Senin, 30 September 2013
Pukul 13.00 sampai dengan selesai
Ruang G-04
Ceritanya lagi perkuliahan Ekonomi Manajerial, lagi bahas tentang Teori Kepuasan Konsumen,
Kriiik…Kriiikk….
Ceritanya (Lagi) Pak Dosennya ngejelasin konsep-konsep dalam teori kepuasan kosumen, blaa..blaa..blaa..
*tapi ada bahasan yang menurut aku menarik, makanya aku jadikan tulisan ini….cekidottt*
Kata Dosennya Gini, "Untuk barang Gratis kepuasan maksimal dicapai ketika MU (marginal utility) = 0, nah kalo barangnya punya harga berarti Kepuasan Maksimal dicapai ketika MU = P ini adalah perilaku konsumen yang rasional, artinya apa? seorang konsumen yang rasional akan berfikir pada batas-batas, Dia akan mengharapkan balasan (kepuasan) sesuai dengan yang dikorbankan (dalam hal ini harga (price)), ketika yang dikorbankan lebih besar dari kepuasan yang ia dapatkan, berarti dia tidak puas, dan akan selalu berusaha mencapai titik keseimbangan, yakni MU (Kepuasan) = P (Harga/Pengorbanan).
Nah bagi cewek, awas nih yang sering dikasih sesuatu apapun sama pacarnya, kalo pacar yang rasional, pasti dia akan mengharapkan imbalan/balasan sesuai pengorbanan yang ia keluarkan, misalnya pacarnya ngasih Emas 5 gram, masa pacarannya cuma ngobrol doang, pasti ga mau lah, pengen yang lebih, karena dalam ekonomi tidak ada bab Ikhlas (ia lah wong pelajaran ekonominya sekuler -_-") dan shadaqah, jadi selamat untuk dipikirkan aja ya" kata si bapak dosen
Aku yakin seyakin-yakinnya, yang statusnya pacaran dikelas tadi pasti tersinggung, ya paling ngga Jlebbb...jlebbb...jlebbb...gitulah kalo istilah Gaulnya jaman sekarang mah.
Ngemeng2 soal kepuasan, pak dosennya bagus banget deh nyontohin pacaran, iya seriuusss deh...coba tengok dilingkungan anda! udah nengok??
Eh engga, maksudnya bukan suruh nengok secara harfiah, tapi perhatikan deh pergaulan anak muda jaman sekarang, remaja yang ga pacaran dibilang aneh, yang pacaran dibilang lumrah, hmmmm... kebulak-balik-kebalik-bulak
Lalu apa hubungannya sama kepuasan? ia, seperti yang dicontohin pak dosen tadi, beliau kan bilang Kalo pacarnya ngasih sesuatu harus hati-hati, bisi ada maunya, bener bangeuuudhhh deh cius cumpah..? miapah? Mi ayam goreng plus telor ceplokksss…. Hehehe
Orang pacaran sekarang udah lumrah kan ya ngasih-ngasihan sesuatu, apa lagi sekarang mah ceweknya udah ngga malu-malu lagi minta sesuatu sama pacarnya, Mulai dari minta pulsa, boneka, coklat, uang, hape, motor, mobil, rumah (itu minta apa ngrampok ya?? wkwkwk)
Sang pacar yang udah ngrasa berkorban segalanya, pastilah dia minta balasan sesuatu (kepuasan) atas apa yang ia korbankan, maka tak ragu lagi dia minta sesuatu sama ceweknya, misalnya yang tadinya pacaran biasa-biasa aja, cuman ngobrol, jadi pengen megang tangan, pegang pundak, belai rambut, lalu selanjutnya *maaf* Kissing, semakin diporotin uang (harta) si pacar, dia pasti minta yang lebih Ekstrem (ML misalnya????) ya semua itu untuk mendapatkan kepuasan atas apa yang selama ini ia korbankan (Inget teori kepuasan konsumen diatas).
Waduuhh kalo udah gini, jadi repot kan?? Yang dirugikan siapa coba? Pastinya cewek lah, yang justru pengorbanan cowoknya itu ga ada apa-apanya dibandingkan dengan kepuasan yang ia dapatkan setelah merenggut kegadisan sang cewek malang ini.
