Jumat, 13 September 2013

Jaga Interaksimu Ukhti!


Tulisan ini terinspirasi dari kisah sahabat-sahabatku, mereka sempat mengalami fitnah  yang menurut analisaku disebabkan karena mereka kurang menjaga interaksi dengan lawan jenis yang notabene non mahrom..

Si Fulanah A pernah bercerita padaku, waktu itu ia sedang dekat dengan seorang laki-laki (namun bukan hubungan pacaran), jadi (mungkin) interaksi mereka bisa dibilang berlebihan untuk ukuran seorang akhwat-ikhwan (sebutan untuk aktivis dakwah), sebelum fitnah itu muncul, sebenernya mereka udah sering interaksi, dan aku sendiri pernah melihat mereka sedang berjalan berdua, waktu itu aku gabung sama mereka, jadi kita berjalan bertiga, nah sampe pada suatu ketika mereka janjian bertemu di jalan untuk mengembalikan barang (buku kalo ga salah), namun dijalan tersebut kebetulan sepi, dengan penerangan yang kurang terang, lalu ketika mereka bertemu, mereka berpapasan dengan seseorang sebut saja si Fulan, nah setelah kejadian itu, si Fulanah A digosipkan dengan laki-laki itu, bahwa mereka punya hubungan yang spesial, yang pada akhirnya berubah jadi fitnah. Alhamdulillahnya setelah kejadian itu, interaksi mereka jadi berkurang intensitasnya.
Kemudian akhir-akhir ini, aku mendengar berita yang tak enak didengar dari orang-orang tentang sahabatku, lalu aku pernah bertanya padanya “Ukh, memangnya interaksi kamu dengan si Fulan itu seperti apa? Kok bisa ada gossip yang beredar “begini..begitu… tentang kamu dan si Fulan?”. Dia menjawab, interaksinya dengan si Fulan biasa aja, walaupun saya tak pernah tahu fakta empirik yang sebenarnya seperti apa, namun karena aku percaya padanya (ini karena aku banyak belajar darinya), dia itu faham untuk hal-hal yang seperti itu (tentang menjaga interkasi-red), jadi aku tak akan memojokkannya dengan pertanyaan-pertanyaan lain yang menunjukkan seolah-olah aku tak percaya padanya dan malah membuat suasana semakin runyam.

