Tulisan
ini terinspirasi dari kisah sahabat-sahabatku, mereka sempat mengalami fitnah
yang menurut analisaku disebabkan karena mereka kurang menjaga interaksi
dengan lawan jenis yang notabene non mahrom..
Si
Fulanah A pernah bercerita padaku, waktu itu ia sedang dekat dengan seorang
laki-laki (namun bukan hubungan pacaran), jadi (mungkin) interaksi mereka bisa
dibilang berlebihan untuk ukuran seorang akhwat-ikhwan (sebutan untuk aktivis
dakwah), sebelum fitnah itu muncul, sebenernya mereka udah sering interaksi,
dan aku sendiri pernah melihat mereka sedang berjalan berdua, waktu itu aku
gabung sama mereka, jadi kita berjalan bertiga, nah sampe pada suatu ketika
mereka janjian bertemu di jalan untuk mengembalikan barang (buku kalo ga
salah), namun dijalan tersebut kebetulan sepi, dengan penerangan yang kurang
terang, lalu ketika mereka bertemu, mereka berpapasan dengan seseorang sebut
saja si Fulan, nah setelah kejadian itu, si Fulanah A digosipkan dengan laki-laki
itu, bahwa mereka punya hubungan yang spesial, yang pada akhirnya berubah jadi
fitnah. Alhamdulillahnya setelah kejadian itu, interaksi mereka jadi berkurang
intensitasnya.
Kemudian
akhir-akhir ini, aku mendengar berita yang tak enak didengar dari orang-orang
tentang sahabatku, lalu aku pernah bertanya padanya “Ukh, memangnya interaksi
kamu dengan si Fulan itu seperti apa? Kok bisa ada gossip yang beredar
“begini..begitu… tentang kamu dan si Fulan?”. Dia menjawab, interaksinya dengan
si Fulan biasa aja, walaupun saya tak pernah tahu fakta empirik yang sebenarnya
seperti apa, namun karena aku percaya padanya (ini karena aku banyak belajar
darinya), dia itu faham untuk hal-hal yang seperti itu (tentang menjaga
interkasi-red), jadi aku tak akan memojokkannya dengan pertanyaan-pertanyaan
lain yang menunjukkan seolah-olah aku tak percaya padanya dan malah membuat
suasana semakin runyam.
Namun terlepas dari kepercayaanku pada kesalehan sahabat-sahabatku ini, aku
punya asumsi, bahwa ketika suatu berita menguap, maka tak mungkin tak ada
kontribusi mereka yang terlibat didalamnya, artinya, suatu fitnah bisa terjadi
ya karena perilaku mereka juga, yang (maaf) kurang menjaga interaksinya dengan
lawan jenis yang notabene non mahrom, yang pada akhirnya orang-orang berspekulasi,
menyebarkan fitnah yang tak baik tentang sahabat-sahabatku ini.
Orang-orang
yang awam, berdasarkan fakta dilapangan mereka itu sebenarnya memperhatikan
gerak-gerik orang yang aktif di organisasi keislaman (aktivis dakwah). Dan
setidaknya tingkah laku, sikap dan gerak-geriknya dijadikan standar kebenaran
(atau apa ya istilahnya? Contoh? Atau teladan mungkin ya? Entahlah aku belum
menemukan padanan kata yang cocok untuk istilah ini).
Ya
begitulah, terkadang jika ada aktivis dakwah yang gerak-geriknya agak melenceng
kadang dijadikan hujjah/legitimasi/pembenaran/dalil/asumsi untuk membenarkan
sesuatu yang salah. Contohnya gini, Fulanah B dekat dengan Fulan C, mereka itu
non mahrom, tapi pengakuan dari Fulanah B, si Fulan C itu kakak angkatnya, jadi
interaksi yang terjadi selama ini antara Fulanah B dan Fulan C, menurut
pandangan Fulanah B, itu wajar, kan hubungan kaka-adik, kenapa orang-orang
malah buat fitnah yang keji tentang hubungan spesial antara dia dan Fulan C?