Udah jadi rahasia umum ya sekarang banyak terjadi Kawin diluar Nikah (jangan ketuker), soalnya modus laki-laki sama atuh dimana pun ya kayak gitu, kan manusia yang Rasional?? Karena belum siap nikah, dan ga mau menanggung rasa malu, akhirnya sang jabang digugurin (waduh dosa besar tuh, Ngeriiii :-/)
Nah makanya jadi cewek jangan murahan ya, mau aja dirayu-rayu, pake bunga, coklat, atau embel-embel barang lain yang ga sebanding, iyyyuuuuwhhh ga banget deh, masa kehormatanmu bisa ditukar cuma dengan seikat mawar dan sebatang coklat sih? Terlalu murah sayang :-(
Sebelum terjadi semua itu kepadamu wahai ukhti, mulai lah mengambil keputusan sekarang, kalo kata ustadz @felixsiauw mah #UdahPutusinAjah, karena ya, dilihat dari segi apapun (apalagi dari kacamata Agama Islam), yang namanya pacaran itu merugikan, serius dehhh, tulisan ini dari awal hingga akhir melihat pacaran dari kacamata ekonomi, dan ternyata teori kepuasan konsumen ini linier sama fenomena yang banyak terjadi sekarang, dan teori ini banyak dipraktekkan oleh oknum cowok yang tidak bertanggung jawab demi mengeruk keuntungan yang sebesar-besarnya dengan menodai kehormatan cewek, duhh duhh daripada kamu jadi korban selanjutnya, mending #UdahPutusinAjah deh… cius… ini demi masa depanmu sayang…
Seuntai Nasehat ini ku layangkan karena aku mencintai Kalian karena Allah ♥
Senin, 30 September 2013
Sabtu, 28 September 2013
Sepotong Cerita tentang Hijrah-ku (Part III)
Sampe mana tadi ya aku cerita?? Sampe luupaaaa…… :D
Waktu awal aku semester 3, aku tertarik dengan salah satu UKM keislaman, namanya KALAM UPI, awalnya aku ga “Ngehh” dengan keberadaannya, ga nyangka aja aku tertarik ikut bergabung, awal mulanya gara-gara apa ya? #Hmmm… aku inget inget duluuu bentaar aja#
Jenggg jreeeenggg…………….!
Mungkin dulu karena aku sering diajak diskusi sama anggota Kalam mengenai berbagai isu-isu yang sedang hangat, mulai dari isu politik, ekonomi, pendidikan, dan masih banyak lagi. Namun uniknya, setiap akhir diskusi mereka selalu menyampaikan solusi islam untuk semua permasalahan, wahhhh unik juga aku pikir, soalnya jarang-jarang ada UKM yang berfikir politik islam seperti itu, dan dengan terang-terangan gitu ngomongnya.
#Cerita Hijabnya mana?
Oh iya sampe out of topic gini yaaa… hihi :D
Nah setelah ikut gabung, aku kan lagi semangat-semangatnya ya mengkaji islam, jadi aku ga dengerin apa kata orang, menurut slentingan2 sih banyak yang bilang Kalam itu sesat, padahal ahh engga kok, Kalam ga sesat, sesat dimananya coba?? #Ga ada yang bisa jawab!
Eh tuh kan OOT lagi “-__-
Iya aku banyak belajar di Kalam ini, apalagi tentang hijab, unik memang, di Kalam semua aktivis akhwatnya pake gamis semua, setiap hari, aku pikir ahh itu mah meureun cuman budaya aja, tapi eh tapi selidik punya selidik, semua itu berangkat dari pemahaman mereka tentang Hijab, mereka memaknai Kata Jilbab dalam Q.S Al-Ahzab ayat 59 sebagai baju kurung yang panjang sejenis jubbah (Indonesia dikenal dengan Gamis), bukan pakaian potongan, atau masyarakat indonesia lebih popular mengaitkan kata jilbab ini sebagai kerudung. Sedangkan kata Khimar dalam Q.S An-Nur ayat 31 mereka maknai sebagai Kerudung/penutup kepala sampai dada, aku fikir ini logis, dan dalilnya kuat.
Aku pun mulai mengikuti pendapat ini, yang menyatakan bahwa pakaian wajib bagi Muslimah ketika keluar rumah itu Jilbab dan Khimar, tapi terkadang aku sering bertanya-tanya, mengapa masih banyak yang beranggapan bahwa jilbab = kerudung, atau jilbab itu ga harus gamis, boleh potongan asal sesuai syarat-syarat seperti Tidak Tipis dan Ketat, Longgar, Tidak membentuk lekuk tubuh, dll?
Entahlahhh~
Terlepas dari perbedaan pendapat itu, aku punya hak untuk memilih pakaian mana yang harus aku pakai yang sesuai dengan syariat, dan yang pasti mengharap ridho Allah Subhanahu Wata’ala.
Sekian cerita tentang pencarian Hijabku yang telah ku tulis ini semoga bermanfaat. Apabila ada kebenaran disana tentu datangnya dari Allah, dan apabila ada kesalahan, tentu datangnya dari saya pribadi.
Diselesaikan di Bandung (Kosan Baru )
Pada tanggal 27 September 2013
Pukul 20:58 WIB
Waktu awal aku semester 3, aku tertarik dengan salah satu UKM keislaman, namanya KALAM UPI, awalnya aku ga “Ngehh” dengan keberadaannya, ga nyangka aja aku tertarik ikut bergabung, awal mulanya gara-gara apa ya? #Hmmm… aku inget inget duluuu bentaar aja#
Jenggg jreeeenggg…………….!
Mungkin dulu karena aku sering diajak diskusi sama anggota Kalam mengenai berbagai isu-isu yang sedang hangat, mulai dari isu politik, ekonomi, pendidikan, dan masih banyak lagi. Namun uniknya, setiap akhir diskusi mereka selalu menyampaikan solusi islam untuk semua permasalahan, wahhhh unik juga aku pikir, soalnya jarang-jarang ada UKM yang berfikir politik islam seperti itu, dan dengan terang-terangan gitu ngomongnya.
#Cerita Hijabnya mana?
