini, apa saja yang dilarang oleh islam dalam transaksi ekonomi konvensional dan sebagainya. Harus tahu, kan?

Jadi ga sia-sia banget sih ya belajar ekonomi konvensional, meskipun sekarang-sekarang aku sadar bahwa ilmu yang hukumnya fardhu’ain itu ilmu agama, yang mana aku malah ketinggalan jauh.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Bulan ramadhan tahun ini, banyak sekali ilmu dan hikmah yang Allah berikan yang tak ternilai harganya, di bulan ramadhan yang setiap detiknya sangat berharga ini aku masih saja belum maksimal mengisi hari-harinya dengan ibadah, ah ya Rabb.. ampuni hamba, semoga bisa bertemu dengan ramadhan tahun depan, dan Engkau beri lebih banyak rahmat dan karunia yang berharga. Aamiin



Indramayu, 19 Ramadhan 1437 Hijriyah



Evi Apriyani

0 komentar:

 

Meninggalkan Jejak Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template