Ga ada kata terlambat
Ada. Seorang siswa SMA kelas 1, ketika di tes
membaca Al-Qur’an tidak bisa membaca sama sekali, bahkan huruf hijaiyyah pun
dia tidak kenal, guru yang menge-tes-nnya mengajarinya membaca huruf perhuruf.
Siswa ini betul-betul tidak bisa membaca Al-Qur’an sama sekali, hanya bisa
mengulangi ucapan guru tersebut. Miris. Sedih.
Ada. Seorang yang sudah bekerja, merasa waktu
senggangnya sedikit hingga tak sempat untuk mengikuti kajian-kajian keislaman. Sibuk.
Penat.
Ada. Orangtua yang sudah memiliki banyak
anak, berfikir bahwa umurnya sudah tua, sudah terlanjur dulu tidak ngaji, sudah
terlanjur tidak faham agama. Pasrah.
Ada. Contoh-contoh tersebut nyata. Disekitar
kita.
Banyak ‘orang yang putus asa’ (maafkan kalo
harus me-namai-nya demikian) mengatakan kalau dia sudah terlambat untuk belajar
agama. Alesannya macemacem, mulai dari umur yang udah tua lah, sibuk lah, ga
ada waktu lah, malu -masa udah gede masih belajar iqro- lah, apalah
apalah...masih banyak lagi segudang alesan yang sebenernya cuma menjustifikasi
ke-awam-annya terhadap agama.
Hmmm...oke deh aku tanya, pernah baca Siroh
Nabawi gak? Tau dong kalo Nabi Muhammad diutus jadi Rasul itu umur berapa? 40
tahun kan? Atau...tau gak sahabat seperti Abu Bakr, Umar Ibn Khattab, Utsman
Ibn Affan dan sebagian besar sahabat di awal mula dakwah Rasul umur berapa
masuk islam dan belajar islam bareng Rasulullah? Udah tua kan...dan kamu bilang
mereka terlambat gitu udah tua baru masuk Islam? Hehehe..
So...gada alesan buat ga belajar agama,
selama hayat masih dikandung badan, fardhu ‘ain hukumnya belajar agama, kan Rasul kita –shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah
bersabda, “Menuntut
ilmu adalah kewajiban setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah, shahih)
Untukmu
calon orangtua
Aku setuju sama Ustadz Adian Husaini yang
menyatakan kalau pepatah “Belajar diwaktu muda, seperti mengukir diatas batu.
Belajar dimasa tua, seperti mengukir diatas air” itu ga bener bin sesyat (kalo ini sih kata aku,
hehe). Pepatah tersebut hanyalah justifikasi aja buat mereka yang males belajar
–agama- dimasa senja, padahal -masih kata ustadz Adian Husaini-, tidak ada kata
terlambat dalam Thalabul ‘Ilmy.
(Calon) Orangtua justru perlu belajar agama
islam dengan baik, nanti jangan sampai anaknya aja yang suruh belajar agama,
tapi diri sendiri ga menuntut ilmu agama, kalo ga faham ilmu agama, gimana
caranya ngedidik anak²nya dengan pemahaman yang baik tentang Islam? Gimana
caranya dia mengamalkan Q.S At-tahrim ayat 6? Qu~anfusakum wa ahliykum naaroo...jagalah dirimu dan keluargamu
dari api neraka? Lah semua itu kan butuh ilmu... ya gak?
Padahal tantangan pemikiran yang menjauhkan
generasi muda dengan Islamnya sungguh patut untuk dikhawatirkan. Mulai dari
serangan pemikiran melalui gaya hidup ala barat dengan food-fun-fashion-nya, sampai tantangan pemikiran yang mengobok²
ajaran islam dengan faham² sesyat macam sekularisme, liberalisme, pluralisme en then isme² lainnya yang udah diharamkan
sama MUI tahun 2005.
Coba fikir, kalo orang tua ga faham agama islam
dengan baik, gimana cara ngedidik anaknya dengan pemahaman islam yang baik? Dan
gimana caranya membentengi keluarga dari pemikiran² sesyat tersebut? Emang mau
anak-anak kita nanti jadi korban Ghazwul Fiqri yang hampir ga ada perlawanan
ini? Ga mau kan?
Ya udah makanya, diposisi manapun kita
sekarang, masih muda beliau kek, remaja kek, dewasa kek, usia senja kek, udah
kakek² kek, tetep aja harus ada usaha untuk memahami agama islam dengan baik,
tentunya sesuai dengan kapasitas dan kemampuan kita, karena setiap orang kan beda²
kondisinya, bisa disesuaikan. Walaupun ga jadi ulama semua, ya minimal bisa lah
pemahaman agama kita itu jadi bekal buat ngedidik keluarga, mengamalkan Q.S At-tahrim
ayat 6.
Apalagi nih buat para jomblo radikal, sorry to say...kalian jangan males buat
belajar agama, ikutin kajian-kajian keislaman untuk menambah ilmu buat bekal
nanti berumah tangga, baca buku-buku keislaman yang menambah wawasan dan memperkuat worldview islam kita, katanya mau dapet pasangan yang faqihu fiddin, ya kitanya
juga dooong...
Finally...
Tadi udah bahas tentang ‘usaha-usaha-usaha’
buat memahami/belajar agama, nah sekarang jangan lupa, yang paling terpenting
dari semua itu adalah doa, supaya Allah senantiasa menambahkan ilmu yang
bermanfaat buat kita, Doa nya ada dalam Q.S Taahaa ayat 114 yang berbunyi “Robbi zidny ‘ilman”
Rabbku...tambahkanlah ilmu kepadaku.
Dari Mu’awiyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang Allah
kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang
agama.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)
Abu Hurairah,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
“Barangsiapa yang menemuh jalan
menuntut ilmu agama, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”
(HR. Muslim)
En buat para jomblo radikals ada pesan dari
ustadz Adian nih :
“Menikah, menjadi ibu rumah tangga itu bukan
akhir perjalanan intelektual seseorang, baik laki-laki maupun perempuan. Rumah
tangga justru harus menjadi kampus pertama bagi keluarga. Disitulah mereka
mencari ilmu, mendidik diri mereka sendiri.” Ustadz Adian Husaini Dachli, dalam
KEMI 3 Halaman 86.
Ya sebenernya inti tulisan ini tuh satu sih,
“JANGAN MALES BUAT BELAJAR AGAMA”
#UdahPutusinAja eh..salah maksudnya
#UdahGituAja!
Salam,
Evilogy Oikosnomos
Diketik di Indramayu, 7 Agustus 2015 pukul 21.24
WIB

0 komentar:
Posting Komentar