Oh iya sampe out of topic gini yaaa… hihi :D
Nah setelah ikut gabung, aku kan lagi semangat-semangatnya ya mengkaji islam, jadi aku ga dengerin apa kata orang, menurut slentingan2 sih banyak yang bilang Kalam itu sesat, padahal ahh engga kok, Kalam ga sesat, sesat dimananya coba?? #Ga ada yang bisa jawab!
Eh tuh kan OOT lagi “-__-
Iya aku banyak belajar di Kalam ini, apalagi tentang hijab, unik memang, di Kalam semua aktivis akhwatnya pake gamis semua, setiap hari, aku pikir ahh itu mah meureun cuman budaya aja, tapi eh tapi selidik punya selidik, semua itu berangkat dari pemahaman mereka tentang Hijab, mereka memaknai Kata Jilbab dalam Q.S Al-Ahzab ayat 59 sebagai baju kurung yang panjang sejenis jubbah (Indonesia dikenal dengan Gamis), bukan pakaian potongan, atau masyarakat indonesia lebih popular mengaitkan kata jilbab ini sebagai kerudung. Sedangkan kata Khimar dalam Q.S An-Nur ayat 31 mereka maknai sebagai Kerudung/penutup kepala sampai dada, aku fikir ini logis, dan dalilnya kuat.
Aku pun mulai mengikuti pendapat ini, yang menyatakan bahwa pakaian wajib bagi Muslimah ketika keluar rumah itu Jilbab dan Khimar, tapi terkadang aku sering bertanya-tanya, mengapa masih banyak yang beranggapan bahwa jilbab = kerudung, atau jilbab itu ga harus gamis, boleh potongan asal sesuai syarat-syarat seperti Tidak Tipis dan Ketat, Longgar, Tidak membentuk lekuk tubuh, dll?
Entahlahhh~
Terlepas dari perbedaan pendapat itu, aku punya hak untuk memilih pakaian mana yang harus aku pakai yang sesuai dengan syariat, dan yang pasti mengharap ridho Allah Subhanahu Wata’ala.
Sekian cerita tentang pencarian Hijabku yang telah ku tulis ini semoga bermanfaat. Apabila ada kebenaran disana tentu datangnya dari Allah, dan apabila ada kesalahan, tentu datangnya dari saya pribadi.
Diselesaikan di Bandung (Kosan Baru )
Pada tanggal 27 September 2013
Pukul 20:58 WIB
Jumat, 13 September 2013
Jaga Interaksimu Ukhti!
Tulisan
ini terinspirasi dari kisah sahabat-sahabatku, mereka sempat mengalami fitnah
yang menurut analisaku disebabkan karena mereka kurang menjaga interaksi
dengan lawan jenis yang notabene non mahrom..
Si
Fulanah A pernah bercerita padaku, waktu itu ia sedang dekat dengan seorang
laki-laki (namun bukan hubungan pacaran), jadi (mungkin) interaksi mereka bisa
dibilang berlebihan untuk ukuran seorang akhwat-ikhwan (sebutan untuk aktivis
dakwah), sebelum fitnah itu muncul, sebenernya mereka udah sering interaksi,
dan aku sendiri pernah melihat mereka sedang berjalan berdua, waktu itu aku
gabung sama mereka, jadi kita berjalan bertiga, nah sampe pada suatu ketika
mereka janjian bertemu di jalan untuk mengembalikan barang (buku kalo ga
salah), namun dijalan tersebut kebetulan sepi, dengan penerangan yang kurang
terang, lalu ketika mereka bertemu, mereka berpapasan dengan seseorang sebut
saja si Fulan, nah setelah kejadian itu, si Fulanah A digosipkan dengan laki-laki
itu, bahwa mereka punya hubungan yang spesial, yang pada akhirnya berubah jadi
fitnah. Alhamdulillahnya setelah kejadian itu, interaksi mereka jadi berkurang
intensitasnya.
Kemudian
akhir-akhir ini, aku mendengar berita yang tak enak didengar dari orang-orang
tentang sahabatku, lalu aku pernah bertanya padanya “Ukh, memangnya interaksi
kamu dengan si Fulan itu seperti apa? Kok bisa ada gossip yang beredar
“begini..begitu… tentang kamu dan si Fulan?”. Dia menjawab, interaksinya dengan
si Fulan biasa aja, walaupun saya tak pernah tahu fakta empirik yang sebenarnya
seperti apa, namun karena aku percaya padanya (ini karena aku banyak belajar
darinya), dia itu faham untuk hal-hal yang seperti itu (tentang menjaga
interkasi-red), jadi aku tak akan memojokkannya dengan pertanyaan-pertanyaan
lain yang menunjukkan seolah-olah aku tak percaya padanya dan malah membuat
suasana semakin runyam.
Namun terlepas dari kepercayaanku pada kesalehan sahabat-sahabatku ini, aku punya asumsi, bahwa ketika suatu berita menguap, maka tak mungkin tak ada kontribusi mereka yang terlibat didalamnya, artinya, suatu fitnah bisa terjadi ya karena perilaku mereka juga, yang (maaf) kurang menjaga interaksinya dengan lawan jenis yang notabene non mahrom, yang pada akhirnya orang-orang berspekulasi, menyebarkan fitnah yang tak baik tentang sahabat-sahabatku ini.
