Saat ini dari berbagai sudut ummat islam selalu dipojokkan, salah satunya
mengenai isu intoleransi, beberapa kalangan menganggap bahwa ummat islam di
Indonesia itu tidak toleran terhadap umat agama lain, dalam banyak kasus,
mereka mengungkap fakta-fakta perusakan gereja, pelarangan ahmadiyah, penusukan
pendeta, sampai teror bom.
Berkenaan dengan fakta subjektif intoleransi tersebut, saya tidak setuju
jika ummat islam di Indonesia dikatakan bahwa mereka tidak toleran, saya
tertarik dengan isi pidato Dr. Hasyim Muzadi mantan Ketua Umum Pengurus Besar
Nahdhatul Ulama dalam sidang PBB di Jenewa[1].
Berikut isi pidato Hasyim Muzadi yang juga Presiden WCRP (World
Conference on Religions for Peace) dan Sekjen ICIS (International
Conference for Islamic Scholars) tentang tuduhan Intoleransi agama di
Indonesia :
“Selaku Presiden WCRP dan Sekjen ICIS,
saya sangat menyayangkan tuduhan Intoleransi agama di Indonesia. Pembahasan di
forum dunia itu, pasti karena laporan dari dalam negeri Indonesia. Selama
berkeliling dunia, saya belum menemukan negara muslim mana pun yang setoleran
Indonesia.
Kalau yang dipakai ukuran adalah masalah
AHMADIYAH, memang karena Ahmadiyah menyimpang dari pokok ajaran Islam, namun
selalu menggunakan stempel Islam dan berorientasi Politik Barat. Seandainya
Ahmadiyah merupakan agama tersendiri, pasti tidak dipersoalkan oleh umat Islam.
Kalau yang jadi ukuran adalah GKI YASMIN
Bogor, saya berkali-kali ke sana, namun tampaknya mereka tidak ingin selesai.
Mereka lebih senang Yasmin menjadi masalah nasional & dunia untuk
kepentingan lain daripada masalahnya selesai.
Kalau ukurannya PENDIRIAN GEREJA,
faktornya adalah lingkungan. Di Jawa pendirian gereja sulit, tapi di Kupang
(Batuplat) pendirian masjid juga sangat sulit. Belum lagi pendirian masjid di
Papua. ICIS selalu melakukan mediasi.
Kalau ukurannya LADY GAGA & IRSHAD
MANJI, bangsa mana yang ingin tata nilainya dirusak, kecuali mereka yang ingin
menjual bangsanya sendiri untuk kebanggaan Intelektualisme Kosong?
Kalau ukurannya HAM, lalu di Papua kenapa
TNI / Polri / Imam Masjid berguguran tidak ada yang bicara HAM? Indonesia lebih
baik toleransinya dari Swiss yang sampai sekarang tidak memperbolehkan Menara
Masjid, lebih baik dari Perancis yang masih mempersoalkan Jilbab, lebih baik
dari Denmark, Swedia dan Norwegia, yang tidak menghormati agama, karena di sana
ada UU Perkawiman Sejenis. Agama mana yang memperkenankan perkawinan sejenis ?!
Akhirnya kembali kepada bangsa Indonesia,
kaum muslimin sendiri yang harus sadar dan tegas, membedakan mana HAM yang
benar (humanisme) dan mana yang sekedar Weternisme”.
Selain pidato Dr Hasyim Muzadi, banyak fakta-fakta betapa toleransinya
ummat islam di indonesia maupun didunia, Jika mereka mau membaca sedikit
berita-berita diluar indonesia, maka akan mereka temui sebuah ironi dalam
toleransi ummat beragama, kita ambil sebuah contoh kasus di Jerman[2], seorang muslimah bernama Dr. Marwa El-Sherbini, yang
sedang hamil tiga bulan dibunuh oleh seorang non-Muslim di Pengadilan Dresden
Jerman. Dr. Marwa dibunuh dengan sangat biadab. Ia dihujani tusukan pisau
sebanyak 18 kali, dan meninggal di ruang sidang.
Dr. Marwa hadir di sidang pengadilan, mengadukan seorang pemuda Jerman
bernama Alex W yang menjulukinya sebagai “teroris” karena ia mengenakan jilbab.
Pada suatu kesempatan, Alex juga pernah berusaha melepas jilbab Dr. Marwa,
Muslimah asal Mesir. Di persidangan itulah, Alex justru membunuh Dr. Marwa
dengan biadab. Suami Marwa yang berusaha membela istrinya justru terkena
tembakan petugas. Mungkin karena korbannya Muslim, dan pelakunya warga asli
non-Muslim, peristiwa besar itu tidak menjadi isu nasional, apalagi
internasional.
Tidak ada satu negara pun didunia ini yang paling
toleran dibandingkan dengan Indonesia, di sini umat muslim sudah terbiasa
menerima orang-orang non-Muslim sebagai pejabat negara, muslim indonesia juga
sudah terbiasa melihat tayangan-tayangan acara keagamaan distasiun televisi
nasional, belum lagi hari libur keagamaan sudah diberikan porsinya dengan baik,
di amerika saja yang konon negara pengusung demokrasi dan kebebasan tidak
terjadi hal-hal demikian, jadi pertanyaannya siapa yang tidak toleran?
Banyak tokoh liberal yang menjadikan pluralisme sebagai solusi dari
intoleransi, padahal berkenaan dengan hal ini Dr. Adian Husaini mengatakan
bahwa pluralisme itu sendiri sudah masuk ke ranah teologis, bukan lagi ranah
sosiologis, salah satu filem yang mempropagandakan pluralisme secara
vulgar adalah filem “? (Tanda Tanya)“ karya Hanung Bramantyo, dalam film
tersebut umat islam distereotype kan tidak baik, misalnya umat
islam dicitrakan menusuk pendeta, mengebom gereja, peran-peran islam
digambarkan dengan buruk, orang murtad dari islam digambarkan sebagai hal yang
biasa saja, semua agama digambarkan menuju kepada tuhan yang sama, ini adalah ide-ide
pluralisme yang sangat ditentang oleh Islam.
Lagipula MUI telah mengeluarkan fatwa pada tahun 2005 tentang Pluralisme
itu sendiri sebagai suatu faham yang dilarang dan tidak boleh dikembangkan di
Indonesia, menurut MUI makna Pluralisme agama[3] adalah
suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya
kebenaran setiap agama adalah relatif, oleh sebab itu, setiap pemeluk agama
tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang
lain salah. Pluralisme agama juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan
masuk dan hidup berdampingan di surga.
Masih menurut Dr. Adian Husaini, Kerukunan itu sebenarnya bisa diwujudkan
tanpa mengorbankan keyakinan masing-masing. Demikian.
[1] http://politik.kompasiana.com/2012/10/04/hasyim-muzadi-bicara-intoleransi-dan-liberalisme-498552.html diakses
pada tangga 17 Februari 2015
[2] http://adianhusaini.com/index.php/daftar-artikel/3-umat-islam-tidak-toleran diakses
pada tanggal 17 Februari 2015
[3] http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/fatwa-mui-tentang-pluralisme-liberalisme-dan-sekulerisme-agama.htm#.VOQ5duaUfWg diakses
pada tanggal 18 Februari 2015

0 komentar:
Posting Komentar