Rabu, 19 Agustus 2015

Jangan Males Buat Belajar Agama

Ga ada kata terlambat

Ada. Seorang siswa SMA kelas 1, ketika di tes membaca Al-Qur’an tidak bisa membaca sama sekali, bahkan huruf hijaiyyah pun dia tidak kenal, guru yang menge-tes-nnya mengajarinya membaca huruf perhuruf. Siswa ini betul-betul tidak bisa membaca Al-Qur’an sama sekali, hanya bisa mengulangi ucapan guru tersebut. Miris. Sedih.

Ada. Seorang yang sudah bekerja, merasa waktu senggangnya sedikit hingga tak sempat untuk mengikuti kajian-kajian keislaman. Sibuk. Penat.

Ada. Orangtua yang sudah memiliki banyak anak, berfikir bahwa umurnya sudah tua, sudah terlanjur dulu tidak ngaji, sudah terlanjur tidak faham agama. Pasrah.

Ada. Contoh-contoh tersebut nyata. Disekitar kita.


Banyak ‘orang yang putus asa’ (maafkan kalo harus me-namai-nya demikian) mengatakan kalau dia sudah terlambat untuk belajar agama. Alesannya macemacem, mulai dari umur yang udah tua lah, sibuk lah, ga ada waktu lah, malu -masa udah gede masih belajar iqro- lah, apalah apalah...masih banyak lagi segudang alesan yang sebenernya cuma menjustifikasi ke-awam-annya terhadap agama.

Hmmm...oke deh aku tanya, pernah baca Siroh Nabawi gak? Tau dong kalo Nabi Muhammad diutus jadi Rasul itu umur berapa? 40 tahun kan? Atau...tau gak sahabat seperti Abu Bakr, Umar Ibn Khattab, Utsman Ibn Affan dan sebagian besar sahabat di awal mula dakwah Rasul umur berapa masuk islam dan belajar islam bareng Rasulullah? Udah tua kan...dan kamu bilang mereka terlambat gitu udah tua baru masuk Islam? Hehehe..

So...gada alesan buat ga belajar agama, selama hayat masih dikandung badan, fardhu ‘ain hukumnya belajar agama, kan Rasul kita –shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah bersabda, Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah, shahih)
Untukmu calon orangtua

Aku setuju sama Ustadz Adian Husaini yang menyatakan kalau pepatah “Belajar diwaktu muda, seperti mengukir diatas batu. Belajar dimasa tua, seperti mengukir diatas air” itu ga bener bin sesyat (kalo ini sih kata aku, hehe). Pepatah tersebut hanyalah justifikasi aja buat mereka yang males belajar –agama- dimasa senja, padahal -masih kata ustadz Adian Husaini-, tidak ada kata terlambat dalam Thalabul ‘Ilmy.

(Calon) Orangtua justru perlu belajar agama islam dengan baik, nanti jangan sampai anaknya aja yang suruh belajar agama, tapi diri sendiri ga menuntut ilmu agama, kalo ga faham ilmu agama, gimana caranya ngedidik anak²nya dengan pemahaman yang baik tentang Islam? Gimana caranya dia mengamalkan Q.S At-tahrim ayat 6? Qu~anfusakum wa ahliykum naaroo...jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka? Lah semua itu kan butuh ilmu... ya gak?

Padahal tantangan pemikiran yang menjauhkan generasi muda dengan Islamnya sungguh patut untuk dikhawatirkan. Mulai dari serangan pemikiran melalui gaya hidup ala barat dengan food-fun-fashion-nya, sampai tantangan pemikiran yang mengobok² ajaran islam dengan faham² sesyat macam sekularisme, liberalisme, pluralisme en then isme² lainnya yang udah diharamkan sama MUI tahun 2005.

Coba fikir, kalo orang tua ga faham agama islam dengan baik, gimana cara ngedidik anaknya dengan pemahaman islam yang baik? Dan gimana caranya membentengi keluarga dari pemikiran² sesyat tersebut? Emang mau anak-anak kita nanti jadi korban Ghazwul Fiqri yang hampir ga ada perlawanan ini? Ga mau kan?

Ya udah makanya, diposisi manapun kita sekarang, masih muda beliau kek, remaja kek, dewasa kek, usia senja kek, udah kakek² kek, tetep aja harus ada usaha untuk memahami agama islam dengan baik, tentunya sesuai dengan kapasitas dan kemampuan kita, karena setiap orang kan beda² kondisinya, bisa disesuaikan. Walaupun ga jadi ulama semua, ya minimal bisa lah pemahaman agama kita itu jadi bekal buat ngedidik keluarga, mengamalkan Q.S At-tahrim ayat 6.

Apalagi nih buat para jomblo radikal, sorry to say...kalian jangan males buat belajar agama, ikutin kajian-kajian keislaman untuk menambah ilmu buat bekal nanti berumah tangga, baca buku-buku keislaman yang menambah wawasan dan memperkuat worldview islam kita, katanya mau dapet pasangan yang faqihu fiddin, ya kitanya juga dooong...

Finally...

Tadi udah bahas tentang ‘usaha-usaha-usaha’ buat memahami/belajar agama, nah sekarang jangan lupa, yang paling terpenting dari semua itu adalah doa, supaya Allah senantiasa menambahkan ilmu yang bermanfaat buat kita, Doa nya ada dalam Q.S Taahaa ayat 114 yang berbunyi “Robbi zidny ‘ilman” Rabbku...tambahkanlah ilmu kepadaku.

Dari Mu’awiyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)

Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Barangsiapa yang menemuh jalan menuntut ilmu agama, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)
En buat para jomblo radikals ada pesan dari ustadz Adian nih :

“Menikah, menjadi ibu rumah tangga itu bukan akhir perjalanan intelektual seseorang, baik laki-laki maupun perempuan. Rumah tangga justru harus menjadi kampus pertama bagi keluarga. Disitulah mereka mencari ilmu, mendidik diri mereka sendiri.” Ustadz Adian Husaini Dachli, dalam KEMI 3 Halaman 86.

Ya sebenernya inti tulisan ini tuh satu sih, “JANGAN MALES BUAT BELAJAR AGAMA”

#UdahPutusinAja eh..salah maksudnya #UdahGituAja!




Salam,

Evilogy Oikosnomos


Diketik di Indramayu, 7 Agustus 2015 pukul 21.24 WIB

0 komentar:

 

Meninggalkan Jejak Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template