Namun terlepas dari kepercayaanku pada kesalehan sahabat-sahabatku ini, aku punya asumsi, bahwa ketika suatu berita menguap, maka tak mungkin tak ada kontribusi mereka yang terlibat didalamnya, artinya, suatu fitnah bisa terjadi ya karena perilaku mereka juga, yang (maaf) kurang menjaga interaksinya dengan lawan jenis yang notabene non mahrom, yang pada akhirnya orang-orang berspekulasi, menyebarkan fitnah yang tak baik tentang sahabat-sahabatku ini.
Orang-orang
yang awam, berdasarkan fakta dilapangan mereka itu sebenarnya memperhatikan
gerak-gerik orang yang aktif di organisasi keislaman (aktivis dakwah). Dan
setidaknya tingkah laku, sikap dan gerak-geriknya dijadikan standar kebenaran
(atau apa ya istilahnya? Contoh? Atau teladan mungkin ya? Entahlah aku belum
menemukan padanan kata yang cocok untuk istilah ini).
Ya
begitulah, terkadang jika ada aktivis dakwah yang gerak-geriknya agak melenceng
kadang dijadikan hujjah/legitimasi/pembenaran/dalil/asumsi untuk membenarkan
sesuatu yang salah. Contohnya gini, Fulanah B dekat dengan Fulan C, mereka itu
non mahrom, tapi pengakuan dari Fulanah B, si Fulan C itu kakak angkatnya, jadi
interaksi yang terjadi selama ini antara Fulanah B dan Fulan C, menurut
pandangan Fulanah B, itu wajar, kan hubungan kaka-adik, kenapa orang-orang
malah buat fitnah yang keji tentang hubungan spesial antara dia dan Fulan C?
Tapi
dalam pandangan orang awam, ada yang menyampaikan kalimat seperti ini
(redaksinya berubah, tapi tak menghilangkan intinya: “Tuh kan dia aja yang
akhwat membenarkan hubungan yang ga halal dengan (topeng) status kaka-adik,
jadi apa salahnya pacaran?”
Sebenernya
aku tak membenarkan semua hubungan antara laki-laki dan perempuan non mahrom
yang melebihi batas-batas interaksi yang semestinya yang dibenarkan syara’. Kan
duduk persoalannya jelas, Fulan C itu bukanlah Mahrom dari Fulanah B, apapun
bentuk statusnya, kakak-adik kek, HTS kek, LDR kek (apalagi), tetep aja ga
wajar, dan kemungkinan besar akan timbul fitnah, dan ini (mungkin) tak disadari
oleh Fulanah B.
Sekali
lagi aku tak akan menyudutkan Fulanah B, aku tak ingin hubunganku dengannya
menjadi rusak, aku ingin menyadarkannya dengan cara yang lembut, aku nasehati
dia untuk lebih menjaga interaksi dengan laki-laki manapun yang memang bukan
mahromnya, agar tak timbul fitnah lagi, apalagi sampe mencemarkan nama
organisasi keislaman yang sedang ia ikuti, ga banget kan?
Nah
kejadian ini menjadi pelajaran bagi saya dan (semoga) bagi sahabat, agar lebih
menjaga interaksi dengan lawan jenis (non mahrom), kalo emang ga penting, ya ga
usahlah cari-cari alasan untuk berinteraksi dengan lelaki ajnabi, jaga izzah
dan kehormatanmu, agar tetap anggun dimata Allah.
Saya
(pribadi) telah mengazamkan diri, untuk bersikap hati-hati dalam berinteraksi
dengan laki2 ajnabi, karena alasan itu kadang (bahkan seringnya) aku dikatain
ga sopan, jutek, judes, sama laki-laki, namun selama dia memberi masukan yang
membangun dan tak bermaksud buruk, aku ikutin nasehatnya dengan berkata lebih
sopan dan ramah, tapi kalo dia sendiri udah dinasehatin tapi ga sadar2 juga,
malah bikin jengkel, akhirnya aku tambah judesin dan kadang aku nyuruh dia ga
usah hubungin aku lagi, galak memang, cuman ya gimana ya, ini udah konsekuensi
sih, aku ga pengen merusak hatiku (menodai nya dengan harapan-harapan palsu
yang mengecewakan) dengan berinteraksi berlebihan dengan lelaki ajnabi. Apalagi
sms-an ga puguh. Ah #Modus lelaki memang begitu, PHP banget, sorry aku udah ga
mempan sama trik licik bin culas lelaki murahan yang obral janji, rayu
sana-sini.
Dalam islam sendiri udah jelas ya aturannya, kehidupan perempuan dan laki-laki itu terpisah, namun boleh tetap berinteraksi, dalam hal Muamalah, Kesehatan, Pendidikan. Selain itu ga boleh, dan ga usahlah ya, apalagi yang katanya aktivis dakwah, duuhhh ga banget deh ngelakuin itu.
Dalam islam sendiri udah jelas ya aturannya, kehidupan perempuan dan laki-laki itu terpisah, namun boleh tetap berinteraksi, dalam hal Muamalah, Kesehatan, Pendidikan. Selain itu ga boleh, dan ga usahlah ya, apalagi yang katanya aktivis dakwah, duuhhh ga banget deh ngelakuin itu.