Namun terlepas dari kepercayaanku pada kesalehan sahabat-sahabatku ini, aku punya asumsi, bahwa ketika suatu berita menguap, maka tak mungkin tak ada kontribusi mereka yang terlibat didalamnya, artinya, suatu fitnah bisa terjadi ya karena perilaku mereka juga, yang (maaf) kurang menjaga interaksinya dengan lawan jenis yang notabene non mahrom, yang pada akhirnya orang-orang berspekulasi, menyebarkan fitnah yang tak baik tentang sahabat-sahabatku ini.
Orang-orang yang awam, berdasarkan fakta dilapangan mereka itu sebenarnya memperhatikan gerak-gerik orang yang aktif di organisasi keislaman (aktivis dakwah). Dan setidaknya tingkah laku, sikap dan gerak-geriknya dijadikan standar kebenaran (atau apa ya istilahnya? Contoh? Atau teladan mungkin ya? Entahlah aku belum menemukan padanan kata yang cocok untuk istilah ini).
Ya begitulah, terkadang jika ada aktivis dakwah yang gerak-geriknya agak melenceng kadang dijadikan hujjah/legitimasi/pembenaran/dalil/asumsi untuk membenarkan sesuatu yang salah. Contohnya gini, Fulanah B dekat dengan Fulan C, mereka itu non mahrom, tapi pengakuan dari Fulanah B, si Fulan C itu kakak angkatnya, jadi interaksi yang terjadi selama ini antara Fulanah B dan Fulan C, menurut pandangan Fulanah B, itu wajar, kan hubungan kaka-adik, kenapa orang-orang malah buat fitnah yang keji tentang hubungan spesial antara dia dan Fulan C?
Tapi dalam pandangan orang awam, ada yang menyampaikan kalimat seperti ini (redaksinya berubah, tapi tak menghilangkan intinya: “Tuh kan dia aja yang akhwat membenarkan hubungan yang ga halal dengan (topeng) status kaka-adik, jadi apa salahnya pacaran?”
Sebenernya aku tak membenarkan semua hubungan antara laki-laki dan perempuan non mahrom yang melebihi batas-batas interaksi yang semestinya yang dibenarkan syara’. Kan duduk persoalannya jelas, Fulan C itu bukanlah Mahrom dari Fulanah B, apapun bentuk statusnya, kakak-adik kek, HTS kek, LDR kek (apalagi), tetep aja ga wajar, dan kemungkinan besar akan timbul fitnah, dan ini (mungkin) tak disadari oleh Fulanah B.
Sekali lagi aku tak akan menyudutkan Fulanah B, aku tak ingin hubunganku dengannya menjadi rusak, aku ingin menyadarkannya dengan cara yang lembut, aku nasehati dia untuk lebih menjaga interaksi dengan laki-laki manapun yang memang bukan mahromnya, agar tak timbul fitnah lagi, apalagi sampe mencemarkan nama organisasi keislaman yang sedang ia ikuti, ga banget kan?
Nah kejadian ini menjadi pelajaran bagi saya dan (semoga) bagi sahabat, agar lebih menjaga interaksi dengan lawan jenis (non mahrom), kalo emang ga penting, ya ga usahlah cari-cari alasan untuk berinteraksi dengan lelaki ajnabi, jaga izzah dan kehormatanmu, agar tetap anggun dimata Allah.
Saya (pribadi) telah mengazamkan diri, untuk bersikap hati-hati dalam berinteraksi dengan laki2 ajnabi, karena alasan itu kadang (bahkan seringnya) aku dikatain ga sopan, jutek, judes, sama laki-laki, namun selama dia memberi masukan yang membangun dan tak bermaksud buruk, aku ikutin nasehatnya dengan berkata lebih sopan dan ramah, tapi kalo dia sendiri udah dinasehatin tapi ga sadar2 juga, malah bikin jengkel, akhirnya aku tambah judesin dan kadang aku nyuruh dia ga usah hubungin aku lagi, galak memang, cuman ya gimana ya, ini udah konsekuensi sih, aku ga pengen merusak hatiku (menodai nya dengan harapan-harapan palsu yang mengecewakan) dengan berinteraksi berlebihan dengan lelaki ajnabi. Apalagi sms-an ga puguh. Ah #Modus lelaki memang begitu, PHP banget, sorry aku udah ga mempan sama trik licik bin culas lelaki murahan yang obral janji, rayu sana-sini.

Dalam islam sendiri udah jelas ya aturannya, kehidupan perempuan dan laki-laki itu terpisah, namun boleh tetap berinteraksi, dalam hal Muamalah, Kesehatan, Pendidikan. Selain itu ga boleh, dan ga usahlah ya, apalagi yang katanya aktivis dakwah, duuhhh ga banget deh ngelakuin itu.

Aku kutip kata-kata Ustadz Felix Siauw mengenai interaksi ikhwan akhwat ya :

