Selasa, 24 Maret 2015

Toleransi TANPA Pluralisme

Saat ini dari berbagai sudut ummat islam selalu dipojokkan, salah satunya mengenai isu intoleransi, beberapa kalangan menganggap bahwa ummat islam di Indonesia itu tidak toleran terhadap umat agama lain, dalam banyak kasus, mereka mengungkap fakta-fakta perusakan gereja, pelarangan ahmadiyah, penusukan pendeta, sampai teror bom.
Berkenaan dengan fakta subjektif intoleransi tersebut, saya tidak setuju jika ummat islam di Indonesia dikatakan bahwa mereka tidak toleran, saya tertarik dengan isi pidato Dr. Hasyim Muzadi mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdhatul Ulama dalam sidang PBB di Jenewa[1].
Berikut isi pidato Hasyim Muzadi yang juga Presiden WCRP (World Conference on Religions for Peace) dan Sekjen ICIS (International Conference for Islamic Scholars) tentang tuduhan Intoleransi agama di Indonesia :


“Selaku Presiden WCRP dan Sekjen ICIS, saya sangat menyayangkan tuduhan Intoleransi agama di Indonesia. Pembahasan di forum dunia itu, pasti karena laporan dari dalam negeri Indonesia. Selama berkeliling dunia, saya belum menemukan negara muslim mana pun yang setoleran Indonesia.
Kalau yang dipakai ukuran adalah masalah AHMADIYAH, memang karena Ahmadiyah menyimpang dari pokok ajaran Islam, namun selalu menggunakan stempel Islam dan berorientasi Politik Barat. Seandainya Ahmadiyah merupakan agama tersendiri, pasti tidak dipersoalkan oleh umat Islam.
Kalau yang jadi ukuran adalah GKI YASMIN Bogor, saya berkali-kali ke sana, namun tampaknya mereka tidak ingin selesai. Mereka lebih senang Yasmin menjadi masalah nasional & dunia untuk kepentingan lain daripada masalahnya selesai.
Kalau ukurannya PENDIRIAN GEREJA, faktornya adalah lingkungan. Di Jawa pendirian gereja sulit, tapi di Kupang (Batuplat) pendirian masjid juga sangat sulit. Belum lagi pendirian masjid di Papua. ICIS selalu melakukan mediasi.
Kalau ukurannya LADY GAGA & IRSHAD MANJI, bangsa mana yang ingin tata nilainya dirusak, kecuali mereka yang ingin menjual bangsanya sendiri untuk kebanggaan Intelektualisme Kosong?
Kalau ukurannya HAM, lalu di Papua kenapa TNI / Polri / Imam Masjid berguguran tidak ada yang bicara HAM? Indonesia lebih baik toleransinya dari Swiss yang sampai sekarang tidak memperbolehkan Menara Masjid, lebih baik dari Perancis yang masih mempersoalkan Jilbab, lebih baik dari Denmark, Swedia dan Norwegia, yang tidak menghormati agama, karena di sana ada UU Perkawiman Sejenis. Agama mana yang memperkenankan perkawinan sejenis ?!
Akhirnya kembali kepada bangsa Indonesia, kaum muslimin sendiri yang harus sadar dan tegas, membedakan mana HAM yang benar (humanisme) dan mana yang sekedar Weternisme”.

Selain pidato Dr Hasyim Muzadi, banyak fakta-fakta betapa toleransinya ummat islam di indonesia maupun didunia, Jika mereka mau membaca sedikit berita-berita diluar indonesia, maka akan mereka temui sebuah ironi dalam toleransi ummat beragama, kita ambil sebuah contoh kasus di Jerman[2], seorang muslimah bernama Dr. Marwa El-Sherbini, yang sedang hamil tiga bulan dibunuh oleh seorang non-Muslim di Pengadilan Dresden Jerman. Dr. Marwa dibunuh dengan sangat biadab. Ia dihujani tusukan pisau sebanyak 18 kali, dan meninggal di ruang sidang.
Dr. Marwa hadir di sidang pengadilan, mengadukan seorang pemuda Jerman bernama Alex W yang menjulukinya sebagai “teroris” karena ia mengenakan jilbab. Pada suatu kesempatan, Alex juga pernah berusaha melepas jilbab Dr. Marwa, Muslimah asal Mesir. Di persidangan itulah, Alex justru membunuh Dr. Marwa dengan biadab. Suami Marwa yang berusaha membela istrinya justru terkena tembakan petugas. Mungkin karena korbannya Muslim, dan pelakunya warga asli non-Muslim, peristiwa besar itu tidak menjadi isu nasional, apalagi internasional.
Tidak ada satu negara pun didunia ini yang paling toleran dibandingkan dengan Indonesia, di sini umat muslim sudah terbiasa menerima orang-orang non-Muslim sebagai pejabat negara, muslim indonesia juga sudah terbiasa melihat tayangan-tayangan acara keagamaan distasiun televisi nasional, belum lagi hari libur keagamaan sudah diberikan porsinya dengan baik, di amerika saja yang konon negara pengusung demokrasi dan kebebasan tidak terjadi hal-hal demikian, jadi pertanyaannya siapa yang tidak toleran?
Banyak tokoh liberal yang menjadikan pluralisme sebagai solusi dari intoleransi, padahal berkenaan dengan hal ini Dr. Adian Husaini mengatakan bahwa pluralisme itu sendiri sudah masuk ke ranah teologis, bukan lagi ranah sosiologis, salah satu filem yang mempropagandakan pluralisme secara vulgar adalah filem “? (Tanda Tanya)“ karya Hanung Bramantyo, dalam film tersebut umat islam distereotype kan tidak baik, misalnya umat islam dicitrakan menusuk pendeta, mengebom gereja, peran-peran islam digambarkan dengan buruk, orang murtad dari islam digambarkan sebagai hal yang biasa saja, semua agama digambarkan menuju kepada tuhan yang sama, ini adalah ide-ide pluralisme yang sangat ditentang oleh Islam.
Lagipula MUI telah mengeluarkan fatwa pada tahun 2005 tentang Pluralisme itu sendiri sebagai suatu faham yang dilarang dan tidak boleh dikembangkan di Indonesia, menurut MUI makna Pluralisme agama[3] adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif, oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme agama juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga.
Masih menurut Dr. Adian Husaini, Kerukunan itu sebenarnya bisa diwujudkan tanpa mengorbankan keyakinan masing-masing. Demikian.




0 komentar:

 

Meninggalkan Jejak Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template