Aku
kutip kata-kata Ustadz Felix Siauw mengenai interaksi ikhwan akhwat ya :
1. Seharusnya, ikhwan-akhwat itu hidupnya
TERPISAH satu dan lain | maka sepantasnya tak ada interaksi yang tiada keperluan
2. Bila telah putuskan untuk jaga
kesucian hendaklah berserius diri | jangan barengi lagi dengan noktah yg dapat
hitamkan hati
3. Menyenangkan memang dengan lawan jenis
bisa bersenda gurau | tanpa sadar keringlah iman laksana kerontang musim kemarau
4. Pengakuan lisanmu bahwa engkau aktivis
dakwah | namun lekat pandanganmu memandang si kerudung merah
5. Engkau kumandangkan bahwa pacaran itu
maksiat | sementara kata demi kata beracun terselip dibalik sms, chat, atau
komentar yg kau surat
6. Pembelaan dirimu, ini "cuma"
koordinasi, ini cuma bercanda, ini "cuma" pengingat taat | hatimu yang
tadinya murni kini mulai berkarat
7. Dia berkerudung dan berjilbab, bukan
berarti halal engkau melihatnya | menatapnya bukan cara hormati kemuliannya
8. Kau katakan ini bukan pacaran, tapi
jelas lebih dari sekedar teman | dusta, dusta, dan dusta kau topengkan alasan
9. Godaan dibalik kata-kata engkau semat,
dengan setan lisan kau sarat | bekelindan dengan maksiat, bersama setan kelak
ditamat
10. "uhibbuka fillah" dengan
entengnya terucap, bagimu itu praktekkan sabda nabi | disitu setan menyesap,
sekali lagi dosa diulangi
11. Maksiat bertopeng dakwah | setan
takkan pernah berhenti menggoda bahkan aktivis masjid muslim-muslimah
12. Bila hendak jaga kesucian diri,
mengapa tidak sesuci mungkin? | menampik setiap interaksi yang tak ada perlu
itu penting
13. Menjadi aktivis Islam berarti menjadi
buku terbuka yang siap dibaca dan ditiru | bukan menunjukkan yang keliru
14. Menjadi pengemban dakwah berarti harus
lebih menjaga diri, bahkan dari fitnah yang bakal menerpa | amal dan kata
beriring serta
15. Tundukkan pandangan lebih utama, tahan
interaksi tak perlu adl sikap terhormat | tak melembut-lembutkan suara, tentu lebih
selamat
16. Kalaulah Rasul pikir interaksi
ikhwan-akhwat penting, tentu Islam takkan batasi pergaulan | tapi Islam
utamakan pencegahan
17. Agar tak terbayang paras yang bagimu
belum halal | karenanya riya akan bayangi amal dan jadikannya amal yang batal
18. Agar selamat dirimu dari zina hati dan
mata | agar dakwahmu tertuju lurus pada Allah semata
19. Hanya mengingatkanmu teman | bagiku
engkau pengemban dakwah lebih utama dari yang lain | tentu cinta kami lebih
bagi kalian
20. Bagi kami, kalianlah etalase Islam |
dan kami takan relakan kalian jadi bulan-bulanan musuh yang tak sukakan Islam
21. Bersabar sebentar takkan matikan cinta
| ia justru akan arahkan rasa | agar tak ada pilu redam di depan masa | istiqamah
ya ^^
Nah tuh.. dah jelas kan ya? Apa masih butuh penguat lagi? Heheheh
Eits..bentar, daritadi ngomongin interaksi ikhwan-akhwat mulu ya? nah sebenarnya interaksi yang semacam itu, bukan hanya untuk ikhwan-akhwat (AD) aja, tapi masyarakat pada umumnya juga harus seperti itu dalam berinteraksi, namun memang kesadaran seperti itu belum muncul, entah masih terkubur jauh didalam hati sanubari ribuan miliaran kilometer dalamnya. Kalo yang Aktivis dakwahnya aja belum sadar, gimana yang masyarakat awam? Ya bisa terlihat dari cara berinteraksi sekarang seperti apa, bebas blasss tanpa batass…sungguh naas… ckckck
Jadi Kesimpulannya adalah jaga interaksi, jaga hati, jaga sikap dan perilaku kita, karena bukan hanya manusia saja yang memperhatikan, tapi malaikat dan Allah pun mendengar, melihat dan mengetahui apa saja yang kita lakukan.