Tapi
dalam pandangan orang awam, ada yang menyampaikan kalimat seperti ini
(redaksinya berubah, tapi tak menghilangkan intinya: “Tuh kan dia aja yang
akhwat membenarkan hubungan yang ga halal dengan (topeng) status kaka-adik,
jadi apa salahnya pacaran?”
Sebenernya
aku tak membenarkan semua hubungan antara laki-laki dan perempuan non mahrom
yang melebihi batas-batas interaksi yang semestinya yang dibenarkan syara’. Kan
duduk persoalannya jelas, Fulan C itu bukanlah Mahrom dari Fulanah B, apapun
bentuk statusnya, kakak-adik kek, HTS kek, LDR kek (apalagi), tetep aja ga
wajar, dan kemungkinan besar akan timbul fitnah, dan ini (mungkin) tak disadari
oleh Fulanah B.
Sekali
lagi aku tak akan menyudutkan Fulanah B, aku tak ingin hubunganku dengannya
menjadi rusak, aku ingin menyadarkannya dengan cara yang lembut, aku nasehati
dia untuk lebih menjaga interaksi dengan laki-laki manapun yang memang bukan
mahromnya, agar tak timbul fitnah lagi, apalagi sampe mencemarkan nama
organisasi keislaman yang sedang ia ikuti, ga banget kan?
Nah
kejadian ini menjadi pelajaran bagi saya dan (semoga) bagi sahabat, agar lebih
menjaga interaksi dengan lawan jenis (non mahrom), kalo emang ga penting, ya ga
usahlah cari-cari alasan untuk berinteraksi dengan lelaki ajnabi, jaga izzah
dan kehormatanmu, agar tetap anggun dimata Allah.
Saya
(pribadi) telah mengazamkan diri, untuk bersikap hati-hati dalam berinteraksi
dengan laki2 ajnabi, karena alasan itu kadang (bahkan seringnya) aku dikatain
ga sopan, jutek, judes, sama laki-laki, namun selama dia memberi masukan yang
membangun dan tak bermaksud buruk, aku ikutin nasehatnya dengan berkata lebih
sopan dan ramah, tapi kalo dia sendiri udah dinasehatin tapi ga sadar2 juga,
malah bikin jengkel, akhirnya aku tambah judesin dan kadang aku nyuruh dia ga
usah hubungin aku lagi, galak memang, cuman ya gimana ya, ini udah konsekuensi
sih, aku ga pengen merusak hatiku (menodai nya dengan harapan-harapan palsu
yang mengecewakan) dengan berinteraksi berlebihan dengan lelaki ajnabi. Apalagi
sms-an ga puguh. Ah #Modus lelaki memang begitu, PHP banget, sorry aku udah ga
mempan sama trik licik bin culas lelaki murahan yang obral janji, rayu
sana-sini.
Dalam islam sendiri udah jelas ya aturannya, kehidupan perempuan dan laki-laki
itu terpisah, namun boleh tetap berinteraksi, dalam hal Muamalah, Kesehatan,
Pendidikan. Selain itu ga boleh, dan ga usahlah ya, apalagi yang katanya
aktivis dakwah, duuhhh ga banget deh ngelakuin itu.