1.         Seharusnya, ikhwan-akhwat itu hidupnya TERPISAH satu dan lain | maka sepantasnya tak ada interaksi yang tiada keperluan
2.            Bila telah putuskan untuk jaga kesucian hendaklah berserius diri | jangan barengi lagi dengan noktah yg dapat hitamkan hati
3.            Menyenangkan memang dengan lawan jenis bisa bersenda gurau | tanpa sadar keringlah iman laksana kerontang musim kemarau
4.            Pengakuan lisanmu bahwa engkau aktivis dakwah | namun lekat pandanganmu memandang si kerudung merah
5.            Engkau kumandangkan bahwa pacaran itu maksiat | sementara kata demi kata beracun terselip dibalik sms, chat, atau komentar yg kau surat
6.            Pembelaan dirimu, ini "cuma" koordinasi, ini cuma bercanda, ini "cuma" pengingat taat | hatimu yang tadinya murni kini mulai berkarat
7.             Dia berkerudung dan berjilbab, bukan berarti halal engkau melihatnya | menatapnya bukan cara hormati kemuliannya
8.            Kau katakan ini bukan pacaran, tapi jelas lebih dari sekedar teman | dusta, dusta, dan dusta kau topengkan alasan
9.            Godaan dibalik kata-kata engkau semat, dengan setan lisan kau sarat | bekelindan dengan maksiat, bersama setan kelak ditamat
10.        "uhibbuka fillah" dengan entengnya terucap, bagimu itu praktekkan sabda nabi | disitu setan menyesap, sekali lagi dosa diulangi
11.          Maksiat bertopeng dakwah | setan takkan pernah berhenti menggoda bahkan aktivis masjid muslim-muslimah
12.         Bila hendak jaga kesucian diri, mengapa tidak sesuci mungkin? | menampik setiap interaksi yang tak ada perlu itu penting
13.         Menjadi aktivis Islam berarti menjadi buku terbuka yang siap dibaca dan ditiru | bukan menunjukkan yang keliru
14.        Menjadi pengemban dakwah berarti harus lebih menjaga diri, bahkan dari fitnah yang bakal menerpa | amal dan kata beriring serta
15.         Tundukkan pandangan lebih utama, tahan interaksi tak perlu adl sikap terhormat | tak melembut-lembutkan suara, tentu lebih selamat
16.        Kalaulah Rasul pikir interaksi ikhwan-akhwat penting, tentu Islam takkan batasi pergaulan | tapi Islam utamakan pencegahan
17.         Agar tak terbayang paras yang bagimu belum halal | karenanya riya akan bayangi amal dan jadikannya amal yang batal
18.         Agar selamat dirimu dari zina hati dan mata | agar dakwahmu tertuju lurus pada Allah semata
19.        Hanya mengingatkanmu teman | bagiku engkau pengemban dakwah lebih utama dari yang lain | tentu cinta kami lebih bagi kalian
20.       Bagi kami, kalianlah etalase Islam | dan kami takan relakan kalian jadi bulan-bulanan musuh yang tak sukakan Islam

21.         Bersabar sebentar takkan matikan cinta | ia justru akan arahkan rasa | agar tak ada pilu redam di depan masa | istiqamah ya ^^

Nah tuh.. dah jelas kan ya? Apa masih butuh penguat lagi? Heheheh
Eits..bentar, daritadi ngomongin interaksi ikhwan-akhwat mulu ya? nah sebenarnya interaksi yang semacam itu, bukan hanya untuk ikhwan-akhwat (AD) aja, tapi masyarakat pada umumnya juga harus seperti itu dalam berinteraksi, namun memang kesadaran seperti itu belum muncul, entah masih terkubur jauh didalam hati sanubari ribuan miliaran kilometer dalamnya. Kalo yang Aktivis dakwahnya aja belum sadar, gimana yang masyarakat awam? Ya bisa terlihat dari cara berinteraksi sekarang seperti apa, bebas blasss tanpa batass…sungguh naas… ckckck

Jadi Kesimpulannya adalah jaga interaksi, jaga hati, jaga sikap dan perilaku kita, karena bukan hanya manusia saja yang memperhatikan, tapi malaikat dan Allah pun mendengar, melihat dan mengetahui apa saja yang kita lakukan.


NB : Mohon maaf kepada sahabat yang merasa pengalamannya aku ceritakan disini, kalo ada kekeliruan dalam penyampaian ceritanya, mohon dikoreksi ya, dan jangan disalahartikan sebagai “membuka aib”, jujur dari dalam relung hati yang terdalam, aku sayang kalian karena Allah, makanya aku pengen pengalaman kalian jadi pelajaran, “Jadikan Masa lalu seperti melihat Kaca Spion”



Love U For Allah's Shake


0 komentar:

 

Meninggalkan Jejak Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template