NB
: Mohon maaf kepada sahabat yang merasa pengalamannya aku ceritakan disini,
kalo ada kekeliruan dalam penyampaian ceritanya, mohon dikoreksi ya, dan jangan
disalahartikan sebagai “membuka aib”, jujur dari dalam relung hati yang
terdalam, aku sayang kalian karena Allah, makanya aku pengen pengalaman kalian
jadi pelajaran, “Jadikan Masa lalu seperti melihat Kaca Spion”
Love U For Allah's Shake
Sepotong Cerita tentang Hijrah-ku (Part II)
Lanjut ceritaku yang kemaren yaaaa…. Yuuuuuk ah tariik… (emangnya becak? Hihihi )
Aku inget banget waktu selesai registrasi akademik di gedung BAAK UPI, lalu diajak keliling fakultas untuk mengenal organisasi jurusan dan macam-macam UKM, baik yang Rohis maupun non-Rohis, aku senang sekali, teteh-tetehnya bageur pisan, dan aku lihat pakaian mereka yang Rohis agak berbeda denganku, aku memang pakai kerudung, tapi kok mereka panjang-panjang ya kerudungnya, dan pakaiannya itu longgar-longgar, kalem, anggun bangetlah (terbersit dalam hatiku ingin seperti mereka, namun karena keterbatasan yang aku miliki, aku belum memulainya juga sampai waktu yang telah ditentukan, hehe).
Aku inget-inget lupa, lupa-lupa inget gimana awal-mula aku pake kerudung panjang dan pakaian syar’i itu, tapi seingetnya aku sih, aku pernah memperhatikan cara berpakaian salah seorang sahabatku dikelas, dia itu beda sendiri dengan yang lainnya, “dia kok sama sih gaya pakeannya kayak mereka yang di Rohis?” #Celetukku dalam hati# Aku Tanya-tanya ke dia, soal manset yang dia pake, kaos kaki, kerudung panjang, dan lain-lainnya (lupa, hehe :D)
Semester 2 kalo ga salah aku mulai tuh melirik rak pakaianku, aku masih pake jeans waktu perkuliahan semester 1 (emang sih ga ketat, soalnya aku risih banget pake celana jeans ketat dan baju ketat (mungkin ini naluri kemuslimahanku yang kalem, hehe) cuman ah sama aja, ga syar’i kan?) Lalu aku mulai mengumpulkan pakaian muslimah dan rok, Alhamdulillah banyak juga yang respek sama perubahanku, jadi mereka yang respek itu ngasihin aku rok sama baju, Alhamdulillah…. ^_^"
Jadi aja aku seorang “Rok-er” eheheheh
Sejak saat itu aku mulai pakai rok terus (tentunya dengan baju muslimah dan kerudung), tapi memang baju-baju aku belum syar’I sempurna, kerudung juga masih pake kerudung paris yang notabene tipis (murahan sihhh, wkwkwk), tapi ya berproses lah ya perubahan itu, ga mungkin kan aku yang tadinya pake celana jeans langsung “Gedebug” pake cadar… heheheh
Nah karena sahabatku (yang pakaiannya beda sendiri sekelas itu) perhatian sama aku, dia bilang, “Walaupun kamu panjangin kerudungnya, tapi tetep terlihat aurat dan rambut kamu, soalnya kamu pake kerudungnya paris yang tipis, coba deh didouble, pasti ga kelihatan, dan tambah syar’I.” katanya
Nah mulai deh tuh aku coba double2in kerudung paris aku, dan hasilnya Alhamdulillah lebih syar’I :)
Aku bekalin ilmu islam dengan ikut kajian sana-sini, dan ketika mngontrak mata kuliah PAI, kan wajib ikut mentoring seminggu sekali, aku daftar yang BINDER, bukan yang REGULER, jadi memang ilmunya lebih mantap, kajiannya lebih dalam, dan Alhamdulillah dapat banyak pelajaran berharga dari ikut Binder ini ketimbang yang Reguler (mungkin :/)
Aku tambah mantap deh tuh dalam berpakaian (menutup aurat) layaknya seorang anak Rohis, heheh….. Tapi emang sih aku ikut Organisasi Keislaman waktu itu, ikut dijurusan jadi staff departemen kerohanian, di Fakultas ada semacam lembaga dakwah fakultas, Assalam Namanya jadi Staff Syiar. Alhamdulillah aku jadi terjaga keistiqomahan dalam menutup aurat, karena berteman dan dekat dengan orang-orang yang Shalehah, jadi kebawa-bawa juga shalehahnya (Aamiin…mudah-mudahan yaaa :))
Lanjut ke Part III ^_^"
Aku inget banget waktu selesai registrasi akademik di gedung BAAK UPI, lalu diajak keliling fakultas untuk mengenal organisasi jurusan dan macam-macam UKM, baik yang Rohis maupun non-Rohis, aku senang sekali, teteh-tetehnya bageur pisan, dan aku lihat pakaian mereka yang Rohis agak berbeda denganku, aku memang pakai kerudung, tapi kok mereka panjang-panjang ya kerudungnya, dan pakaiannya itu longgar-longgar, kalem, anggun bangetlah (terbersit dalam hatiku ingin seperti mereka, namun karena keterbatasan yang aku miliki, aku belum memulainya juga sampai waktu yang telah ditentukan, hehe).