Aku
kutip kata-kata Ustadz Felix Siauw mengenai interaksi ikhwan akhwat ya :
1. Seharusnya, ikhwan-akhwat itu hidupnya
TERPISAH satu dan lain | maka sepantasnya tak ada interaksi yang tiada keperluan
2. Bila telah putuskan untuk jaga
kesucian hendaklah berserius diri | jangan barengi lagi dengan noktah yg dapat
hitamkan hati
3. Menyenangkan memang dengan lawan jenis
bisa bersenda gurau | tanpa sadar keringlah iman laksana kerontang musim kemarau
4. Pengakuan lisanmu bahwa engkau aktivis
dakwah | namun lekat pandanganmu memandang si kerudung merah
5. Engkau kumandangkan bahwa pacaran itu
maksiat | sementara kata demi kata beracun terselip dibalik sms, chat, atau
komentar yg kau surat
6. Pembelaan dirimu, ini "cuma"
koordinasi, ini cuma bercanda, ini "cuma" pengingat taat | hatimu yang
tadinya murni kini mulai berkarat
7. Dia berkerudung dan berjilbab, bukan
berarti halal engkau melihatnya | menatapnya bukan cara hormati kemuliannya
8. Kau katakan ini bukan pacaran, tapi
jelas lebih dari sekedar teman | dusta, dusta, dan dusta kau topengkan alasan
9. Godaan dibalik kata-kata engkau semat,
dengan setan lisan kau sarat | bekelindan dengan maksiat, bersama setan kelak
ditamat
10. "uhibbuka fillah" dengan
entengnya terucap, bagimu itu praktekkan sabda nabi | disitu setan menyesap,
sekali lagi dosa diulangi
11. Maksiat bertopeng dakwah | setan
takkan pernah berhenti menggoda bahkan aktivis masjid muslim-muslimah
12. Bila hendak jaga kesucian diri,
mengapa tidak sesuci mungkin? | menampik setiap interaksi yang tak ada perlu
itu penting
13. Menjadi aktivis Islam berarti menjadi
buku terbuka yang siap dibaca dan ditiru | bukan menunjukkan yang keliru
14. Menjadi pengemban dakwah berarti harus
lebih menjaga diri, bahkan dari fitnah yang bakal menerpa | amal dan kata
beriring serta
15. Tundukkan pandangan lebih utama, tahan
interaksi tak perlu adl sikap terhormat | tak melembut-lembutkan suara, tentu lebih
selamat
16. Kalaulah Rasul pikir interaksi
ikhwan-akhwat penting, tentu Islam takkan batasi pergaulan | tapi Islam
utamakan pencegahan
17. Agar tak terbayang paras yang bagimu
belum halal | karenanya riya akan bayangi amal dan jadikannya amal yang batal
18. Agar selamat dirimu dari zina hati dan
mata | agar dakwahmu tertuju lurus pada Allah semata
19. Hanya mengingatkanmu teman | bagiku
engkau pengemban dakwah lebih utama dari yang lain | tentu cinta kami lebih
bagi kalian
20. Bagi kami, kalianlah etalase Islam |
dan kami takan relakan kalian jadi bulan-bulanan musuh yang tak sukakan Islam
21. Bersabar sebentar takkan matikan cinta
| ia justru akan arahkan rasa | agar tak ada pilu redam di depan masa | istiqamah
ya ^^
Nah tuh.. dah jelas kan ya? Apa masih butuh penguat lagi? Heheheh
Eits..bentar, daritadi ngomongin interaksi ikhwan-akhwat mulu ya? nah
sebenarnya interaksi yang semacam itu, bukan hanya untuk ikhwan-akhwat (AD)
aja, tapi masyarakat pada umumnya juga harus seperti itu dalam berinteraksi,
namun memang kesadaran seperti itu belum muncul, entah masih terkubur jauh
didalam hati sanubari ribuan miliaran kilometer dalamnya. Kalo yang Aktivis
dakwahnya aja belum sadar, gimana yang masyarakat awam? Ya bisa terlihat dari
cara berinteraksi sekarang seperti apa, bebas blasss tanpa batass…sungguh naas…
ckckck
Jadi Kesimpulannya adalah jaga interaksi, jaga hati, jaga sikap dan perilaku
kita, karena bukan hanya manusia saja yang memperhatikan, tapi malaikat dan
Allah pun mendengar, melihat dan mengetahui apa saja yang kita lakukan.
NB
: Mohon maaf kepada sahabat yang merasa pengalamannya aku ceritakan disini,
kalo ada kekeliruan dalam penyampaian ceritanya, mohon dikoreksi ya, dan jangan
disalahartikan sebagai “membuka aib”, jujur dari dalam relung hati yang
terdalam, aku sayang kalian karena Allah, makanya aku pengen pengalaman kalian
jadi pelajaran, “Jadikan Masa lalu seperti melihat Kaca Spion”
Love U For Allah's Shake