Aku inget-inget lupa, lupa-lupa inget gimana awal-mula aku pake kerudung panjang dan pakaian syar’i itu, tapi seingetnya aku sih, aku pernah memperhatikan cara berpakaian salah seorang sahabatku dikelas, dia itu beda sendiri dengan yang lainnya, “dia kok sama sih gaya pakeannya kayak mereka yang di Rohis?” #Celetukku dalam hati# Aku Tanya-tanya ke dia, soal manset yang dia pake, kaos kaki, kerudung panjang, dan lain-lainnya (lupa, hehe :D)
Semester 2 kalo ga salah aku mulai tuh melirik rak pakaianku, aku masih pake jeans waktu perkuliahan semester 1 (emang sih ga ketat, soalnya aku risih banget pake celana jeans ketat dan baju ketat (mungkin ini naluri kemuslimahanku yang kalem, hehe) cuman ah sama aja, ga syar’i kan?) Lalu aku mulai mengumpulkan pakaian muslimah dan rok, Alhamdulillah banyak juga yang respek sama perubahanku, jadi mereka yang respek itu ngasihin aku rok sama baju, Alhamdulillah…. ^_^"
Jadi aja aku seorang “Rok-er” eheheheh
Sejak saat itu aku mulai pakai rok terus (tentunya dengan baju muslimah dan kerudung), tapi memang baju-baju aku belum syar’I sempurna, kerudung juga masih pake kerudung paris yang notabene tipis (murahan sihhh, wkwkwk), tapi ya berproses lah ya perubahan itu, ga mungkin kan aku yang tadinya pake celana jeans langsung “Gedebug” pake cadar… heheheh
Nah karena sahabatku (yang pakaiannya beda sendiri sekelas itu) perhatian sama aku, dia bilang, “Walaupun kamu panjangin kerudungnya, tapi tetep terlihat aurat dan rambut kamu, soalnya kamu pake kerudungnya paris yang tipis, coba deh didouble, pasti ga kelihatan, dan tambah syar’I.” katanya
Nah mulai deh tuh aku coba double2in kerudung paris aku, dan hasilnya Alhamdulillah lebih syar’I :)
Aku bekalin ilmu islam dengan ikut kajian sana-sini, dan ketika mngontrak mata kuliah PAI, kan wajib ikut mentoring seminggu sekali, aku daftar yang BINDER, bukan yang REGULER, jadi memang ilmunya lebih mantap, kajiannya lebih dalam, dan Alhamdulillah dapat banyak pelajaran berharga dari ikut Binder ini ketimbang yang Reguler (mungkin :/)
Aku tambah mantap deh tuh dalam berpakaian (menutup aurat) layaknya seorang anak Rohis, heheh….. Tapi emang sih aku ikut Organisasi Keislaman waktu itu, ikut dijurusan jadi staff departemen kerohanian, di Fakultas ada semacam lembaga dakwah fakultas, Assalam Namanya jadi Staff Syiar. Alhamdulillah aku jadi terjaga keistiqomahan dalam menutup aurat, karena berteman dan dekat dengan orang-orang yang Shalehah, jadi kebawa-bawa juga shalehahnya (Aamiin…mudah-mudahan yaaa :))
Lanjut ke Part III ^_^"
Kamis, 12 September 2013
Sepotong Cerita tentang Hijrah-ku (Part I)
Apa yang ada dibenak sahabat ketika mendengar kata Hijrah?? Ah..! mungkin akan dihubungkan dengan peristiwa hijrahnya Rasulullah dari Mekkah ke Madinah, bukan? Hehe
Memang benar, kata “hijrah” awal mula sejarahnya berasal dari peristiwa itu, namun kali ini aku ga akan bahas itu sobat, tapi ini mengenai pengalamanku dalam berhijrah, Berhijrah Dari Kejahiliyahanku.
Karena orang tuaku awam terhadap pengetahuan agama, sejak kecil aku ga pernah dipaksa untuk pake hijab, sampai SMA pun aku ga pernah disuruh pake, paling dipake juga pas sekolah aja, dari bangku SMP sampai SMA, didaerah tempat aku tinggal (Indramayu) memang diwajibkan bagi muslimah untuk memakai kerudung ketika sekolah (bahkan sekarang dari tingkat SD sampe SMA), namun ketika diluar sekolah, atau dirumah, aku tetap pada pakaianku yang biasa, kadang baju lengan pendek, dengan celana panjang, atau kadang rok, tanpa kerudung, dan itu sudah lumrah dilingkungan tempat aku tinggal. Ya begitulah itu terus terjadi, tanpa aku merasa itu sebuah dosa.
Suatu ketika aku diajak ikut kajian, entah apa nama jamaahnya (waktu itu aku masih awam terhadap gerakan-gerakan) aku ikut aja, disana membahas tentang bagaimana berhijab itu merupakan perintah Allah langsung dalam Al-Qur’an, jadi seorang wanita yang sudah baligh wajib menutup auratnya. Ini pertama kalinya aku mendapatkan materi ini, sejujurnya dari kecil aku ngaji aku ga pernah tau kalo berhijab itu memang perintah Allah yang ada dalam Al-Qur’an, ya aku fikir bahwa berhijab itu perintah agama cuma mitos, karena dalam realita kehidupanku dikampung sangat sedikit sekali yang mengamalkannya, minoritas bangetlah muslimah yang istiqomah pake kerudung, itu pun tak jarang dipadupadankan dengan celana, jadi memang dalam pandanganku sekarang mereka mungkin kurang syar’i, meskipun aku sangat menghargai usaha mereka dalam berhijab.
Awal-awal dapet materi berhijab itu aku sempet ga respek, entah mungkin Allah belum memberikan hidayah-Nya, atau memang hatiku yang terlalu keras sehingga tidak dapat menerima kebenaran (atau factor keduanya -_-). Aku masih ragu antara istiqomah berhijab atau berpakaian seperti biasa aja, masih galau, dilemma dan berbagai macam perasaan gundah gulana lainnya yang sejenis. Namun ketika perasaan itu muncul, aku tetap pada pakaianku yang biasa, aku pikir kalo aku berbeda gimana tanggapan orang-orang disekitarku, aku masih malu kalo dianggap asing, lagian semua orang juga pakaiannya sama kok kaya yang aku pake sekarang, yaudahlah ga usah dipikirin!
Karena berbagai kesibukan menjelang UN, dan pendaftaran masuk perguruan tinggi, aku sempet off dari kajian itu, ga ikut lagi udah cukup lama. Namun kadang masih suka ditanyain melalui sms.
Nah..setelah Lulus dari SMA, Alhamdulillah aku diterima dibangku kuliah disalah satu PTN dibandung, sejujurnya, PTN ini memang benar-benar PTN impianku sedari kelas 2 SMA dulu, dan Alhamdulillah Allah memperkenankan do’a dan harapanku, dan ternyata justru disinilah aku temukan hidayah itu, dan langkah awal menuju hijrahku…
Tunggu kelanjutannya di Part II ^_^"
Memang benar, kata “hijrah” awal mula sejarahnya berasal dari peristiwa itu, namun kali ini aku ga akan bahas itu sobat, tapi ini mengenai pengalamanku dalam berhijrah, Berhijrah Dari Kejahiliyahanku.
Karena orang tuaku awam terhadap pengetahuan agama, sejak kecil aku ga pernah dipaksa untuk pake hijab, sampai SMA pun aku ga pernah disuruh pake, paling dipake juga pas sekolah aja, dari bangku SMP sampai SMA, didaerah tempat aku tinggal (Indramayu) memang diwajibkan bagi muslimah untuk memakai kerudung ketika sekolah (bahkan sekarang dari tingkat SD sampe SMA), namun ketika diluar sekolah, atau dirumah, aku tetap pada pakaianku yang biasa, kadang baju lengan pendek, dengan celana panjang, atau kadang rok, tanpa kerudung, dan itu sudah lumrah dilingkungan tempat aku tinggal. Ya begitulah itu terus terjadi, tanpa aku merasa itu sebuah dosa.
Suatu ketika aku diajak ikut kajian, entah apa nama jamaahnya (waktu itu aku masih awam terhadap gerakan-gerakan) aku ikut aja, disana membahas tentang bagaimana berhijab itu merupakan perintah Allah langsung dalam Al-Qur’an, jadi seorang wanita yang sudah baligh wajib menutup auratnya. Ini pertama kalinya aku mendapatkan materi ini, sejujurnya dari kecil aku ngaji aku ga pernah tau kalo berhijab itu memang perintah Allah yang ada dalam Al-Qur’an, ya aku fikir bahwa berhijab itu perintah agama cuma mitos, karena dalam realita kehidupanku dikampung sangat sedikit sekali yang mengamalkannya, minoritas bangetlah muslimah yang istiqomah pake kerudung, itu pun tak jarang dipadupadankan dengan celana, jadi memang dalam pandanganku sekarang mereka mungkin kurang syar’i, meskipun aku sangat menghargai usaha mereka dalam berhijab.
Awal-awal dapet materi berhijab itu aku sempet ga respek, entah mungkin Allah belum memberikan hidayah-Nya, atau memang hatiku yang terlalu keras sehingga tidak dapat menerima kebenaran (atau factor keduanya -_-). Aku masih ragu antara istiqomah berhijab atau berpakaian seperti biasa aja, masih galau, dilemma dan berbagai macam perasaan gundah gulana lainnya yang sejenis. Namun ketika perasaan itu muncul, aku tetap pada pakaianku yang biasa, aku pikir kalo aku berbeda gimana tanggapan orang-orang disekitarku, aku masih malu kalo dianggap asing, lagian semua orang juga pakaiannya sama kok kaya yang aku pake sekarang, yaudahlah ga usah dipikirin!
Karena berbagai kesibukan menjelang UN, dan pendaftaran masuk perguruan tinggi, aku sempet off dari kajian itu, ga ikut lagi udah cukup lama. Namun kadang masih suka ditanyain melalui sms.
Nah..setelah Lulus dari SMA, Alhamdulillah aku diterima dibangku kuliah disalah satu PTN dibandung, sejujurnya, PTN ini memang benar-benar PTN impianku sedari kelas 2 SMA dulu, dan Alhamdulillah Allah memperkenankan do’a dan harapanku, dan ternyata justru disinilah aku temukan hidayah itu, dan langkah awal menuju hijrahku…
Tunggu kelanjutannya di Part II ^_^"
About Me
Gadis berumur 25 tahun (bulan april 2018 kemaren). Penyuka warna pink dengan berbagai macam gradasi-nya (tapi lebih suka baby pink sih :')
Suka baca buku, nge-blog, kontemplasi.
Suka baca buku, nge-blog, kontemplasi.
Langganan:
Komentar (Atom)

